
Ara terus memandangi cincin di jemarinya sebelum tidur, dia tidur di penginapan malam ini setelah acara lamaran dadakan yang dilakukan oleh Zester.
Gadis itu hanya membawa diri saja jadi tidak bisa menghubungi keluarganya.
"Akhirnya aku akan menikah juga," gumam Ara. Perasaannya campur aduk tapi dia berusaha baik-baik saja karena dia percaya pada Zester.
Keesokan harinya, Ara dan Zester pulang karena Theo terus meminta pasangan itu kembali.
Theo sendiri masih berada di kota dan menunggu putrinya dengan harap-harap cemas.
Berbeda hal dengan Megan yang sibuk menghubungi ibu-ibu PKK dan Budhe Juminten untuk membantunya mempersiapkan pesta pernikahan.
Padahal sudah ada wedding organizer yang telah disiapkan oleh Rebecca tapi rasanya tidak afdol kalau emak-emak Suka Maju tidak ikut serta di acara pernikahan kades mereka.
"Pokoknya jangan lupa merewang," ucap Megan sebelum mengakhiri panggilan.
Theo berdecak karena istrinya sibuk sendiri. "Belum tentu Ara setuju!"
"Pasti setuju, putri kita kan tidak tegaan," balas Megan yakin.
Megan kemudian mendekati suaminya itu. "Sudah waktunya kita merelakan putri kita, aku tahu perasaanmu apalagi kau merawat Ara dari bayi sampai dia besar seperti sekarang!"
"Yang bisa kita lakukan sekarang adalah percaya dengan Ara!"
Theo tidak bisa berkomentar lagi, sepertinya memang dia harus mempersiapkan diri untuk pernikahan putrinya.
Ketika Ara dan Zester sudah sampai, mereka langsung mendatangi orang tua Ara itu berada. Kali ini Zester akan melamar Ara di depan orang tua gadis itu.
"Apa kau gugup, Zee?" tanya Ara ketika mereka dalam perjalanan.
"Aku sudah terbiasa dengan makian ayah mertua, Yank. Jadi, aku sudah siap lahir batin," jawab Zester.
"Kalau kau bicara seperti itu, kau benar-benar seperti bule lokal," Ara jadi terkekeh geli.
Zester dengan percaya diri duduk dan langsung masuk ke intinya untuk melamar Ara secara resmi.
"Hadiahnya akan menyusul, ayah mertua," ucap Zester.
"Aku tidak butuh hadiahmu tapi aku butuh janjimu," balas Theo.
"Saya berjanji dengan nyawa saya," Zester bersungguh-sungguh.
Megan sampai bertepuk tangan mendengarnya, perempuan itu kemudian memeluk putrinya.
"Anak ibu sudah mau menikah, nanti kita tidak bisa buat konten lagi," ucap Megan yang jadi merasa kehilangan.
"Kan sudah ada mommy Rebecca, kalian jadi inspirasi untuk banyak perempuan supaya merawat diri dan mencintai diri sendiri, Bu," sahut Ara.
Benar juga, sudah diputuskan kalau pernikahan Ara akan diadakan di kampung Suka Maju setelahnya pesta di kota untuk tamu Zester.
Jadi, hari itu Ara langsung dibawa pulang dan dipingit tidak boleh bertemu dengan calon suaminya.
"Video call juga tidak boleh?" tanya Zester.
"Tidak boleh," jawab Theo tegas.
"Kita itu hidup di jaman modern," Zester melakukan protes.
Pada saat itu kebetulan Agam ikut bergabung bersama mereka.
"Kalau begitu, kenapa waktu itu kakak ipar percaya padaku?" tanya Agam.
Setiap ada Agam bulu kuduk Zester jadi merinding, padahal dia sama sekali tidak percaya takhayul namun mengingat kutukan dan dia yang ketempelan hantu Ismail, akhirnya dia menurut juga untuk tidak bertemu Ara sampai acara pernikahan tiba.
"Baiklah, apapun itu pastikan acara pernikahannya cepat selesai," ucap Zester kemudian.