
Kaizen belum mendengar rumor apapun tentang Shiren, dia berkonsentrasi penuh untuk memberikan performa terbaiknya.
Pemuda itu tidak mau menggunakan nama daddy atau opanya untuk menang. Pokoknya harus dengan usahanya sendiri supaya uang yang dia dapatkan lebih bermakna.
"Minumlah dulu, Kak," ucap Kara memberikan pemuda itu sebotol air putih.
"Thanks," Kaizen menerima botol air putih itu.
"Apa benar kak Kai akan mengungkapkan perasaan pada kak Shiren?" tanya Kara memastikan.
Kaizen menganggukkan kepalanya. "Aku tidak akan menyembunyikan perasaanku lagi supaya Shiren tidak ditembak sembarangan lagi!"
"Memangnya kak Shiren menyukai kakak?" tanya Kara memancing.
"Kalau suka, kenapa kak Shiren tidur dengan kak Nathan?"
Tentu saja Kaizen kaget mendengarnya, tidak mungkin Shiren melakukan hal semacam itu.
"Kau sedang mengigau, ya?" tanggap Kaizen. Dia mempercayai Shiren lebih dari apapun, dia tidak akan terpengaruh.
Satu persatu peserta kompetisi dipanggil sampai akhirnya nama band Kaizen mendapat giliran.
"Berikan yang terbaik, guys!" Kaizen memberikan instruksi.
Sebelum bermain, Kaizen mengambil pemetik gitarnya yang dia dapatkan dari opa gula.
"Semoga keberuntungan kali ini berpihak padaku," gumamnya.
Sekarang tergantung Kara, ingin memberikan performa terbaik atau dia sengaja membuat grup bandnya kalah.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Kara jadi bingung. Dia sudah memegang mic dan sebentar lagi musik akan dimainkan.
Beruntung Kara bersikap waras jadi gadis itu mengalah dan memberikan performa seperti saat mereka latihan sebelumnya.
Semua penonton tampak suka seraya bertepuk tangan dan para juri tidak mengalihkan pandangan mereka.
Hari itu, band Kaizen memberikan performa terbaiknya.
Ketika selesai, tanpa berpamitan Kaizen langsung meninggalkan tempat acara. Jujur saja dia memikirkan keadaan Shiren, dia harus memastikan gadis itu baik-baik saja.
Dia membuka jendela kamarnya dan memanggil Shiren dari seberang.
"Shiren... Shiren..." panggilnya.
Mendengar suara Kaizen, Shiren bergegas membuka jendela kamarnya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Kaizen.
Bukannya menjawab, Shiren justru menangis sambil mengucek matanya seperti anak kecil.
"Ayo, kita beri makan NyongNyong!" ajak Kaizen seraya berlari ke belakang rumah.
Hal sama dilakukan Shiren, gadis itu berlari bukan untuk memberi makan ikan mereka tapi karena merindukan Kaizen.
Saat sampai di jembatan penghubung, Shiren tanpa ragu berlari dan memeluk Kaizen di sana.
"Dasar cengeng!" Kaizen membalas pelukan gadis itu.
"Maafkan aku karena tidak bisa melihat kompetisi yang kau ikuti," ucap Shiren.
"Itu tidak penting," balas Kaizen. Dia tidak peduli lagi dengan hasil kompetisinya karena membuat Shiren tenang, jauh lebih penting.
Setelah Shiren benar-benar tenang, mereka duduk di pinggir kolam dan gadis itu menceritakan apa yang terjadi malam itu sebenarnya.
"Aku menyusulmu karena ingin memberikan jas hujan tapi aku mendengar dari Kara kalau kalian baru saja jadian, jadi aku meninggalkan sekolah begitu saja sampai basah. Aku ingin menghubungi papaku tapi baterai ponselku habis dan disitulah Nathan memberiku bantuan,"
"Aku terlalu terburu-buru sampai lupa membawa baju basahku, aku benar-benar tidak melakukan apapun,"
Shiren berusaha menjelaskan dan Kaizen mendengarkan dengan perasaan gusar.
"Kau percaya padaku kan, Kai?"
"Tentu saja, saat aku mendengarnya, hal pertama yang ingin aku lakukan adalah merobek mulut pembuat rumor itu!"
Kaizen akan memberi perhitungan pada Nathan, dia marah sekaligus lega karena sepertinya Shiren mempunyai perasaan yang sama dengannya.