Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 114 - Tetangga Arab



Ketika weekend tiba, sesuai rencana Ara dan Zester pergi untuk melihat rumah baru mereka. Rumah itu terletak di salah satu perumahan elite.


Ara selama ini tidak pernah melihat pembangunan rumah itu jadi dia cukup terkejut dengan hasilnya.


"Ini lebih bagus dari pada di katalog," komentar Ara.


"Aku menambahkan nuansa tropis dengan gaya Eropa, ayo masuk!" ajak Zester. Lelaki itu membawa istrinya untuk keliling rumah baru mereka.


Walaupun tidak sebesar mansion keluarganya, rumah itu cukup luas dan ada bagian yang tersisa di belakang rumah.


"Rencananya akan ada taman dan kolam di sini, Yank," jelas Zester.


Fokus Ara justru ke arah sebuah jembatan yang ada di belakang rumah mereka.


"Itu jembatan apa?" tanya Ara.


"Ah, itu jembatan yang terhubung dengan rumah sebelah. Aku akan meminta tukang untuk menghancurkan jembatan itu kalau sudah jadi," jawab Zester tampak kesal.


"Kok bisa terhubung dengan rumah sebelah?" Ara masih bingung.


"Yang punya rumah sebelah itu mantan temanku dan dia sengaja membeli rumah di sebelah rumah ini lalu membuat jembatan," jelas Zester. Dia semakin emosi jika mengingatnya.


"Mantan teman?" Ara jadi penasaran. "Kenapa bisa kalian bertengkar?"


"Ceritanya panjang," Zester enggan bercerita.


Dan mantan teman yang dibicarakan Zester ternyata sudah menempati rumah lebih awal, lelaki itu melihat Zester datang dan menyeberang menggunakan jembatan buatannya.


"Wah, lihatlah siapa yang datang?" tegurnya. Lelaki keturunan Arab itu melihat ke arah Ara. "Nyonya Schweinsteiger, 'kan?"


"Hallo," sapa Ara. Dia menyenggol suaminya karena Zester matanya tampak melotot tajam.


"Kau punya teman Arab, Zee?"


"Dia bukan temanku," Zester masih kukuh tidak mengakuinya.


"Ayolah, Zee! Itu hanya masa lalu," ucap lelaki Arab itu.


"Kenalkan aku pada istrimu!"


Bukannya mengenalkan, Zester lebih memilih membawa Ara pergi.


"Kita jual saja rumahnya, Yank," ucap Zester yang tidak mau tinggal di rumah barunya.


Ara menghela nafasnya dan tidak mau memberi komentar, dia tahu kalau Zester bisa membeli rumah lagi tapi dia tidak suka kalau suaminya bertindak sesuka hatinya seperti itu.


Suasana apartemen yang sepi tambah sepi.


"Yank..." panggil Zester seraya memeluk istrinya ketika Ara memasak.


"Kau marah?"


Zester jadi merasa tidak enak hati dan mencoba mencairkan suasana.


"Bukankah yang marah-marah tadi kau, ya," balas Ara.


"Aku tadi hanya terbawa suasana. Namanya Zein, dia temanku saat SMP dulu, kami selalu bersama tapi ketika daddy ku meninggal dia justru memilih pergi bersama teman barunya," jelas Zester. Akhirnya dia bercerita supaya istrinya tidak salah paham.


"Kenapa tidak cerita dari tadi? Dan apa kau sudah mencari tahu penyebabnya? Aku lihat dia mau berbaikan sampai membeli rumah dan membuat jembatan di samping rumah kita," tanggap Ara.


Zester tidak berbicara lagi karena bingung.


"Aku suka rumahnya, Zee!"


"Benarkah?"


"Iya, dari awal kan kita berdua yang membuat designnya, sayang kalau dijual,"


Benar juga, dari jaman pacaran memang Ara sendiri yang membuat design rumah. Sepertinya dia harus mengalah.


"Baiklah, kita akan pindah ke rumah baru tapi kita hancurkan jembatannya!" usul Zester.


_


Promo karya baru dedek anu


Judul : Ranjang Ibu Tiri


Napen : ntaamelia



Blurb :


Tiba-tiba menjadi gadis penebus hutang, Aina harus merelakan dirinya dinikahi oleh pria paruh baya, sosok yang lebih pantas menjadi ayahnya.


Namun, siapa sangka, ternyata pria tersebut adalah orang yang terhubung dengan masa lalunya.


Lalu bagaimana Aina keluar dari bayang-bayang itu, sementara masa lalu terus mengejarnya. Bahkan mengikatkan tali tak kasat mata di kakinya.