The Truth Untold

The Truth Untold
Chapter 6: Run



Kelas dr. Jeon baru saja usai lima belas menit yang lalu. Sebagian mahasiswa telah beranjak keluar, berbincang tentang menu makan siang mereka. Namun, sebagian lagi masih setia berada di dalam kelas.


Mahasiswa semester pertama memang lebih sering menggunakan ruang kuliah umum yang besar. Susunan meja di kelas itu bertingkat. Ada celah tangga sebagai pemisah baris satu dengan baris lainnya. Deretan kursi akan bertambah pada setiap tingkatnya. Jika dilihat dari kursi dosen, ruang tersebut mirip dengan kurva yang menghadap ke bawah. 


Sisi pojok atas adalah tempat paling strategis yang menjadi favorit, terutama saat lelah, tetapi tak ingin melewatkan absensi. Meski begitu, Hoseok tak pernah mengambil tempat tersebut. Dia lebih suka duduk di tengah atau pojok depan.


Setelah memasukkan catatannya ke dalam tas, Hoseok merenggangkan tubuh. Dia menggerakkan kepala hingga terdengar bunyi yang membuat Namjoon meneleng.


"Jangan terlalu sering melakukan hal seperti itu. Kau ingin merusak sendi-sendimu sebelum waktunya?" kata Namjoon.


"Aku baik-baik saja," balas Hoseok.


Namjoon hanya mengedik, membiarkan Hoseok fokus pada ponselnya. Lelaki itu memandang aplikasi pesan singkat cukup lama. Ibu jarinya bergerak, mengetik kalimat yang terlintas di kepala. Namun, tak pernah selesai karena dia terus menekan tombol silang.


Percakapan dengan Jimin benar-benar mengusik Hoseok. Semalaman dia berpikir untuk bisa mengakhiri kebodohannya. Dia berusaha yakin, tetapi ragu begitu kurang ajar mempermainkan isi hatinya.


"Semalam ... aku menghubungi Saerin," ucap Namjoon. Terdengar lembut.


Hoseok meletakkan ponselnya di atas meja, melirik pada Namjoon yang tengah tersenyum semringah.


"K-kau meneleponnya?" tanya Hoseok.


Namjoon mengangguk. "Dia sangat menyenangkan. Aku bahkan lupa berapa lama kami berbincang."


Namjoon terus mengisi percakapan dengan pujian untuk Saerin. Setiap kata yang terurai mendadak terdengar bagai dengung kumbang musim panas di telinga Hoseok. Mata sang sahabat memancarkan binar kekaguman yang berbeda. Hoseok menangkap sinyal tersebut. Lelaki itu memandang datar layar ponselnya, menekan tombol "hapus" sebelum memasukkan benda tersebut ke dalam kantong celana.


"Apa menurutmu ... Saerin akan suka padaku?" Pertanyaan pamungkas Namjoon menghentikan pusaran tanya dalam kepala Hoseok. Dia menengok sang sahabat, mengulas satu senyuman.


"Mungkin saja. Meski, dia gadis yang sangat pemilih," jawab Hoseok sambil tertawa kecil.


Ada decak pelan dari mulut Namjoon, tetapi tak melunturkan kurva bibirnya. "Aku akan membuatnya memilihku."


Hoseok mendengkus pelan. Dia kembali mengurai tawa kecil yang dipaksakan, menerobos batas kepasrahan. Kegamangan terpendamnya telah terjawab oleh kelugasan Namjoon. Pemenang selalu selangkah di depan, sedangkan pecundang kalah dengan asumsi.


"Aku akan mengajaknya berkencan akhir pekan ini. Kau harus mendukungku."


Namjoon menyenggol lengan Hoseok dan hanya dijawab Hoseok dengan anggukan kecil. Hoseok melirik langit-langit ruang kelas. Ada jaring laba-laba di tepi yang samar-samar terlihat. Mungkin, sengaja tak pernah dibersihkan karena terlalu tinggi untuk digapai.


Namjoon mengernyit melihat respons diam Hoseok. "Kau kenapa? Ada yang salah?"


