Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 73 - Resmi Jadian



"Ayah..." Megan mendekati suaminya supaya Theo berhenti mengawasi putri mereka yang butuh privasi berdua dengan Zester.


"Jangan sekarang sayang," tolak Theo. Dia sudah tahu kalau Megan berniat mengalihkan perhatiannya.


Namun, Megan dengan gigih masih berusaha membujuk Theo yang akhirnya membuat lelaki itu luluh.


Akhirnya, di ruangan rawat inap itu tertinggal Ara dan Zester saja.


"Untung ibumu pengertian," Zester bisa bernafas lega. Dia merentangkan kedua tangannya supaya Ara mendekat. "Sekarang kemarilah putri duyung kecil!"


Perlahan tapi pasti, Ara mendekat kemudian naik ke ranjang pasien untuk memeluk Zester seraya membenamkan wajahnya di dada lelaki itu.


"Jangan menangis," ucap Zester yang tidak mau gadis itu mengeluarkan air mata lagi. "Aku di sini dan tidak akan ke mana-mana!"


"Kau membuatku takut," balas Ara.


"Aku lebih takut lagi, aku takut tidak bisa melihatmu lagi," Zester mengecup puncak kepala gadis itu.


Padahal tubuh Zester masih lemah dan sakit semua tapi semua itu terbayarkan ketika mendapat pelukan dari Ara.


Sejenak keadaan jadi hening karena Ara dan Zester masih menikmati kehangatan saat kulit mereka saling menempel satu sama lain, seolah mereka tengah memeriksa kalau keadaan pasangan mereka baik-baik saja.


"Pasti rasanya sakit," ucap Ara membuka suara yang memecah keheningan.


"Kalau rasa sakitnya bisa membuktikan perasaanku padamu, aku rela," sahut Zester.


"Jadi, sekarang kita pacaran, 'kan?"


Ara semakin mengeratkan pelukannya karena malu.


"Aku suka dipeluk tapi kau baru saja menyentuh lukaku," ucap Zester menahan nyeri karena tangan Ara menekan punggungnya.


"Ah, aku lupa," Ara buru-buru melepas pelukannya. "Maafkan aku!"


Namun, Zester menahan gadis itu supaya tidak menjauh.


"Tetap di sini," ucap Zester.


"Memangnya apa yang mendasarimu merasakan hal itu?" pancing Zester. Dia tahu kalau Ara membalas cintanya hanya saja dia harus mendengarkan sendiri dari mulut gadis itu supaya Zester yakin.


"Entahlah, aku takut kehilangan pak direktur yang cabul," ungkap Ara.


Zester tergelak mendengarnya, dia mengecup kening gadis itu. "Kau tahu, saat aku tak sadarkan diri, aku merasa seperti di lautan yang luas, aku bertemu dengan daddy ku dan dia mengajakku untuk ikut bersamanya!"


"Tapi, saat itu juga aku mendengar suara tangismu, aku melepas tangan daddy ku dan ingin kembali memelukmu!"


"Aku menyukaimu, Zee," ucap Ara setelah mendengar cerita Zester yang tengah di ambang kematian. "Aku menerima janji yang telah kau buat untukku tapi jangan pergi!"


"Aku memang tidak berniat pergi," Zester menunduk dan mengecup bibir gadis itu.


Awalnya menempel saja tapi Ara perlahan membuka mulutnya seolah memberi izin tamu asing untuk masuk.


Terdengar bunyi decapan lidah di ruangan itu sampai Zester melepas ciuman karena merasa Ara kesulitan mengimbangi dirinya.


"Ini sebagai tanda peresmian hari jadian kita," ucap Zester sambil mengusap bibir Ara.


"Aduh, sedikit bengkak!"


"Aku akan memakai lipstik untuk menutupinya," Ara membuka tasnya untuk mencari lipstiknya, jangan sampai ayah Theo sadar.


"Sini biar aku yang pakaikan," ucap Zester ketika Ara berhasil mendapatkan lipstiknya.


Lelaki itu perlahan mengoles bibir Ara menggunakan lipstik itu sampai pintu ruangan terbuka karena Theo yang ingin mengajak Ara pulang.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Theo.


Zester menyembul kaget, beruntung bengkak di bibir Ara sudah tertutupi. "Kami tidak melakukan apa-apa, ayah mertua!"


"Ara, sini," Theo meminta putrinya untuk menjauhi Zester. "Awas ada yang ingin keluar!"


Ara tidak bertanya itu apa, gadis itu berlari menjauhi Zester begitu saja. Ternyata atensi Theo langsung mengarah ke sesuatu yang menyembul di balik selimut.


"Belum sembuh saja sudah seperti itu apalagi kalau sembuh," gerutu Theo. Dia semakin was-was pada calon menantunya itu.