
Marvin kembali ke kantor dengan perasaan galau, dia sudah merasa berdosa atas perbuatannya pada Ismail sekarang Riri memberinya perintah baru lagi.
Ini karena lambe turahnya yang membawa petaka.
Saat dia tengah membuat laporan, kepala devisi keuangan memintanya untuk naik ke lantai direktur.
Perasaannya sudah tidak enak, sepertinya Zester sudah tahu kalau dia lah penyebar gosip itu.
"Pak direktur menunggumu di ruangannya," ucap asisten Mike.
Dengan hati berdebar Marvin mengetuk pintu kemudian masuk ke ruangan direktur.
Di dalam, Zester duduk dengan tenang menunggu kedatangan Marvin.
"Duduklah!" perintah Zester.
Marvin menelan ludahnya, wajah Zester kembali terlihat galak, bukan Zester yang tengah bucin pada Ara.
"I... iya, pak direktur," Marvin duduk di depan Zester dengan canggung.
Di meja terdapat dua cangkir teh dan Zester meminta Marvin untuk meminumnya.
"Kau terlihat gugup, minumlah supaya rileks," ucap Zester.
Tanpa pikir panjang, Marvin mengambil teh yang ada di depannya dan meminumnya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Zester setelah Marvin meletakkan tehnya seperti semula. "Aku sudah memasukkan obat di dalamnya!"
"Obat yang sama seperti obat yang kau masukkan ke minuman Ismail!"
Jantung Marvin semakin berdegup kencang, ternyata Zester memanggilnya bukan karena gosip yang dia sebarkan tapi karena hal yang lebih serius lagi.
"Pak direktur..." Marvin merasa ketakutan.
Zester tersenyum smirk karena melihat ekspresi ketakutan itu. "Kau pikir aku akan bertindak memalukan seperti itu!"
"Kira-kira hukuman apa yang cocok untukmu karena sudah merencanakan pembunuhan bahkan mengambing hitamkan presdir perusahaan!"
Marvin tidak bisa membela diri karena perbuatan kotornya sudah ketahuan. Dia hanya bisa bersimpuh dan memohon ampun pada Zester.
"Ampuni saya, pak direktur. Saya di bawah perintah nona Riri, saya butuh uang yang banyak untuk pengobatan nenek jadi saya terpaksa menerima perintah itu. Saya pikir itu bukan obat yang berbahaya tapi ternyata Ismail sampai merenggang nyawa, saya dihantui rasa bersalah sampai sekarang," ucap Marvin penuh sesal.
"Apapun alasannya, kau harus mendapat hukuman. Tapi, hukumanmu bisa mendapat keringanan kalau kau ikut bekerja sama," balas Zester.
Marvin sudah mengaku, dia bisa menjadi saksi kunci. Zester tidak akan memberi ampun lagi.
Sebelumnya lelaki itu sudah memberi kesempatan pada Riri tapi perempuan itu menyia-nyiakan semuanya.
Setelah berbicara pada Marvin, Zester memberi perintah bodyguardnya untuk memberi pengawalan untuk karyawannya itu supaya Marvin aman sebelum masuk jeruji besi.
Kemudian Zester bersiap-siap untuk pergi menemui Riri.
Riri sudah reservasi tempat di sebuah restoran mahal, mereka akan makan malam bersama. Perempuan itu sudah mempercantik diri malam ini.
Namun, Zester tidak merasa terpesona sama sekali.
"Kau sudah datang, Zee," sambut Riri ketika melihat lelaki itu datang.
Zester datang ditemani oleh asisten Mike di belakangnya.
"Bukankah kita akan membicarakan masalah pribadi," protes Riri karena ada orang ketiga diantara mereka.
"Kau bisa menunggu di luar, Mike," Zester akhirnya meminta asistennya pergi.
Sebelum pergi asisten Mike meninggalkan dokumen perjanjian pra nikah yang sudah ditanda tangani.
"Kau sudah menandatanganinya, Zee?" tanya Riri merasa kemenangan.
"Iya, bukankah itu yang kau mau?" balas Zester.
Biar saja Riri merasa di atas awan sekarang karena kalau sudah jatuh, rasanya pasti menyakitkan sampai perempuan itu tidak bisa berdiri dengan kakinya sendiri.
_
Rekomendasi Author
Judul : Tawanan Sang Mafia
Napen : Lunoxs
Jangan lupa baca karya baru bunda Lunoxs ya ges, ceritanya pasti seru seperti biasanya...