
"Ya ampun, pak direktur. Saya tidak suka barang diskonan apalagi obralan loh," ucap Ara sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Zester.
"Jadi, bagaimana ini?"
Zester menarik pinggang gadis itu supaya tubuh mereka semakin merapat. "Apa kau yakin tidak tergoda?"
"Sedikit sih tapi aku bisa menahannya," ucap Ara sambil menggigit bibir bawahnya.
Sial! Ara terlihat seksi dan Zester sudah tidak tahan lagi.
"Baiklah, kau menang, Yank," ucap Zester yang akhirnya mengaku kalah.
Ara tergelak kemudian menunduk dan mengecup bibir kekasihnya. "Aku merindukanmu!"
Tanpa Ara duga, Zester membalas kecupannya itu dengan ciuman yang menggebu-gebu. Bahkan posisinya kini sudah berubah, Ara sudah berbaring di sofa dengan Zester yang berada di atasnya.
"Zee..." Ara merasa kalau Zester akan melakukan lebih dari sekedar ciuman karena bibir lelaki itu sudah berada di lehernya.
"Jangan dibuat merah!"
Untung Zester bisa mengontrol hasratnya, dia pun menatap wajah Ara yang memerah dan menyatukan hidung mereka.
"Tadi saat keluar dari ruangan rapat, aku seperti kehabisan baterai tapi sekarang bateraiku langsung penuh," ungkap Zester.
"Jadi aku adalah charge baterainya?" tanya Ara.
"Ya begitulah, aku ingin memberimu hadiah, pasti ujianmu sudah selesai, 'kan?" tambah Zester yang masih dalam posisi menindih Ara. Dari atas gadis itu terlihat semakin menggairahkan apalagi wajahnya bersemu merah.
Kalau hadiahnya ciuman lagi, Ara tidak mau. Sepertinya ciuman hari ini sudah cukup jadi Ara menolaknya.
"Ingat kutukan pak kades," ucap Ara memberi peringatan.
Namun, pikiran Ara itu salah karena Zester telah mempersiapkan sesuatu untuknya.
Zester berjalan ke meja kerjanya dan membuka laci di sana lalu mengeluarkan sebuah kotak perhiasan.
"Ini terlalu berlebihan," komentar Ara ketika melihat kalung berlian yang dipakaikan Zester di lehernya.
"Aku mendesaign nya sendiri supaya tidak terlalu mencolok," ucap Zester. Dia mengecup leher Ara dari belakang.
"Kau sudah memberiku gelang kemudian kalung, lalu apa lagi setelah itu?" tanya Ara sambil memegangi kalung pemberian Zester.
Walaupun kadang menyebalkan tapi Zester memang sosok pria romantis.
"Baru saja kita melepas rindu tapi kita harus berpisah lagi," Zester memeluk Ara dari belakang. "Beberapa hari lagi aku harus ke luar negeri dan harus memenangkan tender besar!"
"Aku akan pergi dengan Clarisa tapi kau justru akan pulang kampung bersama Mike!"
"Kalau tidak mau menjadi mandor pabrik beras, kau harus melakukan pekerjaanmu, pak direktur," balas Ara dengan mengelus tangan lelaki itu.
"Kau harus membayarnya dengan menjadi pasanganku saat ada pesta dan jamuan penting," pinta Zester.
"Aku tidak terbiasa melakukan hal seperti itu," Ara ingin menolak.
"Kau harus membiasakan diri, Yank. Karena kau calon nyonya Schweinsteiger," ucap Zester.
Lelaki itu kemudian mengambil sebuah katalog properti dan memberikannya pada Ara.
"Apa ini?" tanya gadis itu.
"Aku ingin membeli properti untuk masa depan kita nanti," jelas Zester.
"Tinggal kau pilih, ingin bangun rumah sendiri atau membeli hunian di perumahan, katalog itu sebagai referensi," lanjutnya.
"Bukankah ini terlalu cepat?" Ara tidak menyangka kalau Zester sudah memikirkan hal sejauh itu.
"Tidak terlalu cepat, kita akan melakukannya pelan-pelan, kita harus saling mengerti satu sama lain mulai dari sekarang," ucap Zester terdengar sangat bijak.
"Hal seperti ini harus dibicarakan dari sekarang supaya tidak jadi masalah ke depannya, untuk membangun rumah tangga yang sempurna, kita berdua harus bahagia dulu!"
_
Othor padamu Zee!
Bab selanjutnya up nanti malam, othor lagi sibuk persiapan lebaran, katanya tanggal 21 kan, ya?
4 hari lagi ges jadi sabar ya buat adegan melilit ular, tunggu habis lebaranš¤£