Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 96 - Setipis Tisu



Setelah lamaran itu, Rebecca dan Mike mempersiapkan acara pernikahan mereka. Pernikahan itu digelar secara tertutup dan hanya orang-orang tertentu saja yang hadir.


"Aku sangat malu," ucap Rebecca ketika melihat keluarga Ara datang ke pesta pernikahannya.


"Tenang saja justru keluarga pak kades yang memberi dukungan dari awal," balas Mike berusaha membuat istrinya tenang.


Rasanya Mike masih tidak percaya kalau dia sudah jadi seorang suami sekarang.


"Selamat atas pernikahannya, bu presdir," ucap Megan seraya menautkan pipinya pada perempuan itu.


"Maafkan saya karena sudah membuat repot sampai harus pergi ke kota," Rebecca masih tidak enak hati.


"Mana mungkin kami melewatkan pernikahan pak bule yang sudah membuat gonjang ganjing kampung Suka Maju," balas Megan.


Mendengar itu, Rebecca semakin malu.


Di sisi lain, Theo justru sibuk memisahkan Ara dan Zester supaya keduanya tidak saling menempel.


"Jangan terlalu dekat," ucap Theo yang menarik Ara supaya menjauhi Zester.


Kalau sudah begini Zester tidak bisa berkutik, dia mempunyai kekasih serasa jomblo di acara pernikahan sang mommy.


Keesokan harinya, Rebecca dan Mike pergi ke makam tuan Schweinsteiger. Mereka datang sebagai sepasang suami istri.


"Saya akan menjaga nyonya Rebecca sampai saya menghembuskan nafas terakhir, Tuan," ucap Mike dengan menunduk hormat.


...***...


"Mike..." panggil Zester ketika ada laporan yang tidak sesuai.


Bukannya Mike yang datang namun Clarisa yang mendekati lelaki itu.


"Pak direktur, apa ada masalah?" tanya Clarisa. Dia tahu kalau Zester sudah terbiasa memanggil Mike jika terjadi apapun.


"Astaga," Zester langsung sadar kalau Mike sudah tidak bekerja lagi padanya.


"Atur rapat dengan tim pemasaran dan tim perencanaan," perintah Zester kemudian.


"Baik, pak direktur," balas Clarisa.


Sebelum Mike benar-benar meninggalkan perusahaan, dia sudah mengajari Clarisa jadi perempuan itu bisa menggantikan pekerjaannya.


Ada proyek baru yang tengah dikerjakan oleh Zester dan hal itu sangat menyita waktunya.


"Yank, sepertinya kita harus menunda kencan kita hari ini," ucap Zester dengan berat hati. Dia menghubungi Ara dan terpaksa membatalkan kencan mereka karena Zester masih mengurus proyek barunya.


"Baiklah, kita masih punya banyak waktu," balas Ara.


Mereka jadi seperti berpacaran jarak jauh apalagi Ara juga disibukkan dengan kuliahnya.


Semester demi semester akhirnya Ara dan beberapa temannya kerja magang di perusahaan Zester, walaupun satu kantor tahu kalau Ara adalah kekasih direktur, tidak ada perlakuan khusus dan Ara nyaman dengan itu.


"Ara, apa berkas yang aku minta sudah selesai?" tanya ketua tim di departemen pemasaran.


"Sudah selesai, ketua tim," jawab Ara. Gadis itu berdiri dari tempat duduknya kemudian masuk ke dalam ruangan ketua tim.


Zester yang memperhatikan gerak-gerik Ara jadi tidak tenang, sebentar lagi gadis itu akan lulus kuliah, dia sudah menunggu lama, jangan sampai Ara bosan padanya dan berpaling dengan lelaki yang jauh lebih muda.


"Ketua tim pemasaran itu selalu mencuri kesempatan untuk berdua dengan Ara," gerutu Zester sebal.


Hari itu, Zester turun ke lantai di mana departemen pemasaran berada.


Seketika suasana menjadi tegang karena wajah Zester tampak galak di sana.


"Kenapa dia kemari?" batin Ara. Dia sudah mempunyai firasat buruk.


Dan benar saja, Zester mendekati mejanya.


"Bawa laporan yang kau bicarakan berdua dengan ketua tim tadi," perintah Zester.


Ara berdehem karena mereka jadi pusat perhatian, dari perintah Zester itu sudah menunjukkan rasa cemburu.


"Baik, pak direktur," balas Ara dengan membawa salinan dokumen. Dia berjalan mengekori Zester untuk masuk ke dalam lift.


Ketika pintu lift tertutup, Zester langsung merapatkan tubuh Ara ke dinding lift.


"Zee, kau sudah berjanji untuk tidak mencampur adukkan urusan pribadi dan kantor," protes Ara.


"Ada apa ini?"


"Aku hanya merindukanmu," jawab Zester dengan mencium gadis itu. "Kesabaranku sudah setipis tisu, Ara!"


_


Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin ya readersku tercinta...