Hoseok menggeleng. "Akhir-akhir ini aku hanya lelah. Tugas kita terlalu banyak." Lelaki itu mengakhiri kalimatnya dengan senyum tipis.


"Benarkah? Bukan karena kau memikirkan ceritaku?"


Hoseok mendelik, menatap lurus Namjoon beberapa detik. "Apa maksudmu?"


"Siapa tahu kau juga menyukai Saerin," balas Namjoon.


"Kami bersahabat. Tidak lebih."


Namjoon mendengkus. "Bagaimana kau bisa hanya bersahabat dengannya? Kalau aku jadi kau, sudah kujadikan dia pacar sejak hari pertama kenal."


Hoseok tersenyum miris. Kata-kata tersebut menghunjamnya. Hoseok terlambat. Dia menyadari bahwa Saerin berarti justru setelah Namjoon dengan tegas memperjuangkan rasa suka sejak awal.


"Apa ada gadis lain yang dekat denganmu selain Hana dan Saerin?" tanya Namjoon lagi.


"Tidak ada," sahut Hoseok. Keduanya berbalas seringai dalam hening.


Hoseok membiarkan suasana yang sedikit panas itu berlalu dalam beberapa detik. Lalu, dia menjawab setenang air di danau. "Aku bukan lelaki yang cocok menjadi pasangan Saerin. Kami sudah terbiasa dengan hubungan persahabatan kami. Masih banyak yang lebih baik dari aku untuk bersama Saerin."


Getir sendu itu berusaha Hoseok tutupi. Dia mengalihkan pembicaraan, mengeluarkan buku referensi untuk dasar teori laporan biokimia mereka.


Suasana kelas mulai sedikit ramai oleh bisik-bisik mahasiwa. Ada yang turun dari deretan kursi bagian paling atas dengan teriakan keras sehingga menarik perhatian. Dia bahkan berjingkrak-jingkrak hingga hampir tersandung kaki meja dosen.


"Kelas siang ini libur!"


Hoseok mengeluarkan ponsel. Ada notifikasi pesan yang memberitahukan bahwa istri dr. Lee pakan melahirkan anak ketiga dan kelas diganti minggu depan.


"Hoseok-ah," panggil Namjoon. "Apa kau tidak tertarik pada Hana?"


Alis Hoseok menaut. Tidak ada kata yang terucap dari bibir Namjoon. Namun, pandangan lelaki itu mengarah ke depan kelas, menarik Hoseok merotasikan mata. Dia mendapati sosok Hana yang tengah berbincang dengan kawan sekelas mereka. Gadis itu menyampirkan tas di bahu. Senyum yang terlukis di wajahnya terlihat begitu tulus.


Namjoon menepuk pelan pundak Hoseok tepat saat tatapannya terfokus pada gerakan Hana yang menyibak rambut ke belakang daun telinga.


"Dia sudah lama memperhatikanmu." Namjoon tertawa kecil. "Lagi pula, aku sudah bosan mendengarnya mengoceh tentangmu setiap malam. Jadi, segera kau dekati dia!"


Hoseok bergeming. Dia berusaha mencerna setiap perkataan Namjoon, sementara sang sahabat menggeser badan agar lebih dekat dengannya.


"Dalam tiga detik, dia akan menoleh dan tersenyum padamu."


Hoseok mendorong pelan tubuh Namjoon, membuat spasi di antara mereka. Namun, sahabatnya itu seakan-akan tak terpengaruh. Dia menghitung dengan jari. Pada hitungan terakhir, mata Hoseok secara refleks mencari keberadaan Hana.


 


"Aku punya rencana bagus!" seru Namjoon. Lelaki itu mendekatkan wajah pada telinga Hoseok. Dia berbicara tanpa suara. Pada akhir kalimatnya, Hoseok membelalak.


"Kau gila!" jerit Hoseok.


Namjoon tampak tak peduli. Dia hanya meninju pelan pundak Hoseok, lalu menarik sang sahabat untuk mengikutinya.


...***...


