Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 46 - Ide Penjebakan



Rebecca tertunduk ketika disidang oleh Zester, dia sangat malu apalagi Ara juga menyaksikan itu.


Dia sudah sangat menyesali perbuatannya, Rebecca tergoda oleh Ismail karena sikap lelaki itu persis seperti mendiang suaminya.


Rasa kesepian yang menyelimuti dirinya membuatnya dikalahkan oleh nafsu.


Tapi, saat Ismail memutuskan hubungan dan memilih istrinya yang hamil, Rebecca sudah merelakan lelaki itu.


Siapa sangka, Ismail mengalami kecelakaan kerja.


"Aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi, Mom," ucap Zester dengan kekecewaan yang mendalam.


"Ternyata mommy selama ini tahu kalau Riri menipuku tapi mommy justru membiarkan aku tetap dengan rencana pernikahan,"


"Apa skandal itu lebih penting daripada kebahagiaanku?"


"Dari kecil aku tumbuh dengan bibi pengasuh, apa memang tidak ada kasih sayang sedikit saja untukku?"


Zester merasakan sesak di dadanya, dia akhirnya memilih meninggalkan mansion keluarganya.


Dan Ara mengikuti lelaki itu dari belakang.


"Biar aku yang membawa mobil," ucap Ara yang tidak yakin Zester akan bisa menyetir mobil dengan benar.


Ara membawa mobil ke gedung apartemennya dan membantu Zester masuk ke unitnya sendiri.


"Aku akan menghubungi asisten Mike," ucap Ara sebelum pergi.


"Jangan pergi," pinta Zester yang membutuhkan gadis itu sebagai obat penenang.


"Aku akan kembali dengan semangkuk sup jadi tunggulah," balas Ara.


Dia pun bergegas keluar dari unit Zester, sebenarnya dia juga butuh udara segar.


Bukan hanya Zester yang syok tapi Ara juga tidak menyangka semua akan menjadi seperti ini.


"Kau harus tetap waras Ara," gumamnya menyemangati dirinya sendiri.


Ara masuk ke unitnya sendiri sambil menyalakan ponselnya, ada banyak pesan yang masuk.


Agam : Mbak, tidak apa-apa, 'kan?


Ayah Theo : Firasat ayah tidak enak, Agam didatangi pocong. Apa bule itu masih mengganggumu?


Terdengar gelak tawa dari mulut Ara karena membaca pesan dari ponselnya.


"Aku harus merebus daging dulu," ucap Ara sambil membuka kulkas.


Dia akan memasak sup daging dan berharap suasana hati Zester membaik. Ternyata serangan dugong hari ini membuat targetnya jadi terguncang.


Inilah pentingnya komunikasi antar anggota keluarga, Ara beruntung karena keluarganya saling terbuka. Dan benar kata Zester, tidak semuanya bisa mendapatkan keluarga sepertinya.


Beberapa jam berlalu, Ara sudah berhasil memasak sup kemudian gadis itu membawanya ke unit Zester.


Di sana sebenarnya sudah ada asisten Mike yang membawa beberapa makanan tapi Zester enggan memakannya.


"Aku tidak bernafsu makan," ucap Zester sambil menggelengkan kepalanya.


Tapi, saat melihat Ara datang suasana hatinya jadi berubah.


"Tiba-tiba aku jadi lapar," ucapnya.


Asisten Mike dan Ara saling memandang satu sama lain, mereka memaklumi Zester yang suasana hatinya tengah gundah gulana.


"Makanlah dulu," ucap Ara sambil memberikan hasil masakannya.


"Jangan manja!"


Awas saja kalau Zester memanfaatkan keadaan dan memintanya untuk menyuapinya.


"Apa begitu kelihatan?" tanya Zester.


Akhirnya lelaki itu memakan sup daging buatan Ara tapi baru beberapa suap, dia langsung teringat masalahnya.


Apalagi asisten Mike membawa dokumen perjanjian pra nikah dari Riri.


Dokumen itu ada di tangan Ara dan gadis itu membacanya dengan seksama. Sesuai dugaan isi perjanjian itu sangat menguntungkan mempelai wanita.


"Dugong itu lupa, kalau tidak ada kejahatan yang sempurna," ucap Ara yang sudah memikirkan ide untuk menjebak Riri.