
Saat Zea asyik melihat buku-buku dikamarnya,tiba-tiba ada yang masuk ke kamar Zea, dia anak perempuan yang sama seperti Zea yang tadi menatap Zea tajam, yang bernama Veronica. Dia langsung menghampiri Zea dan mulai berbicara dengan Zea.
"Hei, kau! Aku ingin berbicara denganmu!" kata Veronica sambil berhadapan dengan Zea.
"Apa?" kata Zea dingin sembari menatap anak itu, Veronica.
"Kau seharusnya tidak datang kesini, kau seharusnya di dunia manusia saja! Kau membuat ibuku sedih, dia tidak pernah seperti itu" kata Veronica dengan nada yang tinggi dan ekspresi yang marah.
"Lalu? Itu semua salahku, aku ikut kesini karena ajakan Ayah. Aku tidak tahu kenapa ibumu.. maksudku Ratu Charlotte seperti itu padaku" kata Zea tenang.
"Wah.. dasar tidak tahu malu, ya?Ibuku sedih karena ibumu, dia sudah merebut Ayahku. Ibumu itu,SANGAT JAHAT"kata Veronica kesal.
"Apa? Kau menghina ibuku, ya?Wah... Yang benar saja. Kau boleh menghinaku tapi tidak ibuku" kata Zea tegas.
"Aku tidak peduli, kalian manusia itu memang jahat, tidak berguna, bodoh, dan... " kata Veronica yang berhenti bicara mendengar perkataan Zea.
"Sudah cukup!Aku bilang cukup, Veronica! kata Zea dengan tatapan mengerikan dan tajam pada Veronica dan mata Zea pun bersinar serta keluarlah taring kecil Zea.
Veronica kaget melihat Zea, dia juga sedikit takut dan takjub melihat Zea seperti ini. Mereka berdua dalam waktu yang cukup lama mereka saling bertatapan. Sampai akhirnya terdengar suara pelayan yang memanggil mereka, pelayan itu pun kaget melihat Zea dan Veronica saling bertatapan mematikan itu.
Zea dan Veronica juga kaget dengan kedatangan pelayan itu, sontak saja mereka bersikap seakan tidak terjadi apa-apa.
"Permisi Tuan Putri, saya ke sini untuk menyampaikan bahwa Yang Mulia Raja menyuruh anda untuk turun" kata pelayan itu.
"Ohh, baiklah. Kami akan segera ke sana, kau bisa menyampaikannya begitu pada Ayah" kata Veronica.
"Baiklah, Tuan Putri. Saya permisi" kata pelayan sembari keluar dari kamar mereka berdua.
Zea dan Veronica bertatapan sebentar dan kemudian mereka turun bertemu Anthony,tapi disana Anthony tidak sendirian. Ia bersama Eden, Luis, dan Lucas, tapi tidak ada Ratu Charlotte di sana. Zea dan Veronica pun duduk di sana.
"Karena kalian sudah berkumpul disini Ayah ingin bicara langsung saja, ya. Ayah sudah bicara dengan Eden kalau Eden akan mengajarkan beberapa sihir pada Zea, khususnya pada matanya.Dan Eden akan dibantu oleh guru yang Ayah sudah Ayah siapkan" kata Anthony menjelaskan.
"Untuk Luis dan Lucas Ayah ingin kau membantu Zea juga,Dan untuk Veronica kau membeli pedang ke tempat pembuatan pedang bersama Luis dan Lucas, jadi kalian mengerti? " tambah Anthony.
"Kenapa harus aku?Harusnya, kan Luis dan Lucas saja" kata Veronica sambil memelas dengan muka cemberut.
"Jangan membantah perintah Ayah, Eden saja mau menurutinya" kata Anthony dengan nada tegas.
"Iya, Ayah" kata Veronica dengan wajah yang pasrah. Dalam hati Zea dia sangat bahagia dan senang melihat Veronica seperti itu.
Setelah perbincangan itu Zea, Veronica, Luis, dan Lucas pergi ke tempat pembuatan pedang. Disana sangat berisik sekali, karena banyak bunyi besi yang berkelontangan dan suara pukulan besi yang berisik.
