Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
BAB Spesial - Kaizen & Shiren



Kaizen tersenyum geli melihat Shiren yang menutup matanya, kalau menuruti nafsunya tentu saja dia ingin mencium gadis itu sekarang.


Namun, belum saatnya. Dia harus mengetahui perasaan gadis itu supaya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


"Kenapa kau menutup matamu?" tanya Kaizen.


Seketika Shiren langsung membuka mata dan memalingkan wajahnya karena malu, benar juga Shiren tidak boleh berharap lebih.


"Aku hanya tidak nyaman, kita sudah besar sekarang," balas Shiren.


"Jadi, kau tidak suka?" Kaizen langsung menjauhkan tubuhnya.


Pemuda itu membaringkan diri di samping Shiren, mereka diam dengan pemikiran masing-masing.


"Kau akan datang saat kompetisi musikku nanti, 'kan?" tanya Kaizen membuka suara.


"Entahlah," jawab Shiren. Dia tidak mau melihat Kaizen yang berduaan dengan Kara apalagi mendengar kalau mereka meresmikan hubungan dan tidak backstreet lagi.


"Jadi, tidak mau, ya?" tanya Kaizen menyimpulkan.


"Bukan tidak mau tapi lihat saja nanti," Shiren memiringkan tubuhnya.


"Aku sudah baik-baik saja, Kai!"


Kaizen akan membiarkan gadis itu tidur, dia masih belum bisa memastikan perasaan Shiren padanya. Jangan sampai tali yang sudah mereka ikat dari kecil, putus begitu saja.


Ketika pemuda itu membuka ponselnya ada banyak pesan masuk dari anggota bandnya.


Kai, kau ke mana saja? Kenapa tidak masuk sekolah?


Hari ini, pengumuman seleksi lagu demo kita!


Kai segera mendatangi anggota bandnya untuk menanyakan bagaimana hasil dari lagu demo mereka. Jika, lagu demo mereka lulus seleksi artinya mereka bisa ikut kompetisi.


Sepanjang perjalanan menuju studio, Kai harap-harap cemas.


Di studio sudah ada Kara dan anggota lainnya yang tengah merayakan sesuatu.


"Kak Kai..." Kara berlari mendekati pemuda itu. "Lagu demo kita masuk seleksi!"


"Benarkah?" Kaizen merasa lega. "Akhirnya..."


"Sebentar lagi, Kai..."


Dari situ Kara mulai mencari tahu kalau ternyata Kaizen ingin membelikan sesuatu untuk Shiren dari hasil keringatnya sendiri.


Kara gamang, dia rasanya ingin sengaja untuk kalah. Namun, kalau dia melakukannya, Kaizen pasti akan membencinya.


Sampai keesokan harinya, rumor buruk mengenai Shiren terdengar di telinga gadis itu.


Kalian tahu Shiren yang sok menolak Nathan itu, 'kan?


Diam-diam mereka sudah main di belakang!


"Maksudnya kak Shiren dan kak Nathan menghabiskan waktu bersama dan..." Kara mulai bermonolog pada dirinya sendiri.


Ternyata tidak perlu susah-susah memisahkan Kaizen dan Shiren, dengan rumor itu pasti keduanya juga merenggang.


Rumor itu tersebar karena Nathan yang ingin balas dendam pada Shiren, sekarang gantian kalau gadis itu harus merasa malu.


"Ini bajumu yang tertinggal, Shiren," Nathan sengaja datang ke kelas gadis itu dengan memberikan bajunya yang tertinggal tempo hari.


"Kau bisa memberikan bajunya sepulang sekolah, 'kan?" tanggap Shiren.


"Memangnya kenapa harus pulang sekolah? Kau ingin diam-diam, begitu?" Nathan memperjelasnya.


Shiren melihat kanan dan kirinya, dia mencari Kaizen supaya pemuda itu bisa menyelamatkan dari situasi yang rumit itu.


Tapi, Kaizen tidak ada karena mempersiapkan kompetisi musik besok.


Akhirnya rumor Shiren semakin tersebar dengan buruk.


Pantas saja kemarin sampai tidak masuk sekolah!


Ternyata ini penyebabnya!


Shiren pulang sekolah dengan menangis sejadi-jadinya, di saat seperti ini gadis itu membutuhkan Kaizen.


Dan dia mulai menyadari perasaannya bukan hanya sebatas teman kecil.