
Ara melihat beberapa panggilan dan pesan dari Agam saat keluar dari kelasnya. Karena khawatir, gadis itu buru-buru membuka pesan dari adik laki-lakinya itu.
Ternyata Agam memberitahu di mana lokasinya sekarang dan juga kabar tentang Bu Ismail yang melahirkan.
Buru-buru Ara menyusul adiknya ke rumah sakit bersalin di mana Agam dan Zester berada.
Pak bule menemani proses kelahiran bayi!
"Zee melakukan itu?" gumam Ara yang mengingat salah satu pesan dari Agam.
Kalau mengingat Zester yang sebelumnya, rasanya Ara tidak percaya lelaki itu akan melakukannya.
"Ara...." panggil Rendy yang menyusul gadis itu.
"Kebetulan sekali, ayo antar aku ke rumah sakit," Ara menunjukkan pesan dari Agam supaya Rendy melihat nama rumah sakit bersalin yang ingin dia datangi.
"Aku tahu tempatnya," ucap Rendy menyanggupi.
Tanpa bertanya lebih lanjut, Rendy langsung mengantar Ara ke rumah sakit tersebut.
Karena memakai motor, Rendy bisa melewati jalan tembusan untuk menghindari macet.
"Apa kau ikut masuk?" tanya Ara ketika sampai.
"Iya," jawabnya. Rendy ingin tahu siapa yang sebenarnya melahirkan.
Keduanya pun mencari ruangan bersalin di mana Bu Ismail melahirkan.
"Mbak, di sini..." seru Agam ketika melihat kakaknya.
"Ya ampun, Dik..." Ara merasa cemas sekali. Biasanya Agam sangat menghindari rumah sakit. "Kau tidak apa-apa, 'kan?"
"Aku baik-baik saja tapi pak bule dari tadi belum keluar, katanya bayinya sungsang jadi proses melahirkannya lama," jelas Agam.
"Sungsang?" Ara mendekati ruang bersalin. Dia jadi mencemaskan keadaan bayi Bu Ismail, semoga saja bayinya cepat keluar.
Bu Sutopo sedari tadi menangis dan tidak berhenti berdoa.
Sampai akhirnya mereka semua mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin itu.
Kemeja yang sebelumnya rapi berubah jadi kusut bahkan beberapa kancingnya terlepas, ditambah rambutnya yang acak-acakan dan lengannya terdapat bekas gigitan.
"Zee..." panggil Ara mendekati lelaki itu. Di matanya Zester terlihat seperti orang trauma.
Melihat Ara mendekat, Zester tak kuasa untuk memeluk gadis itu. Ternyata proses melahirkan sangat mengerikan, dia yang sebelumnya marah pada Rebecca jadi sedikit luluh.
"Bayinya perempuan dan sehat," ucap Zester.
"Syukurlah," tanggap Ara. Dia tidak berniat menjauh supaya Zester tenang dulu.
"Ara, kau masih ingat saat konser amal ayahmu waktu itu?" tanya Zester tiba-tiba.
"Tentu saja ingat, kenapa?" balas Ara.
"Waktu itu aku pernah bertanya, kenapa kau repot-repot menggalang dana dan ikut berpartisipasi padahal kau tidak mendapat apa-apa. Sekarang aku tahu jawabannya, aku merasakan perasaan itu," ucap Zester yang mulai sadar.
"Bagus, pak direktur. Kau pasti akan menjadi pemimpin perusahaan yang lebih baik lagi," Ara mengelus punggung lelaki itu yang tampak bergetar.
Hal itu dilihat jelas oleh Rendy, perlakuan Ara pada Zester jelas berbeda dengan perlakuan gadis itu pada dirinya.
Dari mata Ara terlihat begitu mencemaskan keadaan Zester, sekarang dia tahu kalau hubungannya dengan Ara hanyalah sebatas teman tidak bisa lebih dari itu.
Walaupun Ara sekarang belum menyadari perasaannya sendiri, Rendy yakin kalau Ara sebenarnya juga menyukai Zester.
"Mundur alon-alon mas ee," ucap Agam yang menyaksikan secara langsung kisah percintaan segitiga itu.
"Nasib kita sama seperti martabak manis karena dikacangin," lanjut Agam.
_
Catatan Author :
Cerita Agam nanti bukan cerita horor ya tapi tentang fantasi time travel gituš¤
Pokoknya FL nya badass, dia dari universe lain dan cari Agam karena lahir saat bulan merah. Kemampuan Agam itu sebenarnya dari stigma iblis gitu dan FL pengen anak dari Agam.
Pokoknya seru soalnya Agam waktu itu masih SMA dan dipaksa nikah sama nananinu sama FLš¤£