Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 130 - Anniversary



Walaupun sudah dibantu suaminya, tetap saja Ara masih kewalahan mengurus bayi sendirian apalagi kalau Zester bekerja.


Baby Kaizen sudah berumur tiga bulan dan mulai memiringkan badan jadi harus butuh pengawasan lebih. Tubuh bayi itu tambah gembul yang membuat Ara mudah lelah jika menggendong bayi bulenya.


"Kai anak pintar, anak mommy, tidur dulu ya," Ara menimang-nimang bayinya supaya tidur.



Ketika baby Kaizen sudah tidur, Ara buru-buru melakukan pekerjaan rumah yang menumpuk.


Dari mencuci baju sampai menyapu dan mengepel.


Ara juga harus memasak dan makan supaya ASI-nya tetap lancar.


Hal itu membuat Ara tidak sempat untuk mengurus dirinya sendiri, seringkali Zester mendapati istrinya ketiduran karena kelelahan.


Jadi, lelaki itu mengatur perjalanan supaya Ara melakukan me time di Bali.


"Biar aku yang mengurus Kai, kau sepertinya butuh istirahat, Yank," bujuk Zester.


"Apa tidak masalah? Kau kan kerja, Zee!" Ara berusaha menolak.


"Aku bisa work from home jadi jangan menolaknya," Zester terus membujuk istrinya.


Akhirnya Ara setuju dan mencoba percaya pada suaminya, dia pergi ke Bali dan mencoba menikmati waktunya.


Ara menghabiskan waktu seharian untuk tidur kemudian berjalan-jalan di pantai penginapan. Dia sama sekali tidak menikmati waktunya karena nyatanya yang di kepalanya hanya ada Zester dan baby Kaizen.


"Apa yang mereka lakukan tanpa aku? Apa Kai sudah minum susunya?" gumam Ara sambil memegangi buah dadanya yang sakit. Dia belum memerah susunya hari ini.


"Aku tidak suka walaupun aku lelah, setidaknya aku bisa bersama suami dan bayiku!"


Padahal Zester memberinya waktu lima hari untuk liburan tapi baru saja hari kedua, Ara sudah ingin pulang.


Ara kembali ke penginapan dan ingin pulang tapi di kamar yang ditempatinya, dia mencium aroma makanan.


Memang kamar itu dilengkapi dengan dapur kecil dan di sana dia melihat Zester yang sibuk memasak dengan afron yang melekat di tubuh lelaki itu.


"Kau sudah kembali, Yank? Padahal masakannya belum jadi," ucap Zester.


Ara menangis sejadi-jadinya di sana. "Aku hanya memikirkanmu seharian ini. Apapun yang aku lihat tidak seru, yang aku makan pun tidak enak!"


"Sepertinya aku akan mati kalau tidak bertemu denganmu sekarang juga!"


"Aku tidak sedang berhalusinasi, 'kan? Ini suamiku, 'kan?"


Ara meraba-raba tubuh suaminya. "Aku akan berusaha lebih baik lagi untuk menjadi istri dan ibu yang baik, Zee!"


Inilah yang Zester takutkan, Ara sepertinya mulai mengalami sindrom baby blues karena memaksakan diri untuk mengurus bayi dan pekerjaan rumah tangga sendirian.


"Tenanglah, Yank! Aku nyata," Zester mencoba meyakinkan istrinya.


Setelah Ara tenang, perempuan itu baru sadar jika tidak ada bayinya di sana.


"Kai di mana? Dia pasti bingung kalau dibawa ke tempat baru," ucap Ara jadi panik.


Zester membawa istrinya untuk duduk dan minum. "Minumlah dulu, aku menyusul ke sini sendirian!"


"Sendirian?" tanya Ara.


"Kai dibawa mommy ke mansion dan stok susunya sudah aman untuk beberapa hari ke depan," jelas Zester.


Mendengar itu, Ara sedikit tenang tapi tetap saja bagaimana bisa suaminya pergi meninggalkan bayi mereka.


"Kau lupa hari apa ini, Yank?" tanya Zester.


Ara mengerutkan keningnya dalam dan mencoba mengingat tapi tetap saja pikirannya buntu. "Maafkan aku, pikiranku sedang kusut!"


"Hari ini, hari anniversary pernikahan kita," jelas Zester.


"Bahkan seminggu yang lalu aku mengingatnya!"


Astaga, Ara benar-benar lupa.