
Walaupun hasilnya buram, Zester tetap memajang foto USG bayinya di atas meja kerjanya di kantor. Lelaki itu terus memandangi foto itu dan senyum-senyum sendiri.
"Aku akan punya anak, aku akan jadi daddy," gumam Zester kesenangan.
Suasana hati Zester membuat pekerjaan terasa lebih cepat dia selesaikan. Selain pekerjaan, Zester mulai memikirkan baby sitter dan asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan istrinya.
Namun, Ara justru menolaknya.
"Aku tidak akan membiarkan istriku mengurus pekerjaan rumah sendirian, aku menikah bukan cari pembantu," ucap Zester yang tidak mau Ara melakukan pekerjaan rumah tangga.
"Dengarkan aku dulu," Ara meminta suaminya untuk tenang.
Mereka duduk di sofa kamar mereka dan Ara menyenderkan kepalanya ke bahu suaminya.
"Aku tetap mengambil asisten rumah tangga hanya saja aku mau kerja lepas jadi tidak tinggal di rumah, aku juga tidak mau memakai baby sitter karena aku ingin mengurus bayi kita sendiri," ucap Ara.
"Tapi, Yank..." Zester sampai bingung harus menjelaskan bagaimana lagi pada istrinya kalau dia itu lelaki kaya yang punya banyak uang.
Bahkan mansion Schweinsteiger dipenuhi oleh para pekerja, dari penjaga sampai puluhan pelayan, belum lagi bodyguard Rebecca.
Jadi, sangat aneh kalau di rumah barunya tidak ada penjagaan sama sekali.
"Lingkungan perumahan ini terbilang aman, ada beberapa security yang berjaga di posnya dan kamera cctv ada di mana-mana, jadi tidak perlu khawatir, Zee," Ara masih berusaha meyakinkan suaminya.
"Aku ingin seperti orang tuaku walaupun punya banyak uang tapi tetap hidup sederhana," lanjutnya.
Kalau sudah urusan itu, Zester tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Oh iya, iklanku sudah tayang di televisi," ucap Ara mengalihkan pembicaraan.
Perempuan itu mengambil remote televisi dan menyalakan benda kotak itu untuk melihat hasil syuting iklannya.
Ara kelihatan cantik di layar televisi yang membuat Zester tidak suka.
"Kenapa?" tanya Ara.
"Aku tidak suka istriku dipandang banyak mata," jawab Zester seraya membuka bajunya.
"Kemari, Yank!"
Dan benar saja Ara menghendus ketiak Zester keenakan.
"Apa seharum itu?" tanya Zester padahal dia merasa baunya masam.
"Iya enak, aku suka," jawab Ara.
Indera penciuman ibu hamil memang aneh tapi tidak mungkin Zester akan terus tidak mandi. Jadi, Zester memutuskan untuk mandi di kantor jika di rumah lelaki itu akan mode rembes maksimal.
Saat pasangan suami istri itu masih main hendus ketiak, ponsel Ara berbunyi karena mendapat panggilan dari Megan.
"Ibu pasti habis melihat iklanku," ucap Ara.
Bukan Ara yang menerima panggilan tapi Zester karena tangannya yang paling dekat dengan ponsel istrinya.
"Hallo, ibu mertua," jawab Zester.
"Ya ampun hasil iklannya bagus sekali, Ara memang putriku," Megan langsung memberi komentar.
"Dan jangan lupakan dia juga istriku, ibu dari anak-anakku nanti," tambah Zester.
"Jangan dimatikan dulu, ayah sebentar lagi muncul di acara musik malam ini," ucap Megan memberitahu.
Theo memang menjadi bintang tamu di acara musik dan Ara langsung mencarinya.
"Itu ayah!" seru Ara yang melihat Theo dan anggota bandnya bermain musik.
Sebagai vokalis Theo tentu saja disorot apalagi lelaki dua anak itu bermain dengan gitarnya.
Zester melihat mertuanya itu dengan mengerutkan kening karena Theo tidak kelihatan sama sekali akan menjadi seorang kakek.
"Opa gula itu sungguh meresahkan," gumam Zester yang merasa kalah saing.
_
Opa gula kita ges...