
"Duduk di meja pantry, jangan terlalu banyak bergerak kalau sampai jahitan luka tembaknya ada yang lepas, aku nanti yang susah," Ara memberi peringatan sebelum Zester mengganggunya memasak.
"Hari ini masak makanan Indo, besok Western, besoknya lagi Korea, Jepang dan yang lainnya," lanjut Ara.
Zester mengangguk paham, dia pernah hidup mandiri di luar negeri, setiap hari membeli makanan siap saji sampai merasa bosan. Akhirnya dia belajar memasak sendiri walaupun ujung-ujungnya Rebecca mempekerjakan tukang masak untuknya.
"Apapun yang kau masak pasti akan aku makan, Beib," balas Zester.
"Beib?" tanya Ara merasa geli.
"Iya itu panggilan sayangku, karena kau imut seperti bayi," Zester mulai menggombal.
Ara tidak mau menanggapi lagi karena Zester sudah mulai kumat modusnya, lebih baik dia mempercepat masakannya.
"Jadi ini hasil dari vegetable salad with peanut sauce nya?" tanya Zester ketika Ara menyusun hasil masakannya di meja makan.
"Coba dulu sambal pecelnya, aku membuatnya tidak terlalu pedas," Ara menuangkan sambal pecel di piring Zester.
Sebenarnya Zester tidak pernah mencoba nasi pecel jadi sambal itu masih asing baginya.
"Akan enak kalau ditambah sayuran apalagi rempeyek," sambung Ara.
"Rempeyek?" Zester melihat keripik tipis yang ditaburi kacang.
"Cobalah, pakai ayam bumbu juga," Ara melayani Zester layaknya seorang suami.
Zester jadi seperti melihat masa depan. "Kalau adek manis seperti ini, abang ganteng jadi tidak sabar untuk membawa ke pelaminan!"
"Ish," Ara berdesis. Dia mulai terbiasa dengan sikap Zester yang seperti itu. "Sebentar lagi aku akan ujian jadi mungkin kita tidak bisa sering bertemu, liburan aku juga akan pulang kampung!"
"Tidak akan mandi di telaga lagi, 'kan?" tanya Zester yang tidak mau Ara diintip lelaki lain.
"Tentu saja tidak, aku juga tidak mau diintip lagi," tanggap Ara.
"Aku pasti akan merindukan putri duyung kecilku," ucap Zester kemudian.
"Memangnya kau tidak ingin berkunjung di kampungku lagi?" tanya Ara penuh harap. "Saat aku liburan semester nanti pasti waktunya panen padi, kau bisa melihat padi yang ditanam asisten Mike waktu itu!"
"Banyak pekerjaanku yang tertunda, jadwalku jadi berantakan dan aku harus memperbaiki itu semua supaya kencan kita tidak terganggu," jelas Zester.
Mendengar itu, Ara jadi merasa kecewa tapi dia mencoba mengerti.
"Lama-kelamaan lidahku mulai menerima rasanya," Zester mengalihkan pembicaraan supaya Ara tidak terlalu memikirkan hubungan jarak jauh yang mereka akan jalani nanti.
"Lidahmu kan memang lidah lokal," balas Ara dengan kekehan.
Selesai makan, Ara tidak langsung mencuci piring karena dia tengah sibuk membantu Zester mengganti perban di punggung lelaki itu.
"Sepertinya jahitannya sudah mulai mengering," komentar Ara ketika melihat bekas luka tembak Zester.
"Badanku rasanya gerah karena tidak bisa mandi," keluh Zester yang merasa kepanasan.
"Lebih baik tahan saja supaya cepat sembuh dan beraktivitas normal," Ara hati-hati memberikan obat untuk luka itu.
Zester meringis menahan nyeri, dia tidak memakai baju jadi merasa malu kalau bau badannya tercium Ara.
"Aku dalam kondisi sedang tidak tampan jadi lebih baik aku kembali ke unitku sendiri," ucap Zester seraya berdiri dan mencoba mengemasi peralatan medisnya.
"Kenapa? Mana tingkat kepercayaan diri itu?" tanya Ara yang merasa bukan berbicara pada Zester.
"Orang tampan itu harus wangi sementara aku sudah beberapa hari tidak mandi," jawab Zester insecure.
"Ya ampun, aku kira apa. Aku tidak merasa bau kok cuma sedikit apek saja," balas Ara jujur.