
Rebecca dan Mike membuat reservasi makan malam di sebuah restaurant. Mereka mengundang Zester dan Ara untuk membicarakan masalah hubungan mereka.
"Apa kau gugup, Becca?" tanya Mike seraya mengelus punggung tangan perempuan itu.
"Bukan gugup tapi takut," balas Rebecca.
Respon dari karyawan kantor cukup bagus apalagi mereka kebanyakan sudah menonton video viral Mike dengan beras cintanya.
Namun, Rebecca ragu dengan respon Zester mengenai hubungannya dengan Mike itu.
Tak lama yang ditunggu datang juga, Zester datang bersama dengan Ara.
"Selamat malam," Ara menyapa pasangan baru itu.
Berbeda dengan Zester yang hanya diam saja, lelaki itu menatap Rebecca dan Mike bergantian. Masih sulit untuk diterima apalagi yang mengambil keperjakaan Mike adalah mommy nya sendiri.
Lagi-lagi Mike sudah curi start duluan.
"Zee, ayo duduk," ajak Ara karena kekasihnya itu masih berdiri.
Akhirnya Zester duduk juga dan Mike yang berbicara duluan pada bosnya itu.
"Sebelumnya saya minta maaf, Tuan. Karena sudah lancang mencintai ibu anda tapi saya benar-benar tulus dengan nyonya Rebecca, saya tidak bisa menahan perasaan ini lagi," ucap Mike dengan gentleman.
"Kenapa kau tidak bicara dari awal Mike?" tanya Zester. Dari wajahnya lelaki itu tampak kecewa berat.
"Kalau saya bicara dari awal, pasti anda akan menjauhkan saya dengan nyonya Rebecca," jawab Mike.
Zester mendengus kasar, tidak bisa dipungkiri kalau Mike adalah lelaki yang bisa dipercaya.
"Pertama-tama, jangan bersikap formal padaku. Kedua, jangan panggil aku tuan lagi. Ketiga, kau dipecat!" ucap Zester kemudian.
Mata Mike terbelalak mendengarnya.
"Maksudnya?" tanya Mike karena kata-kata Zester itu terdengar ambigu.
Bukannya menjelaskan, Zester beralih menatap sang mommy yang tampak takut padanya sedari tadi.
"Are you happy, Mom?" tanya Zester pada ibu kandungnya itu.
Rebecca mengangguk pelan. "Tapi, jika kau tidak setuju, kami akan berpisah!"
Seperti ada angin segar ketika kalimat itu terlontar dari mulut Zester.
"Kau melakukannya dengan baik, Zee," bisik Ara yang ikut senang.
Bersamaan dengan itu, pramusaji mengantarkan makanan dan mereka berempat makan hidangan yang telah dipesan.
"Jadi, Nak..." Mike mulai membuka suaranya lagi.
Zester mengerutkan keningnya. "Kau mau membuatku geli, ya. Panggil namaku!"
"Zee, kau harus sopan, dia adalah daddy barumu," Ara memberi peringatan keras.
Tentu saja, Zester belum terbiasa tapi dia akan beradaptasi mulai sekarang.
"Maafkan aku, daddy," ucap Zester dengan nada lirih.
Walaupun pelan, Mike suka dengan panggilan barunya. Dia melirik ke arah Ara dan mengacungkan jempolnya, entah apa yang terjadi pada dirinya jika tidak ada gadis itu.
Puncak dari acara makan malam itu adalah dansa antara Mike dan Rebecca.
Di sana Mike akan melamar perempuan pujaan hatinya itu.
Ketika musik romantis mengalun, Mike berlutut dan membuka kotak cincin yang telah dia siapkan sejak lama.
"Will you marry me, Becca?" tanya Mike.
Rebecca merasa terharu, dia mengangguk dan Mike langsung memasang cincin dan mengecup tangannya.
Semua yang ada di restaurant itu bertepuk tangan begitu juga dengan Ara.
"Wah, so sweet!" komentar gadis itu.
"Cih, itu lamaran yang pasaran," decih Zester yang merasa Mike terus saja curi start darinya. "Lihat saja lamaranku nanti akan jauh lebih romantis!"
Zester tidak mau kalah.