
Zea dan Eden tiba di rumah Gabriel tepat saat Gabriel akan berangkat sekolah, mula-mula mereka bingung karena ada taxi yang datang menghampiri mereka, saat diketahui bahwa di dalam taxi itu adalah Zea,mereka semua kaget dan senang sekali.
Gabriel yang sudah didepan mobil malah tidak jadi masuk dan menghampiri Zea, Maggie pun juga menghampirinya, lalu Adnan juga dengan tergesa-gesa keluar dari mobilnya dan menghampiri Zea juga.Zea pun melambai dan berteriak memanggil mereka, sedangkan Eden hanya diam saja, seperti nya mereka semua belum sadar akan kedatangan Gabriel.
Setelah berpelukan, lalu Zea salim pada Adnan dan Maggie, dan untuk Gabriel Zea menyapa nya dengan tos. Saat itu pula mereka sadar akan kedatangan Eden, sontak mereka jadi diam mematung, entah karena ketampanan Eden atau bingung karena Eden siapa, dan mereka merasa wajahnya mirip seseorang.
Seketika juga Gabriel menunjukkan wajah yang cemberut, seperti nya Gabriel salah mengira Eden siapa dan Gabriel juga cemburu dengan Eden karena dia dekat dengan Zea dan lebih tampan dari nya.
"Eh.. Zea... Siapa anak ini?"tanya Adnan yang penasaran," Ouh.. Or is he your girlfriend, huh?" tambah Maggie yang bercanda.Ini membuat Gabriel makin cemberut dan menatap tajam Eden, tapi Eden tidak menggubris nya.
"Tidak Bibi, dia adalah kakak tiri ku yang tertua, namanya Eden" kata Zea, sembari memperkenalkan Eden.
"What?Ouh Eden, you are very handsome boy, you are very much like Anthony" kata Maggie yang shock sekaligus kaget tak percaya bahwa Zea datang ke sini akan membawa salah satu kakak nya.
"Ya, kau sangat mirip sekali dengan Anthony. Nak, kau bisa memanggilku Paman Adnan dan Ini Bibi Maggie, ini adalah anakku Gabriel" kata Adnan yang sama kaget nya seperti Maggie, dia pun memperkenalkan semua keluarga nya pada Eden.
"Halo kakak" kata Gabriel, sedikit demi sedikit raut wajahnya sudah membaik dan perasaannya juga sudah senang sekarang. Beda dengan Eden yang raut wajahnya menjadi kaget dan canggung dengan mereka.
"Halo juga"kata Eden yang bingung dan tidak tahu harus berkata apa, Zea juga merasa jika Eden tidak enak.Jadi setelah perkenalan singkat itu mereka semua masuk ke rumah Adnan,mereka semua duduk di sofa tepat ruang tamu. Lalu Maggie membuat kan mereka minuman hangat.
"Ini sayang, minumlah minumnya dulu, mumpung masih hangat"kata Maggie sembari meletakkan teh nya ke meja dengan senyuman yang lembut.
"Tumben Bibi bicara bahasa Indonesia" kata Zea sembari mengambil tehnya,diabingung dengan cara bicara Bibi nya itu, memang biasanya kan dia selalu menggunakan bahasa Inggris, tapi sekarang tidak.
"Ah Bibi, aku lupa. Eden-..Ah, maksudnya kakak bisa bahasa Inggris, jadi Bibi tidak perlu khawatir tentang itu" kata Zea, yah kalau di sini kan Zea harus memanggil Eden dengan sebutan kakak, untuk kesopanan saja.
"Ah I see, I think Eden doesn't know English" kata Maggie yang langsung menggunakan bahasa Inggris, dia pun tertawa kecil akan ucapan nya sendiri.
"Tentu, dia bisa berbahasa berbagai macam bahasa asing, iya kan kak?" kata Zea sembari melihat Eden, Eden pun langsung mengangguk kaku.
"Oh iya, I forget. Aku berangkat sekolah dulu ya kak, maaf aku tinggal" kata Gabriel yang menoleh pada Eden sembari berpamitan pada Maggie, kemudian dengan cepat Gabriel dan Adnan pergi. Zea hanya melambai pada mereka dan Eden mengangguk saja.
"Zea,Try taking Eden around for a bit, Auntie will make you some food" kata Maggie sembari mengedipkan matanya pada Zea, Zea pun mengangguk setuju. Jadi kemudian Zea dan Eden berjalan-jalan di sekitar komplek perumahan, Zea menyapa beberapa tetangga dan yang Zea kenal.
"Kau kenapa? Dari tadi diam saja?"tanya Zea yang sedang berjalan-jalan.
Tentu saja mereka kaget Zea pulang, lagi pula Zea pulang tidak sendirian, dia membawa seorang anak lelaki yang tampan, tentu saja wanita yang berpapasan dengan Eden langsung terpesona dengan nya,entah yang masih muda ataupun yang sudah tua, mereka tetap terpesona dengan Eden.
"Kau kenapa? Dari tadi diam saja?"tanya Zea yang sedang berjalan-jalan.
"Aku tidak apa-apa"kata Eden, ekspresi nya sekarang sudah lebih baik, tidak secanggung dan sekaku tadi.
"Benarkah? Terserah kau sajalah"kata Zea yang tidak tahu harus mengatakan apa, dia mengerti mungkin butuh waktu Eden agar dapat beradaptasi dengan Keluarga nya disini.
"Iya..Eum.. Zea"kata Eden pada Zea, Zea pun langsung berhenti berjalan dan memandang Eden menunggu pertanyaan Eden."Aku ingin mencari sihir itu setelah ini, kau bantu aku ya!" kata Eden pada Zea, Zea pun langsung mengangguk setuju.
"Tapi apakah kau akan langsung mengambil sihir itu sekarang?" kata Zea, karena bukannya Zea tidak mau membantu nya, ini karena terlalu cepat untuk Zea. Mereka kan baru saja tiba, paling Zea dan Eden harus menginap disini satu hari lah atau beberapa hari
"Tidak, aku hanya akan mencari dimana letak sihir elemen sihir air itu, aku tidak tahu daerah ini"kata Eden.
"Oh.. Aku kira kita akan langsung mengambil nya, baiklah kalau begitu. Ayo kita pulang, sepertinya Bibi sudah selesai memasak"ajak Zea, kemudian mereka berdua pergi pulang ke rumah. Dan sampai disana, Bibi Maggie sudah menyiapkan berbagai makanan yang lezat, Zea bahkan tergiur untuk menghabiskan nya
"I don't know your taste, so if it's not the same as in your world,so aku minta maaf ya, nak"kata Maggie dengan penuh kasih, dia memperlihatkan senyuman nya yang cantik nan ramah pada Eden, sedangkan Eden hanya membalas nya dengan senyuman tipis nya.
Jadi mereka semua makan makanan Maggie, Eden terlihat menikmati makanan yang Maggie buat, Zea juga sangat menikmatinya. Maggie senang melihat kedua bocah ini makan lahap. Setelah itu Zea dan Eden berpamitan kepada Maggie karena akan pergi, Maggie pun mengijinkannya.
Lalu mereka pun pergi dan Eden membawa beberapa benda-benda sihir didalam nya, Zea tidak tahu apa yang Eden bawa. Tapi Zea tahu kalau benda-benda sihir itu berguna untuk membantu mereka mengalahkan monster sihir itu,lalu Zea dan Eden pun berangkat ke kota untuk mencari lokasi elemen sihir.