Two Worlds Adventure

Two Worlds Adventure
Pertemuan Rahasia



"Aku tidak menyangka kau akan memborong semua itu" kata Zea pada Si Kembar, mereka bertiga sekarang sedang ke perjalanan pulang.


"Kenapa? Ini juga untuk sekalian, kan.Aku rasa Ayah menyuruh kita membeli alat ini agar dapat berkomunikasi dengannya" kata Lucas, dia sedang mengamati alat itu, yang berbentuk permata.


"Oh iya, mungkin juga ini dapat digunakan untuk kau dapat berkomunikasi dengan saudaramu di dunia manusia. Aku baru ingat kalau Ayah juga berkata ini untuk kepentinganmu juga" kata Luis.


"Aku juga merasa begitu, tapi dengan ini kita dapat melihat Ayah jika Ayah pergi jauh" kata Zea, mereka sudah setengah perjalanan dan kemudian saat yang tidak terduga ada yang menabrak Zea, dia juga berbisik padanya, 'Ikuti aku'.


Ini suara Morin, dia disini? Bagaimana mungkin, ataukah surat yang Zea kirimkan. Apakah Si Kembar tahu ini Morin, Lucas dapat melihat sihir orang lain, kalau Lucas melihat sihir milik Morin yang warnanya merah pasti juga akan ketahuan, kan. Untung saja saat Morin menabrak Zea, Si Kembar tidak tahu ada yang menabraknya.


"Hei! Aku ada urusan kalian duluan saja!" kata Zea, dia berusaha agar tidak mencurigakan.


"Urusan apa? Biar kami temani" kata Lucas, dia bingung dengan tingkah Zea.


"Itu, aku ada urusan saja. Kalian juga pasti sibuk, kan? Aku.. hanya.. tidak mau... merepotkan kalian.Ya?Kalian duluan saja!" kata Zea, dia bingung mau bicara apa. Takut Luis dan Lucas curiga padanya.


"Hmm.... Baiklah, tapi jangan lama-lama! Kami duluan, ya" kata Luis, kemudian dia mengacak-ngacak rambut Zea dan pergi, setelah memastikan Si Kembar pergi jauh, Zea melihat sekeliling mencari Morin.


Morin rupanya ada di samping jalan, lalu setelah Zea melihat Morin, Morin pun langsung memberi kode untuk agar mengikutinya tapi dengan jarak yang jauh. Agar Zea juga tidak ketahuan, dia memakai tudung di jubahnya agar tidak ketahuan oleh semua orang.


Morin berjalan ke tempat yang sepi, Zea sedikit takut, tapi dia memberanikan diri. Dia memasuki rumah berpenduduk, jadi padat sekali, tapi lama kelamaan makin lama Zea berjalan, dia sampai ke tempat yang sepi, hanya satu dua orang yang lewat. Saat itu pula Morin berhenti juga.


"Sudah sampai, kau bisa mendekatiku sekarang" kata Morin, lalu dia melepaskan tudung dan masker penutup wajahnya. Zea pun mendekati Morin, dia juga membuka tudung miliknya. Dan perkataan Zea yang pertama adalah.


"Kau membaca suratku?"tanya Zea, itu hal pertama yang dia tanyakan, dia kira kan Morin mengacuhkannya.


"Menurutmu? Kau tahu tidak susahnya aku ke sini? Kau memang merepotkan" kata Morin, dia berdecak malas pada Zea.


"Bukankah kau yang pertama kali mulai? Dimana kalungku?"tanya Zea, dia tidak mau basa-basi lagi, Zea juga takut ketahuan.


"Aku akan memberikannya, minum ini!" kata Morin sembari mengambil sebuah botol kecil, mirip dengan ramuan dan memberikannya pada Zea. Zea ragu-ragu mengambil itu, wajar saja, mereka kan musuh, mana mungkin saling percaya.


"Ini racun? Aku tidak mau meminumnya" kata Zea, dia tidak mengambil botol kecil itu dan langsung buang muka.


"Bukan, ini bukan racun. Jika aku membunuhmu, aku juga akan dibunuh, kan? Apa untungnya bagiku?" kata Morin, dia juga tertawa kecil karena Zea berpikiran seperti itu.


"Lagi pula jika aku membunuhmu itu tidak akan ada gunanya, Kerajaan Echthra juga akan baik-baik saja jika tidak ada kau"tambah Morin.


"Terserah kau, tapi aku tetap tidak mau minum, jangan basa basi lagi! Aku mau kalungku! Cepat berikan padaku!" kata Zea tidak sabar.


