Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
BAB Spesial - Kaizen & Shiren



Shiren melihat album di mana ada foto-foto Kaizen dan dirinya di sana, foto saat mereka masih sekolah TK sampai hari kelulusan SMP.


Banyak hal yang telah mereka lalui bersama selama ini.


Beberapa kali Shiren tertawa ketika melihat hal konyol yang mereka lakukan.


"Kai sedang apa sekarang?" Shiren membuka jendela kamarnya.


Jendela kamar Kaizen tertutup sepertinya pemuda itu memang sibuk mempersiapkan diri untuk kompetisi musiknya. Entah kenapa Shiren jadi ingin melihat wajah Kaizen yang suka mengganggunya.


Padahal biasanya dia kesal dengan kelakuan tetangganya itu tapi kalau tidak melihat Kaizen sehari saja rasanya kurang.


"Bukankah sebentar lagi malam," gumam Shiren.


Gadis itu melihat langit dan turun rintik-rintik hujan, Shiren tahu jelas kalau Kaizen tidak pernah membawa jas hujan.


"Pasti Kai akan nekat seperti biasanya, dia kan bisa sakit menjelang kompetisi," Shiren segera bersiap untuk menyusul Kaizen ke studio musik sekolah.


Dia membawakan Kaizen jas hujan dan beberapa makanan.


"Pasti mereka lapar," ucap Shiren seraya menyusun beberapa makanan di kotak makan.


Setelah selesai, Shiren memesan taksi online untuk mengantarnya ke sekolah.


Hujan semakin deras yang membuat Kaizen dan grup bandnya tidak bisa pulang dengan cepat.


"Udaranya semakin dingin dan hujannya tidak tahu sampai kapan, aku akan meminta daddy ku untuk meminta orang kepercayaannya mengantar kalian," ucap Kaizen. Dia bertanggung jawab pada grup bandnya.


"Aku akan dijemput supirku sendiri, Kak," balas Kara yang masih ingin berduaan dengan Kaizen.


Ketika mobil jemputan datang, anggota band Kaizen pulang menyisakan pemuda itu dan Kara.


"Apa supirmu masih lama?" tanya Kaizen.


"Aku tidak tahu, berkendara saat hujan kan tidak bisa cepat-cepat karena berbahaya," jawab Kara memberi alasan. Padahal dia sama sekali tidak menghubungi supir pribadinya, gadis itu berharap hujan reda dan Kaizen akan mengantarnya pulang.


"Uhuk-uhuk!" Kara akting batuk supaya lebih meyakinkan.


Tak lama Kaizen memberikan jaketnya, bisa gawat kalau vokalisnya sakit apalagi kompetisi semakin dekat.


"Pakailah ini, aku akan mencari minuman hangat," ucap Kaizen. Dia akan meminta minuman hangat pada penjaga sekolah.


Pada saat itu Kaizen saling berselisih dengan Shiren yang baru sampai.


"Apa mereka sudah pulang?" gumam Shiren karena suasana sekolah tampak sepi sekali.


Shiren menuju ruang musik sekolah dan langsung membuka pintunya. "Kai..."


Gadis itu tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena melihat hanya ada Kara di sana.


"Kak Shiren, kenapa bisa kemari?" tegur Kara.


"Oh, aku hanya mengantar makanan dan jas hujan untuk Kai," balas Shiren seraya menelisik ruang studio musik itu.


Namun, atensi Shiren tertuju pada jaket Kaizen yang dipakai oleh Kara. Dia sangat tahu kalau pemuda itu tidak akan memberikan barangnya ke sembarang orang.


"Kai, ada di mana?" tanya Shiren berusaha baik-baik saja.


"Kak Kai sedang mencari minuman hangat untukku. Oh iya, kami baru saja jadian," ucap Kara penuh dusta.


"Jadian?" tanya Shiren memperjelas.


"Iya, kami pacaran hanya saja kami akan backstreet untuk sementara. Jadi, kak Shiren adalah orang yang pertama aku beritahu karena kakak itu sahabat pacarku," jawab Kara penuh penekanan di setiap katanya.


Shiren meremas ujung bajunya, dia merasakan dadanya jadi sesak. Dia pun buru-buru pergi dan berlari untuk keluar dari area sekolah.