
Ara menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, dia tidak yakin ular Zester akan bisa masuk. Benda itu terlalu besar dan panjang, apa karena itu pengaruh sunat?
Rasanya tidak mungkin, Ara semakin panik.
Sampai Zester berusaha menjauhkan tangan istrinya itu.
"Jangan takut, Yank," Zester membujuk istrinya.
"Lihat aku saja!"
Zester memindahkan kedua tangan istrinya untuk melingkar di lehernya. Dia mencium Ara supaya gadis itu rileks.
Perlahan tapi pasti, Zester membuka kedua kaki Ara dan berusaha memasukkan ularnya yang sudah berontak sedari tadi.
Ular itu butuh untuk dijinakkan dan hanya Ara yang bisa melakukannya.
"Mmmpphh!" Ara menjerit dalam ciuman ketika ular suaminya berusaha masuk.
Walaupun begitu, Ara berusaha pasrah dan rileks sampai dia merasakan perih yang membuatnya mengeluarkan air mata.
"Sebentar lagi tidak akan sakit," ucap Zester seraya menghapus air mata istrinya.
Ara menganggukkan kepalanya, dia akan menahannya sampai rasa sakit itu hilang.
Terdengar geraman Zester ketika ular miliknya sudah berhasil masuk, rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Kini pasangan suami istri itu sudah resmi jadi mantan perjaka dan perawan.
Zester tidak mau terlalu buru-buru bergerak karena menunggu Ara tenang dan terbiasa dengan miliknya.
"Yank..." panggilnya sambil mengecup kening Ara. Dia berjanji akan selalu melindungi istrinya itu.
"Abang ganteng bergerak, ya," Zester sudah tidak tahan lagi.
Tidak ada jawaban dari mulut Ara kecuali lenguhan kecil karena menahan sakit dan nyeri namun rasa itu tergantikan dengan rasa nikmat ketika Zester terus memompa tubuhnya.
Awalnya dengan ayunan stabil tapi lama-kelamaan menjadi ayunan yang sangat cepat sampai Ara merasakan sesuatu yang hangat menyembur keluar.
Ara pikir sudah cukup sampai disitu tapi badannya justru dibalik oleh suaminya.
"Zee..." Ara masih takut kalau rasanya akan menyakitkan seperti sebelumnya.
Rasanya sangat luar biasa, dia ingin terus mengulangi lagi dan lagi.
Tidak cukup dengan satu gaya, Zester mencoba berbagai gaya yang membuat Ara sampai kejang-kejang tak terkendali.
"Tu... tunggu!" Ara sudah tidak sanggup lagi tapi tubuhnya sudah diangkat suaminya dan Zester tidak memberinya kesempatan untuk protes.
Ara terbangun dengan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Zester benar-benar hewan buas yang memangsanya seperti kelaparan.
"Ugh!" lenguh Ara ketika kakinya menginjak lantai.
Dia ingin berendam di bathub supaya kembali rileks lagi.
Tubuhnya dipenuhi oleh tanda cinta dari suaminya ditambah pinggangnya yang sakit luar biasa. Namun dibalik itu semua, ada kenikmatan yang selama ini belum dia pernah rasakan.
"Aaaa..." Ara jadi malu sendiri.
Ara memilih berendam di bathub dengan air hangat, dia harus menemui keluarganya dan mertuanya jadi Ara harus terlihat segar.
"Yank..." Zester yang baru terbangun mencari keberadaan istrinya. "Di mana istriku?"
Lelaki itu mengambil handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi, ternyata yang dicarinya tengah berendam di bathub dengan memejamkan mata.
"Pasti dia kelelahan? Tapi aku kan yang banyak bekerja," gumam Zester. Dia sangat ingat jelas malam panas membara yang telah dia lalui bersama Ara.
Perlahan, Zester ikut memasukkan dirinya di dalam bathub.
"Zee..." Ara langsung membuka mata dan mendapati suaminya sudah berendam bersamanya.
"Jangan macam-macam!"
Ara memberi peringatan keras, tubuhnya sangat lelah.
"Tenang saja, Yank. Kita hanya akan berendam bersama," balas Zester berusaha meyakinkan.
"Tapi ularnya..." Ara bisa melihat jelas ular itu kembali bangun di dalam air.
"Jangan pedulikan dia, dia ini sejenis hewan amfibi yang bisa hidup di darat dan di air," jelas Zester.