Setelah terdengar suara pintu terbuka, pemandangan pertama yang terlihat oleh Hoseok adalah interior yang didominasi oleh warna putih. Di sisi kiri ada beberapa high heels dan converse yang tersusun rapi di rak.


Hana melangkah ke ruang tengah setelah meletakkan sepatu. Hoseok dan Namjoon mengikuti dari belakang. Gadis itu menyuruh mereka duduk di sofa panjang berwarna cokelat muda. Tepat di atas tempat dia duduk, sebuah lukisan pria menunggang kuda menjadi penghias flat yang terlihat minimalis tersebut. Hana berjalan menuju dapur yang berjarak sekitar lima langkah dari ruang tengah. Mata Hoseok tak lepas dari pergerakan sang gadis yang sedang memanaskan air sembari menyiapkan dua cangkir putih.


Untuk pertama kali, Hoseok mengunjungi flat Hana. Gadis itu memang tak pernah banyak bercerita tentang kehidupan pribadinya selain cita-cita ingin hidup sendiri. Keinginan tersebut terwujud sebulan lalu setelah argumen panjang dengan orang tuanya.


"Aku akan menjalankankan rencana kita," bisik Namjoon. Lelaki itu berdiri lalu meninggalkan Hoseok.


"Sepertinya aku butuh camilan. Aku akan ke supermarket di depan."


Hana yang terlalu fokus dengan kegiatannya tak sempat merespons Namjoon. Lelaki itu telah melangkah ke luar. Hoseok sangat ingin merutuk Namjoon. Tanpa diskusi panjang dengannya, lelaki itu mengajak Hana untuk mengerjakan laporan biokimia mereka yang akan dikumpul minggu depan. Beralasan bosan dengan suasana perpustakaan, sahabatnya itu mengusulkan apartemen sang gadis sebagai tempat belajar. Alasan itu adalah bagian dari akal-akalan Namjoon untuk mendekatkannya dengan Hana. Seminggu yang lalu Namjoon bercerita bahwa dia telah membeli permainan virtual reality. Hoseok yakin lelaki itu tengah bersenang-senang di rumah sambil mentertawakan kondisinya saat ini.


"Apa Namjoon menghubungimu? Kenapa dia belum kembali?" tanya Hana sembari memberikan cangkir teh jahe pada Hoseok.


"Sepertinya, kau harus mengecek ponselmu."


Hoseok mengusap tengkuk, sedangkan Hana mendesah pasrah setelah baris terakhir pesan Namjoon selesai dia baca.


"Dia juga mengirimu pesan?" Hoseok mengangguk.


"Padahal dia sendiri yang mengajak kita mengerjakan tugas. Sepuluh menit yang lalu dia masih baik-baik saja. Aku tidak pernah percaya dengan alasan sakitnya!"


Tanpa sadar Hoseok tertawa. Mengomel bukanlah kebiasaan Hana. Setelah beberapa lama mengenal gadis itu, dia baru menyadari bahwa Hana memiliki sisi unik yang menarik.


"Kurasa ... kita tetap bisa mengerjakan laporan tanpa dia. Kita sisakan bagian perhitungan. Anggap saja itu hukuman untuknya," ucap Hoseok, membuat Hana tertawa. Poni yang disampirkan ke kanan terjurai menutupi wajahnya. Mata menyipit itu sempat menghipnotis Hoseok sebelum suara sang gadis menarik kembali kesadarannya.


"Aku ke kamar dulu, mengambil laptop."


Hana beranjak, menyisakan siluet yang hilang setelah sang gadis masuk ke kamar. Hoseok segera menarik cangkir teh jahenya dan menghabiskan dalam sekali teguk. Meski rasa panas masih sedikit mendominasi, tetapi dia tak begitu memedulikan.


Pikirannya berpusat pada rahasia-rahasia yang Namjoon ungkapkan padanya. Dia tak pernah berpikir bahwa setiap kotak bekal makan siang yang Hana berikan atau tawaran catatan rapi saat dia tertinggal mengikuti presentasi dosen adalah bentuk ketertarikan gadis itu. Bayangan hubungan pertemanannya berputar begitu cepat layaknya pita kaset yang hampir kusut. Terlintas dalam benak Hoseok untuk memutar balik arus yang menerjangnya. Namun, apakah tepat jika sekarang dia mengambilnya?