Dia memiliki tubuh yang berotot dan mangut yang panjang dengan ikat kepala di rambutnya yang cukup panjang. Juga ia kelihatan ramah, tapi tampangnya cukup mengerikan.
"Ohh... Selamat datang Pangeran dan Tuan Putri" kata pria itu.
"Yeah, kau tetap sehat-sehat saja Mike" kata Luis dengan menepuk lengan Mike.
"Tentu saja, aku harus sehat Pangeran. Jika tidak bagaimana kalian mencari pedang" kata Mike Si Pembuat Pedang.
"Hahaha... kau sungguh lucu, Mike. Seharusnya kau tidak mengajak kami bercanda kau membuat kami lupa akan tugas kami"kata Lucas.
"Ahh... Aku tidak bermaksud begitu, Pangeran" kata Mike dengan nada lucunya, Dan saat itu pula Mike melihat Zea. Mike rasa dia tidak tahu jika ada Zea.
"Oh, Anda bukannya Tuan Putri Zea, ya? Wah...Maaf Tuan Putri saya tidak tahu anda ada disini. Mohon maafkan saya, Putri" kata Mike dengan nada yang kagum dan kaget.
"Tidak apa-apa, Jadi nama anda Mike, kan? " kata Zea berusaha bersikap asik dan ramah.
"Oh,iya,saya lupa memperkenalkan diri saya.Nama saya Mike Si Pembuat Pedang Terhebat di Kerajaan Echthra" kata Mike dengan membusungkan dada dan meninggikan suaranya.
"Cih, langsung saja seperti itu.Mike kami ke sini untuk mencari pedang yang bagus untuk Zea" kata Luis.
"Ohh, pedang yang cocok untuk Putri Zea. Kami akan mengukur Tuan Putri dulu, setelah itu kami buatkan pedang yang cocok untuk Putri" kata Mike sembari melihat dan mengamati Zea.
"Putri Zea, ayo ikut saya dulu. Ini hanya sebentar" kata Mike sembari menuju ke sebuah ruangan. Sedangkan yang lain pergi keluar rumah pembuatan pedang itu.
Zea memasuki sebuah ruangan yang sepertinya kantor pribadi milik Mike ini. Zea di suruh berdiri sementara Mike mengambil sebuah kotak yang cukup besar di atas lemari yang ada disana.
"Baikah, Puteri. Saya ingin Anda tunjukkan tangan kanan Anda! " kata Mike dengan tersenyum.
"Ohh, baiklah" kata Zea sembari mengangkat tangan kanan Zea dan Mike mulai mengukur tangan Zea. Alat pengukur itu seperti meteran di dunia manusia tapi warnanya perunggu dengan salah satu ujungnya berbentuk kepala naga. Dan juga dicocokkan besi apa yang bagus untuk Zea, serta hiasan permata yang cocoknya.
"Sudah selesai, Tuan Putri.Jika pedangnya sudah jadi, saya akan memberitahu Putri dengan surat dan setelah itu saya antarkan" kata Mike sembari merapikan barang-barangnya.
Kemudian Mike mengantarkan Zea keluar dan melihat Luis, Lucas, dan Veronica sedang menunggunya di luar. Katena, yeah, mungkin Veronica tidak suka Zea dari tadi dia diam terus. Zea juga sebenarnya memang tidak suka Veronica tapi ini membuat suasana diantara mereka canggung.
Setelah itu mereka pergi ke tempat baju, Zea terpana melihat semuanya. Sebab, disana terdapat baju-baju Eropa khusus berperang dan ada jubah kecil dan sarung tangan dan sepatu. Intinya sangat banyak sampai bingung mau pilih kemana.
Tapi ada untungnya Veronica ikut, karena dia sangat ahli dalam pakaian, walaupun dia memilihnya dengan muka yang masih cemberut. Zea disana membeli beberapa baju, jubah, sepatu,sarung tangan, sabuk berkantung, dan lain sebagainya.
Zea juga diajak ke tempat barbershop disana, menurut Veronica rambut Zea harus diganti gaya rambutnya,sebab dia hanya menggunakan gaya rambut kucir kuda. Veronica merasa itu tidak seperti modern saja jika di dunia ini, jadi gaya rambut Zea diganti dengan gaya rambut kerajaan kepang rambat.