
"Ayo cepat coba jasnya biar ibu lihat," Megan memaksa Agam supaya memakai jas yang dia berikan untuk acara wisuda kakaknya.
"Sudah pas ini, Bu," Agam yang sudah lulus SMP merasa malu kalau dilihat ibunya ketika berganti baju.
"Jangan dipaksa sayang," cegah Theo.
"Nanti kalau kurang sesuatu kan bisa diperbaiki," Megan masih memaksa.
"Putra kita sudah bujang jadi jangan memaksanya," balas Theo.
Ya ampun, ternyata anak kecubung sudah besar itu artinya Megan sudah bertambah tua.
Walaupun melakukan perawatan secara berkala tapi tetap saja Megan merasa insecure karena suaminya semakin tua semakin terlihat matang. Apalagi Theo berumur empat puluh tahun terlihat seperti hot daddy.
"Kenapa?" tanya Theo.
"Tidak, hanya saja aku merasa semakin tua," jawab Megan.
"Siapa yang bilang tua, bagiku sekarang atau sepuluh tahun lagi, istriku tetap cantik seperti saat aku bertemu dulu," ucap Theo.
"Kau selalu saja seperti ini," Megan jadi malu. Dia memukul dada suaminya.
Ketika mereka akan berciuman, Agam berdehem supaya orang tuanya berhenti.
"Dikacangin terus akunya," gerutu Agam.
Sementara Ara sendiri juga sibuk di kota untuk mempersiapkan acara wisudanya, dia memesan baju kebaya yang akan dia gunakan.
"Warna apa yang cocok, ya?" gumam Ara.
Dia ingin minta pendapat dari Zester tapi kekasihnya itu beberapa hari ini sulit dihubungi.
"Ck! Apa sesibuk itu?" Ara jadi kesal sendiri.
Ketika hari wisuda dimulai, keluarga Ara datang ke kota. Theo sangat bangga pada putrinya karena sudah berhasil lulus dengan nilai IPK yang memuaskan.
Dan Zester benar-benar menepati janjinya untuk menunggu Ara.
"Di mana menantu kita?" tanya Megan yang sedari tadi mencari Zester.
"Tidak mungkin dia melewatkan acara sepenting ini, bukan?" tanggap Theo.
"Ya ampun, bu presdir terlihat lebih muda, aura bahagianya langsung terpancar," puji Megan.
"Benarkah? Ada perawatan terbaru yang akhir-akhir saya coba, apa bu kades ingin mencobanya juga?" tanya Rebecca.
"Tentu saja," Megan jadi antusias.
Akhirnya kedua perempuan itu membicarakan dunia kecantikan yang serasa dunia milik mereka berdua saja.
Theo menggelengkan kepalanya, kini hanya tertinggal dirinya, Agam dan Mike.
"Pak bule, kapan ke kampung lagi?" tanya Agam di sana.
"Nanti kalau kakakmu mau menikah," jawab Mike.
Theo merasa tidak suka mendengarnya. "Baru juga lulus Aranya!"
"Kan katanya kalau Ara sudah lulus tidak apa-apa pak kades," Mike berada di kubu Zester.
Bersamaan dengan itu, acara wisuda dimulai tapi Zester masih belum juga menampakkan batang hidungnya.
Ara merasa sedikit kecewa apalagi Zester tidak menghubunginya sama sekali.
Namun, ketika acara itu selesai Ara mendapatkan buket bunga besar dari Zester.
"Pak direktur sudah menunggumu, Ara," ucap Clarisa yang mengantar buket bunga itu.
"Menunggu?" tanya Ara.
Clarisa meminta Ara untuk masuk ke dalam mobil dan hal itu membuat Theo jadi meradang karena putrinya akan diculik.
"Mau dibawa ke mana itu?" Theo ingin mengejar mobil yang membawa Ara tapi langkahnya ditahan oleh Mike.
"Lebih baik kita makan-makan di mansion kami, pak kades," ucap Mike. Di belakangnya ada beberapa pengawal.
"Kalian pasti sudah bersekongkol, ya," protes Theo.
Theo pasrah ketika tubuhnya diangkat oleh para pengawal untuk naik ke mobil.