Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 71 - Restu Pak Kades



Megan dan Theo saling memandang satu sama lain ketika para bodyguard Rebecca berjajar kemudian menunduk hormat pada mereka.


Mereka yang biasa hidup sederhana merasa kurang nyaman, mereka mau hidup normal bahkan kalau bisa jangan sampai ada orang tahu kalau mereka artis.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya," sambut asisten Mike yang juga menunduk hormat.


"Jangan seperti ini, kami hanya ingin melihat keadaan tuanmu," balas Theo.


Asisten Mike membubarkan para bodyguard dan meminta mereka untuk membantu Rebecca berjalan.


"Perkenalkan ibu presdir kami, Rebecca Schweinsteiger, ibu dari tuan Zester," ucap Asisten Mike lagi ketika Rebecca mendekat.


Megan dan Theo kembali memandang satu sama lain karena Rebecca terlihat tidak baik-baik saja, perempuan itu mengulurkan tangan untuk bersalaman.


Namun, tangan itu tampak seperti orang tremor.


"Sepertinya bu presdir kalian sakit," ucap Theo.


"Bukan begitu, Tuan. Sama seperti saya yang fans berat pak kades, nyonya Rebecca juga fans beratnya bu kades," jelas asisten Mike mewakili Rebecca supaya pasangan suami istri itu harap memaklumi keadaan nyonya besarnya.


Rebecca tidak bisa berbicara karena mendadak huruf vocal yang ada di otaknya menghilang jadi setiap perempuan keturunan Jerman itu berbicara yang keluar dari mulutnya adalah kalimat konsonan yang susah dimengerti.


"Woah, ternyata bu presdir ngefans sama saya?" tanggap Megan seraya memegang tangan Rebecca.


"Bersikap santai saja karena kita calon besan!"


PLUK!


Rebecca sudah tidak bisa menahan diri lagi, perempuan itu ambruk dan pingsan yang langsung ditangkap oleh para bodyguardnya.


"Sekarang aku tahu kenapa bule itu suka gila kalau bersama Ara," bisik Theo pada istrinya.


"Hust, tidak boleh begitu. Aku kalau ketemu idolaku Ma Dong Seok pasti akan pingsan juga," balas Megan yang membicarakan aktor action Korea kesukaannya.


"Sayang, kenapa kau membicarakan laki-laki lain, aku kan jadi cemburu," protes Theo.


"Ehem!" Asisten Mike berdehem kemudian menunjukkan ruangan Zester berada.


Zester masih setia menutup mata di ruang ICU jadi Theo dan Megan hanya bisa melihatnya dari dinding kaca tanpa bisa masuk ke dalam.


"Bayangkan kalau misalnya Ara yang terkena tembakan, pasti yang berbaring di sana adalah putri kita jadi jangan terlalu keras hati lagi," ucap Megan.


Theo hanya diam saja tapi matanya terus menatap Zester yang tubuhnya terbaring miring karena luka di punggungnya.


"Aku merestui mereka tapi tidak mengizinkan bule itu menikahi putriku dalam waktu dekat. Dan mereka harus pacaran sehat yang tidak boleh dekat-dekat, minimal jarak satu meter kalau bertemu,"


"Tidak boleh menyentuh putriku sembarangan kecuali gandengan tangan itupun harus dalam keadaan terdesak,"


Theo membuat persyaratan panjang lebar yang membuat Megan senyum-senyum sendiri, suaminya itu masih belum tahu kalau hubungan Ara dan Zester sudah sangat intim.


Walaupun begitu, Megan akan tetap memberi peringatan bagi Ara. Dia tidak mau putrinya kebablasan.


"Benarkah?" Ara langsung memeluk Megan saat mendengar ayahnya merestui hubungannya dengan Zester.


Ini untuk pertama kalinya Ara berpacaran dengan seorang pria. Siapa yang menyangka dia akan dekat dengan pria bule yang usianya lebih tua sepuluh tahun darinya.


"Jaga diri baik-baik, ayah dan ibu percaya sama mbak Ara," ucap Megan memberi peringatan.


"Aku pasti bisa menjaga diri," balas Ara.


"Jangan terlalu berlebihan, pasti tahu kan maksud ibu," Megan memperjelas lagi.


"Tapi, Bu..." Ara malu-malu mau mengatakannya. "Zee suka menciumku, katanya bibirnya bergerak sendiri!"


"Ya ampun, dasar gadis polos. Kok ibu jadi ragu, ya," Megan merasa takut karena merasa de javu dengan suaminya yang super polos saat pertama kali mengenalnya.


"Pokoknya kalau dia modus ingin mengajari sesuatu langsung tolak saja, itu adalah ajaran sesat!"