
Ara terus memeluk guling hangatnya tapi setelah dia raba-raba ternyata guling itu cukup keras. Refleks gadis itu membuka matanya dan benar saja, dia tengah berpelukan dengan bule lokal yang mana lelaki itu bertelanjang dada tanpa tahu malu.
Sebenarnya Ara ingin berteriak tapi kalau dia melakukan itu pasti Zester akan bangun dan gadis itu tidak mau ada drama ular menyembul di pagi hari.
Jadi, perlahan tapi pasti Ara menjauhkan diri.
"Apa yang sudah aku lakukan?" gumamnya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia begitu dekat dengan lelaki seintim ini apalagi sampai bermalam di hotel. Walaupun mereka tidak melakukan apapun, tetap saja hal seperti ini tidak baik.
"Sebaiknya aku pulang sendiri sebelum tuan direktur bangun," Ara segera bersiap-siap dan berusaha tidak menimbulkan suara.
Saat sampai di loby hotel, hal tak terduga terjadi.
"Ara..."
Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya.
"Re... Rendy," Ara jadi bingung harus berbuat apa.
Akhirnya mereka berdua berbicara di kafe hotel dengan canggung.
"Apa yang kau lakukan pagi-pagi di hotel? Apa kau bersama keluargamu?" tanya Rendy penasaran.
"Aku ada urusan jadi menginap di hotel ini," jawab Ara setenang mungkin.
"Urusan apa? Aku dengar dari teman-temanmu kau magang di Zesla Group? Padahal kan belum ada praktik magang," Rendy mencemaskan Ara yang bertindak tidak seperti biasanya.
"Kau tidak perlu khawatir, aku punya alasan sendiri dan akan segera menyelesaikannya," balas Ara. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan. "Kau sendiri, apa yang kau lakukan di hotel ini?"
"Keluargaku kan pemasok bahan baku di hotel ini, kebetulan karena libur jadi aku melakukan pengecekan langsung, berasnya memakai merk pabrik beras ayahmu," jawab Rendy.
Ara tahu kalau keluarga Rendy memang mempunyai bisnis pemasok barang baku dan banyak yang bekerja sama dengan PT-nya, termasuk salah satunya ayah Theo.
"Mengenai itu, tolong rahasiakan ini dari semua orang, okay," pinta Ara.
"Bagaimana, ya? Aku ingin imbalan untuk menjaga rahasia ini," Rendy jadi memanfaatkan keadaan.
"Apa itu?" tanya Ara jadi ragu.
"Pulang bersamaku dan kita makan bersama," ucap Rendy yang sebenarnya ingin mengajak berkencan.
Mereka pun pulang bersama, meninggalkan Zester yang masih terlelap.
"Ara, kita sarapan apa?" gumam Zester yang sudah terbangun tapi enggan membuka mata.
Tangannya meraba-raba mencari gadis yang semalaman dipeluknya.
Saat dia membuka mata ternyata benar Ara sudah tidak ada.
"Ara..." Zester memanggil gadis itu tapi tidak ada sahutan sama sekali.
Barang-barang gadis itu tidak ada, artinya dia sudah ditinggal pergi.
"Kenapa tidak membangunkan aku?" kesal Zester.
Akhirnya lelaki itu pulang sendirian, Zester menuju apartemen lamanya karena ada beberapa barang yang harus dia ambil.
Ketika dia membuka pintu apartemen, Riri sudah menunggunya bahkan sampai bermalam di sana.
"Kau dari mana saja, Zee?" tanya Riri gusar.
"Aku lelah, aku ingin istirahat dulu," Zester tampak enggan berdebat dengan calon istrinya.
"Kenapa tingkahmu jadi mencurigakan menjelang pernikahan? Persiapan sudah 70 persen, undangan sudah dicetak tapi kenapa kau selalu menghindariku bahkan tidak pulang," Riri tetap melakukan protesnya.
"Ada banyak hal yang harus kita bicarakan!"
Zester menghela nafasnya, atmosfer saat berbicara dengan Riri selalu berbeda dengan Ara.
"Baiklah," ucap Zester akhirnya duduk dan Riri langsung bergelayut manja pada calon suaminya.
"Awalnya aku ingin marah padamu karena kau begitu acuh pada persiapan pernikahan kita tapi ternyata kau sudah memikirkan banyak hal," ucap Riri kemudian.
"Apa maksudnya?" tanya Zester tidak mengerti.
"Aku menemukan sertifikat sunat di kamarmu ternyata kau sudah memikirkan hal semacam itu," jawab Riri malu-malu.
Sepertinya gadis itu salah paham dan Zester sebaiknya mengakui sesuatu karena dia tidak bisa memastikan kapan akan sembuh dari impotensinya.
"Itu tidak seperti yang kau pikirkan, aku sunat untuk kesehatanku karena aku tiba-tiba..." Zester mengumpulkan keberaniannya untuk mengaku. "Impoten!"