Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 131 - Tidak Perlu Sempurna



Pantas saja Zester mengatur waktu untuk liburan ternyata memang ada hari spesial yang Ara lupakan, Ara terlalu terobsesi menjadi ibu yang baik sampai melupakan hal-hal kecil di sekelilingnya.


"Aku tadi berencana membuat surprise tapi ternyata gagal karena kau kembali lebih awal, Yank," ucap Zester.


Wajah Ara tertunduk karena merasa bersalah telah melupakan hari penting mereka.


"Aku harus minta maaf dengan cara apa?" tanya Ara dengan nada lirih.


"Mau aku beri tahu caranya?" Zester meraih dagu Ara dan menciumnya dengan lembut. Bahkan mereka sudah lama tidak melakukan hal itu.


Walaupun Zester tampak tidak marah tapi pikiran Ara masih belum tenang.


"Zee, apa tidak apa-apa menyerahkan Kai pada orang lain?" tanya Ara ketika ciuman mereka terlepas.


Zester menghela nafasnya panjang sebelum berbicara pada istrinya itu. "Yank, turunkan tanggung jawab yang terlalu berlebihan!"


"Kita tidak bisa memberikan semua dengan sempurna untuk Kai!"


"Menurutku sudah cukup dengan kita mendidik dan membimbingnya sebagai seseorang nantinya!"


"Tapi..." Ara masih cemas.


"Sudah aku bilang sebelumnya kan, kalau ingin membuat anak-anak kita bahagia, kau dan aku harus bahagia dulu..." Zester mengusap air mata Ara yang kembali membasahi pipi.


"Aku lihat akhir-akhir ini, kau tidak bahagia. Kau terlihat tegang dan cemas padahal ada waktu untuk istirahat..."


"Dan selalu saja, aku melihatmu tertidur karena kelelahan! Untuk siapa kau memaksakan dirimu seperti itu?"


Air mata Ara semakin jatuh membasahi pipi, dia pikir sudah melakukan yang terbaik sebagai istri dan ibu, ternyata dia salah.


"Sepertinya aku membuat semaunya berantakan, Zee," ucap Ara.


Zester memeluk istrinya supaya kembali tenang. "Semua orang pasti canggung diawal, aku pun begitu. Apalagi aku meminta menikah begitu mendadak!"


"Karena itu, kau sudah melakukan yang terbaik sebagai istri dan ibu dari anakku. Dan kau tidak perlu terlalu sempurna, Yank!"


"Aku tidak akan menuntut seperti itu!"


Kemudian Zester mengangkat tubuh istrinya.


"Tolong, pikirkan aku saja!"


"Kau saja?" gumam Ara seraya menatap suaminya dengan lekat.


"Ya, aku saja. Kau sama sekali tidak boleh memikirkan Kai, menikmati makanan yang sudah aku siapkan..."


"Dan jadilah istri yang bahagia saja. Bagaimana?"


Ara sungguh sangat tersentuh, dia benar-benar membutuhkan sosok laki-laki seperti Zester. Dia pun meraup wajah suaminya itu lalu mengecupnya.


"Apa seperti ini cukup?" tanya Ara.


Mana cukup, Zester pun membawa Ara ke atas ranjang dan melakukan ciuman yang menggebu-gebu di sana.


Suara lenguhan Ara semakin membuat Zester bersemangat, lelaki itu melakukan apa yang dia mau.


"Zee, aku mau mandi dulu!" pinta Ara.


"Ide yang bagus, Yank!" Zester kembali mengangkat tubuh istrinya untuk masuk ke dalam kamar mandi.


Keduanya saling melepas baju dan berciuman di bawah pancuran shower.


Ini kali pertama mereka akan melakukan hubungan lagi setelah kelahiran baby Kaizen.


Sebelumnya Zester sudah menyiapkan pengaman karena dia tidak mau membuat Ara hamil lagi dalam waktu dekat.


Lelaki itu mencoba memasang pengaman pada ularnya, ternyata tetap terlihat keren.


"Angkat kakimu, Yank!" pinta Zester.


Ara menaikkan satu kakinya dan mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya, dia siap untuk dililit ular lagi.


_


Daddy dan mommy lagi ngapain?