Gadis itu sudah mengganti kemeja dengan kaus merah polos yang sedikit lebih besar dari ukuran tubuhnya. Dia menaruh laptop di meja tepat di depan sofa. Tinggi meja itu tak sampai setengah panjang betisnya. Hoseok turun dari sofa, duduk di atas karpet. Dia mengeluarkan kertas.


"Kau cari jurnal-jurnal lain untuk dasar teori. Aku akan mencatat bagian-bagian yang nanti kita tulis di laporan," ucap Hoseok. Hana mulai mulai mencari referensi jurnal setelah laptop terkoneksi dengan jaringan internet. Jemari gadis itu bergerak cepat di atas kibor, menjadi remote yang mematikan waktu di sekitar Hoseok.


"K-kau memperhatikanku?" tanya Hana setelah tiga kali panggilannya pada Hoseok tak diindahkan.


Lelaki itu mengangguk, membuat Hana tak sengaja menyenggol pena. Gadis itu mengalihkan wajah, mencari pena yang tiba-tiba tak terlihat. Bukan pena yang dia dapat, gadis itu justru merasakan usapan pada punggung tangannya. Tampak urat kebiruan yang muncul saat usapan itu berubah menjadi genggaman.


Hana menunduk. Namun, dia bisa merasakan embusan napas yang makin dekat. Sebelah tangan lelaki itu menarik wajahnya, membuat mereka bersitatap.


Tetes air dari keran sampai pada liang pendengaran mereka. Meja berderit saat Hoseok menggeser siku. Ruang di antara mereka seakan menyempit hingga Hana kesulitan mengatur napas.


"Apa kau menyukaiku?" tanya Hoseok. Pertanyaan spontan itu membuat Hana menggigit bibir. Tangannya mencengkeram kuat ujung kaus. Dia terus menghindari tatapan Hoseok, tetapi iris legam itu selalu berhasil mengurungnya.


"Aku ingin tahu perasaanmu yang sebenarnya. Bukan dari mulut Namjoon."


Degup jantung Hana berdetak begitu cepat, seakan bisa mengalahkan kecepatan citah berlari.


"A-aku ...," Hana terdiam sesaat. "Aku memang menyukaimu," ucap gadis itu dalam satu embusan napas.


Hoseok merengkuh wajah Hana. Gadis itu bisa merasakan usapan di atas permukaan kulitnya. Mereka memadu tatap cukup lama hingga jarak keduanya makin menipis. Hana memejam saat merasakan pangkal hidungnya bertemu dengan milik Hoseok. Tak ada suara ataupun pergerakan dalam rentang detik yang cukup panjang, lalu gadis itu membuka mata. Hoseok menghela napas, lalu memberi jarak.


Dia memalingkan wajah, berhenti menatap Hana yang kini kebingungan.


"Maafkan aku, Hana. Aku belum bisa membalas perasaanmu."


Pandangan Hana kosong. Bahunya merosot seperti ada seutas tali yang menarik jiwanya keluar dari tubuh. Hana sadar betul perkenalan dia dan Hoseok belum lama. Pun, selama ini Hoseok selalu menganggap perhatiannya seperti sahabat biasa.


"Aku mengerti," sahut Hana lirih. "Kau tak harus membalas perasaanku."


Sang gadis memberanikan diri. Sebelah tangannya menyentuh punggung tangan Hoseok dan tangan lain kini membawa wajah si lelaki untuk bersitatap dengannya. Hana mengusap wajah itu penuh kelembutan.


"Bolehkah aku tetap di sisimu?" kata Hana tanpa ragu.


Hoseok terkejut. Jantungnya bergemuruh lebih keras daripada guntur. Terlebih saat Hana mendekatkan wajah dan bibir mereka kini hanya berjarak satu jari.


"Biarkan aku berjuang mendapat cintamu." Lalu kalimat itu ditutup dengan satu ciuman yang mendarat di bibir Hoseok.