Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 102 - Dua Satu



Di rumah pak kades hari itu begitu ramai karena ada beberapa orang dari pihak wedding organizer sibuk mendirikan tenda pernikahan.


Catering sudah disiapkan jadi Megan hanya menambah menu dan kue tradisional saja.


Hal itu Megan buat konten karena banyak yang penasaran dengan acara pernikahan ala bu kades.


Sementara Ara sendiri justru sibuk melakukan perawatan dari profesional beauty yang telah disiapkan calon mertuanya.


Hari ini gadis itu melakukan treatment wajah dan pengecatan kuku.


"Aku lapar mau makan," batin Ara tapi karena cat kukunya belum kering, dia tidak bisa makan apapun untuk sementara.


Namun, tanpa dia duga, Theo datang dengan membawa semangkok soto.


"Sini biar ayah suapi," ucap Theo. Dia sudah memperhatikan sedari tadi kalau Ara sibuk merawat diri sampai melupakan makannya.


Sejenak Theo jadi ingat masa kecil Ara dulu, siapa sangka gadis kecil itu akan menikah.


"Ayah..." panggil Ara dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa menangis? Ini hari bahagiamu," balas Theo seraya mengusap air mata putrinya yang akan jatuh.


"Ayah akan tetap jadi laki-laki nomor satu di hatiku," ungkap Ara.


Sekarang Theo jadi ikut menangis, ternyata seperti ini rasanya melepas anak gadis yang akan menikah.


Persiapan demi persiapan terus dilakukan, Zester sendiri telah mengambil cuti dan meminta orang kepercayaannya untuk mengambil alih ketika dia tidak ada di perusahaan.


Laki-laki itu mempersiapkan diri untuk pergi ke kampung calon istrinya.


Dulu saat pertama kali menginjakkan kaki di kampung itu niatnya ingin menyembuhkan impotensi yang dideritanya, tidak sangka Zester akan mengintip Ara mandi sampai menjalin kasih dan menikah dengan gadis itu.


Inilah yang dinamakan kalau jodoh tidak akan lari ke mana.


Rencananya Zester akan menginap di rumah nenek Ara untuk sementara sampai lelaki itu sah menjadi suami Ara.


"Kami akan menyusul saat hari H," ucap Rebecca pada saat itu.


Zester pergi bersama beberapa pengawal dari sang mommy.


Karena tidak punya keluarga besar jadi pengantin pria memang tidak diiringi seperti pengantin pada umumnya.


Untuk sekarang, Zester mengikuti aturan main pak kades.


"Sepertinya menantu kita sudah sampai," ucap Megan ketika mendapat laporan kedatangan Zester.


"Biar aku yang melihatnya," balas Theo.


Theo mendatangi mobil Zester yang baru sampai lalu menunjukkan rumah ibunya berada.


Kalau dulu pasti Zester akan mengatai rumah lama seperti itu bau kemiskinan tapi sekarang dia sudah banyak berubah.


"Jadi ini calonnya Ara?" sapa Bu Sri ketika melihat kedatangan Zester.


Zester menunduk hormat dan mencium tangan Bu Sri seperti yang orang Indo lakukan. "Saya Zester, calon suaminya Ara!"


"Nenek sudah banyak mendengar tentang dirimu, katanya kau memaksa Ara untuk menikah," ucap Bu Sri.


"Itu..." Zester jadi bingung, dia tidak menyangka kalau rumornya akan menjadi seperti itu.


"Namanya sudah kebelet kawin ya begitu, Bu," timpal Theo.


"Ya lebih bagus dia meminta Ara baik-baik daripada tidak ada kabar tapi pulang-pulang bawa bayi yang membuat jantungan," sindir Bu Sri.


Untuk kali ini Theo kalah telak dan Zester merasa kemenangan.


"Satu sama, ayah mertua," bisik Zester.


"Ck," Theo berdecak. Dia langsung teringat sesuatu yang pasti akan membuat Zester kekalahan. "Di rumah ibuku closetnya masih closet jongkok, kau pasti tidak bisa menggunakannya, 'kan?"


"Siapa bilang tidak bisa, saya bisa menggunakannya," jawab Zester percaya diri.


"Nah, dua satu, ayah mertua!"


_


Undangan terbuka untuk readers semua, besok datang ya ke acara nikahan Ara dan Zee yang bertempat di kampung Suka Maju.


Dresscode : hijau sage


Tidak usah bawa amplop karena tidak terima sumbangan, souvenirnya satu kilo beras cinta😅