Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 81 - Hormon Dopamin



"Mom..." panggil Zester seraya mengetuk pintu kamar Rebecca. "Apa benar mommy sakit cacar?"


Rebecca yang mendengar itu jadi kalang kabut, pokoknya Zester tidak boleh tahu keadaan dirinya sekarang atau putranya itu akan kembali marah.


Hubungan mereka sudah mulai membaik jadi Rebecca tidak mau membuat Zester kecewa lagi.


"Iya, penyakit ini menular jadi kita bicara kalau mommy sudah sembuh," jawab Rebecca dari balik pintu.


"Apa sudah ada dokter yang memeriksa?" tanya Zester yang masih enggan pergi.


"Sudah, tidak perlu khawatir," balas Rebecca.


Walaupun curiga, Zester tidak mau memaksa sang mommy. Lagipula hubungan mereka selama ini memang seperti itu, tidak ikut campur satu sama lain.


Tapi, semua berubah ketika Ara masuk di kehidupan mereka.


"Kenapa?" tanya Ara yang menyusul kekasihnya itu.


"Sepertinya mommy memang tidak mau menemui kita jadi ayo pergi," ajak Zester seraya menggandeng tangan Ara.


"Bukan tidak mau menemui tapi karena sakit," Ara masih berusaha membela Rebecca. Dia tidak mau hubungan Zester dan ibu kandungnya kembali merenggang.


"Lebih baik kita cari makan saja dan kita bungkus untuk teman-temanmu nanti," ucap Zester.


Lagi-lagi lelaki itu mengalihkan pembicaraan.


"Bagaimana kalau ke tempat Omaku?" tawar Ara.


"Oma yang mana?" tanya Zester. Sepertinya dia ketinggalan informasi penting.


"Oma Berta, yang mengandung ibuku. Oma mempunyai resto, sekaligus kau harus memperkenalkan diri padanya," jelas Ara.


Ternyata Ara masih mempunyai anggota keluarga lain, Zester harus menunjukkan pesonanya supaya menambah banyak dukungan.


"Ada anggota keluarga lain lagi yang belum aku ketahui?" tanya Zester.


Ara tampak berpikir dan mengingat jika Zester belum bertemu dengan neneknya di kampung.


"Nenekku, ibu dari ayah. Hanya itu saja," jawab Ara sambil tertawa.


"Kenapa tertawa, apanya yang lucu? Apa nenekmu juga tidak suka bule?" Zester jadi was-was.


Zester mengacak rambut gadis itu karena berpikir hal yang tidak terduga. "Yang penting janda-janda itu sudah sejahtera semua, 'kan?"


"Bagaimana kalau mereka kesepian, Zee? Apa kau tidak pernah bertanya hal itu pada mommy mu?" Ara justru menanyakan hal yang sulit dijawab oleh Zester.


Lelaki itu memang tidak pernah menanyakan hal itu pada Rebecca, alasan kenapa sang mommy bisa terlibat skandal dengan Ismail pun, dia tidak mau tahu.


"Kalau mommy merasa kesepian pasti dia sudah menikah sejak dulu," balas Zester.


Dia kembali menarik pelan tangan Ara supaya mengikuti langkah kakinya.


Namun, Zester berhenti ketika melewati kamarnya. Dia pun mengajak Ara untuk masuk.


"Ini kamarmu?" tanya Ara sambil melihat sekeliling.


"Kamar ini tidak berubah semenjak aku tinggal sekolah ke luar negeri," ungkap Zester. Dia membaringkan diri di ranjangnya kemudian menepuk sisi sampingnya yang kosong.


"Kemari, Yank!"


Ara mengernyit karena Zester memanggilnya dengan sebutan lain dari biasanya.


"Yank?" tanyanya.


"Biar lebih mesra," Zester beralasan.


Ara lalu membaringkan diri di samping kekasihnya itu dan memeluk Zester. Akhir-akhir ini Zester jarang memeluk dan mengecupnya lagi.


"Apa luka di punggung sudah tidak sakit?" tanya Ara sambil menghirup aroma tubuh Zester.


"Jangan seperti ini..." Zester merasa tubuhnya bergetar. Dia takut ularnya menyembul.


"Kenapa? Biasanya kau yang berinisiatif duluan, Zee," ucap Ara mulai nakal. "Aku ingin tahu kenapa bibirmu suka bergerak sendiri saat kita bersama!"


"Pasti karena ada perasaan yang mendorongmu, aku membaca kalau orang jatuh cinta akan mengeluarkan hormon dopamin yang berlebihan!"


_


Hormon yang bikin bahagia adalah dopamin. Hormon dopamin dikenal dengan hormon “cinta dan gairah”.