
Ara mengerutkan keningnya karena sadar jika Zester tengah modus dan berpura-pura tenggelam supaya bisa mengucapkan hal aneh seperti sekarang.
"Maaf aku tidak bisa menjagamu, tuan modus," Ara melepaskan tangannya supaya Zester tidak bisa mencari kesempatan lagi.
"Tunggu dulu!" Zester tidak mau terlepas dari gadis itu.
"Aku hanya bercanda!"
"Bercandanya tidak lucu, kelak kalau kau tenggelam sungguhan aku belum tentu percaya lagi. Bagaimana kalau benar-benar kehabisan nafas di dalam air?" protes Ara.
"Cieee... Ternyata sudah mulai perhatian padaku, ya. Takut kalau abang ganteng mati?" goda Zester.
"Ish, kau menyebalkan," Ara mendorong dada Zester yang keras.
Mendapat dorongan kecil tentu saja tidak berpengaruh besar pada Zester, lelaki itu hanya terhuyung pelan tapi masih bisa menangkap tubuh Ara.
"Jangan menjauh," cegah Zester.
Ara melihat satu tangan Zester masuk ke dalam air dan mencoba mengarah ke bagian bawah lelaki itu.
"A... apa yang kau lakukan?" tanya Ara jadi takut. "Kau sudah berjanji tidak akan berbuat cabul, 'kan?"
"Siapa memangnya yang berbuat cabul? Aku ingin mengambil sesuatu di kantong celanaku," jelas Zester.
Ternyata yang ditakutkan Ara tidak terjadi, Zester mengambil sepasang gelang yang sudah lelaki itu persiapkan sebelumnya.
"Ini namanya gelang pasangan," ucap Zester sambil memasangkan satu di pergelangan tangan Ara.
Lalu Zester memasang satunya di pergelangan tangannya sendiri.
"Sekarang kita adalah pasangan," lanjut Zester.
Ara memandangi gelang yang dipasang untuknya, gelangnya tampak biasa tapi Ara yakin jika harganya tidak biasa.
"Seperti yang aku bilang sebelumnya, jangan langsung menolakku," ucap Zester seraya mengelus pipi Ara dengan lembut.
"Tapi, jangan mengklaim seperti ini karena aku tidak bisa menjanjikan apapun," balas Ara.
"Tidak apa-apa jika sekarang aku masih bertepuk sebelah tangan yang penting kau tahu kalau aku menyukaimu," Zester akan berbesar hati dan menunggu Ara menerimanya.
"Aku tidak akan banyak tingkah jadi jangan terlalu terbebani dan Ara..." Zester semakin mendekat dan menarik pinggang gadis itu. "Misi ularmu sudah selesai!"
"Sudah selesai? Jadi ularmu bisa bangun sendiri tanpa dekat denganku?" tanya Ara memastikan.
"Begitulah, ini karena Bu Sutopo sudah mencabut kutukannya," jelas Zester.
"Jadi, kita harus merayakan hal ini!"
"Perayaan ular berdiri?" Ara tergelak karena mereka membicarakan hal cabul bersama.
Setelah mandi di pemandian air panas hari itu, malam harinya Zester mengajak Ara makan malam romantis berdua.
Ara memakai gaun yang sudah disiapkan Zester dan mereka makan di rooftop pemandian air panas itu.
"Malam ini bintang bersinar terang," komentar Ara yang melihat langit.
"Lebih terang bintang yang ada di depanku," balas Zester. Matanya terus melihat Ara yang cantik malam ini.
Baru pertama kali dia melihat Ara memakai gaun malam, selanjutnya setiap ada pesta yang akan dia datangi pasti Zester akan mengajak gadis itu.
"Kau pasti sengaja memilih baju terbuka seperti ini," protes Ara.
"Terbuka dari mananya," tanggap Zester yang melihat gaun itu cukup tertutup.
"Di punggungnya," ucap Ara. Beruntung rambutnya sudah panjang jadi bisa menutupi gaun kurang bahan itu.
Kemudian Ara berdiri di pagar pembatas sambil mengadah langit.
"Apa kau percaya dengan bintang jatuh, Zee?" tanya Ara.
Zester ikut berdiri di samping gadis itu. "Dulu tidak pernah karena aku merasa bisa membeli semua dengan uang tapi sekarang aku ingin percaya karena..."
Lelaki itu menjauhkan rambut Ara yang membuat punggung terbuka gadis itu terlihat, Zester mendekat dan mencium punggung mulus itu.
"Aku ingin memilikimu yang tidak bisa aku beli dengan uangku!"