Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 57 - Gagal Cium



Akhirnya keluarga kecil Theo ditambah anggota baru yaitu Zester makan malam di meja yang sama.


Padahal Zester sudah booking tempat untuk dinner romantis bersama Ara.


"Batalkan semua, Mike!" perintah Zester saat menghubungi asistennya.


Dia memilih makan bersama seperti ini supaya bisa lebih dekat dengan keluarga Ara.


Kalau pak kades belum memberi restu, Zester bisa mendekati bu kades dan Agam.


"Adik ipar pikirkan tawaranku tadi," ucap Zester pada Agam. Dia menawarkan pemuda itu untuk menjadi brand ambasador merk mobilnya.


"Agam itu belum cukup umur untuk membawa mobil atau mempunyai SIM, apa kau mau memberi contoh buruk pada generasi bangsa?" sahut Theo.


"Lagi pula anak laki-lakiku calon juragan sawit, dia tidak tertarik dengan dunia entertainment," lanjutnya.


"Kalau begitu ibu mertua saja, saya yakin permintaan unit mobil semakin meningkat kalau ibu mertua yang menjadi brand ambasador nya," Zester tidak akan menyerah.


"Bagaimana, ya? Aku ke kota memang akan mengikuti fashion week tapi untuk jadi BA akan aku pikirkan," balas Megan.


"Sayang..." Theo tidak suka kalau istrinya terlalu banyak bekerja. "Jangan dipikirkan tapi langsung tolak saja!"


"Jalanan di kampung tidak cocok untuk memakai mobil jenis sport!"


"Iya, aku akan di rumah ongkang-ongkang kaki saja," sahut Megan. Dia sebenarnya juga menikmati hidupnya yang sekarang.


"Nah begitu kan cantik, nanti kita kencan biar Agam tinggal sama Ara dulu," ucap Theo yang bucin tingkat dewa pada istrinya.


Zester mengamati interaksi pasangan suami istri itu, sepertinya dia akan diam-diam meminta tips menaklukkan hati pak kades dari Megan.


"Makanlah, ayah dan ibuku memang seperti itu setiap hari berasa pengantin baru," ucap Ara yang membuyarkan perhatian Zester.


"Kita nanti pasti juga seperti itu," balas Zester mulai berkhayal lagi.


"Ya ampun, aku sampai kehabisan kata-kata," Ara tidak bisa berkomentar lagi.


Mereka menikmati makan malam sampai Megan berdiri dari tempat duduknya karena sakit perut.


"Kenapa sayang?" tanya Theo.


"Perutku sakit, takut kentut di sini kan nanti bau," jawab Megan yang ingin menjauh.


"Kentut di sini saja, baunya kan seperti Lavender," pinta Theo.


"Ara, coba kau kentut, siapa tahu aku akan mencium aroma Lavender," ucap Zester pada gadis itu.


"Jangan gila!" tolak Ara mentah-mentah.


Selesai makan, Ara menarik tangan Zester untuk keluar supaya lelaki itu tidak mengacau.


"Sudah kan makan malamnya, sekarang pulang lah dan masalah dugong sudah selesai jadi aku tidak perlu magang lagi, 'kan?" Ara memperjelas tugasnya membantu sudah selesai.


"Siapa bilang sudah selesai," Zester menunjuk pangkal pahanya. "Ini kan masih mati suri dan hidup jika berada di dekatmu saja!"


Sejenak Ara jadi melupakan keadaan Zester yang impotensi.


"Kalau begitu, kita datangi Bu Sutopo lagi dan kau harus minta maaf supaya dicabut kutukan itu," usul Ara.


Zester menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Aku berubah pikiran, impoten itu jadi tidak penting lagi karena yang terpenting sekarang adalah..."


"Membuatmu jatuh cinta padaku!"


"A-- apa?" Ara jadi gelagapan apalagi Zester membuatnya tidak bisa bergerak karena tubuhnya yang dikukung di dinding.


"Aku akan pergi jika mendapat satu ciuman darimu," Zester mendekatkan wajahnya dan ingin menyambar bibir ranum Ara dengan bibirnya. Dia ingin menikmati benda kenyal itu lagi.


Bahkan ularnya ikut menyembul karena posisi mereka sangat dekat.


Bersamaan dengan itu, Theo membuka pintu apartemen karena Ara yang tak kunjung masuk lagi.


Theo merasa geram karena melihat Zester yang ingin mencium Ara apalagi dengan celana menyembul.


"Memang asuuu kau, ya. Cepat pergi!!" teriak Theo.


_


Rekomendasi Author


Judul : I'm Not Barren


Author : Kim.nana



Mampir ke karya baru Kim.nana ya ges...