"Kau minum dulu, agar aku percaya ini bukan racun" kata Zea, dia toh harus memastikan ini bukan racun, kan, ini juga untuk berjaga-jaga.


"Baiklah,lihat ini"kata Morin sembari membuka tutup botol dan mulai menenggaknya sedikit.


" Lihat, aku baik-baik saja, kan?"kata Morin, dia memang terlihat baik dan biasa saja, tidak ada reaksi apa pun juga.


"sekarang kau minum! Atau... Kau tidak dapat memiliki kalung ini" kata Morin seraya memperlihatkan kalung milik Zea. Zea yang ingin sekali mendapatkan kalung itu, tanpa pikir panjang langsung mengambil minuman itu dari Morin dan mulai menenggaknya dengan cepat, rasanya aneh sekali, hambar dan rasa yang tidak pernah Zea rasakan.


"Aneh.. Kau yakin ini bukan racun, kan?" kata Zea memastikan lagi, dia masih takut itu racun atau bukan.


"Tidak, dari tadi kau lihat aku baik, kan?Sesuai janjiku.. Ini kalungmu dan aku peringatkan kau untuk berhati-hati.Mungkin aku akan mengambilnya lagi" kata Morin, lalu dia memberikan kalung milik Zea.


"Kau beneran memberikan ini padaku?" kata Zea, dia tidak percaya Morin akan menepati janjinya.


"Rubah tidak akan pernah ingkar janji, Aku pergi" kata Morin, lalu dia pergi meninggalkan Zea dengan memakai tudung dan masker, sedetik kemudian dia sudah terbang meloncat ke atas, dia berlari di atap rumah penduduk dan kemudian pergi.


Zea masih mencerna pikirannya itu, "Aku kira dia serigala, soalnya mirip. Akh.. terserah, yang penting aku mendapatkan kalungku lagi, aku akan menyimpannya saja, aku tidak akan memakainya lagi" kata Zea, dia bicara sendiri. Lalu Zea pun pergi dari tempat itu.


Untung Zea hafal jalan pulangnya, kalau tidak mungkin sudah tersesat di situ. Zea pulang sendiri, lalu setelah sampai di istana hari sudah menjelang sore dan Anthony juga sudah selesai berkemas, Zea jadi sedih lagi. Tapi tidak apa, dengan alat yang baru di beli, Zea dapat berkomunikasi dengan itu.


•••


Keesokan harinya, tepat saat Anthony akan pergi semua orang mengantarkan Anthony, Zea sedih karena di akan ditinggal lama kali ini, biasanya cuma pergi satu atau dua hari, tapi ini seminggu atau mungkin lebih. Alat itu juga sudah dibagi, Anthony memiliki alat itu satu, bentuknya yang batu permata.Sedangkan Charlotte memilikinya juga, tapi dia yang berbentuk cermin.


Untuk yang baru dibeli kemarin itu ada enam, Zea satu yang berbentuk batu permata,Si Kembar dua, Luis yang berbentuk batu permata sedangkan Lucas uang cermin.Lalu Eden berbentuk batu permata juga dan Veronica uang berbentuk cermin. Zea juga mengirimkan pada Gabriel, dia mengirimkan yang berbentuk cermin. Jadi masing-masing satu, yang Luis dan Lucas beli pada juga, pikir Zea.


Anthony memeluk semua orang di sana, Ratu Charlotte, Eden, Si Kembar, Veronica, dan terakhir Zea.Karena ini pertama kali Zea ditinggal lama,dia memeluk Zea paling lama, ini membuat Ratu Charlotte dan Veronica kesal.


Tibalah saatnya Anthony pergi, dia pergi dengan Billy dan beberapa prajurit tambahan yang terpilih, dia menggunakan kereta kerajaan. Mereka semua melambaikan tangan kepada Anthony dan Anthony pun membalas lambaian tangan mereka dengan melakukan hal sama dan tersenyum. Mungkin seminggu ini Zea tangan akan paling banyak menghubungi Anthony.





'Pesan dari author,pertama author berterimakasih bagi yang sudah membaca cerita ini, author berterimakasih sekali 🙏🥰. Mulai besok seminggu paling tidak seperti nya author tidak akan UP, atau mungkin jarang. Author ada urusan selama seminggu itu, Terimakasih yang sudah baca dan Maaf🙏🙏. Sampai jumpa seminggu Kemudian😘🤗😊'