Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 56 - Semakin Melilit



Zester tidak mengerti dengan kata-kata Theo jadi dia justru mengutarakan niatnya datang ke apartemen Ara.


"Saya mau mengajak Ara makan malam di luar," ucap Zester meminta izin.


"Ara tidak bisa pergi jadi lebih baik kau pulang," sahut Theo dengan ketus.


"Tapi kami sudah membuat janji kemarin," Zester tetap memaksa.


"Ara, aku sudah datang!"


Zester justru mengeraskan suaranya supaya Ara jadi notice padanya.


"Sepertinya ada yang mencarimu," tanggap Megan.


"Kapan dia akan membiarkan aku tenang sehari saja," gerutu Ara seraya berjalan ke arah pintu.


"Ayah, lebih baik mandi biar aku yang menangani bule lokal itu!"


"Dia ini pasti pocong yang dilihat Agam," Theo masih kesal karena ulah pocong yang membuat Agam jadi demam tinggi.


"Astaga, kenapa ayah mertua menyamakanku dengan makhluk halus?" Zester merasa ketampanannya memudar.


"Maksud ayahku, kau pasti diikuti oleh pocong," jelas Ara.


"Di mana pocongnya?" Zester jadi merinding dan refleks memeluk Ara yang membuat Theo semakin meradang.


Bisa-bisanya anak gadisnya dipeluk sembarangan seperti itu.


"Ehem!" Theo berdehem keras dan mencoba melepas pelukan Zester dari tubuh putrinya.


"Aku membesarkan dan menjaga putriku tidak untuk di peluk-peluk orang asing seperti ini!"


"Tapi kami adalah pasangan, ayah mertua," ucap Zester yang merasa Ara adalah miliknya. "Saya bahkan sudah memberinya tanda!"


Mendengar itu, buru-buru Ara menutup mulut Zester dengan tangannya.


"Apa kau gila?" protes Ara.


Theo melihat ke arah dua orang itu satu persatu, kemudian menyidang mereka di ruang tamu untuk menjelaskan semuanya.


"Ara, apa benar kau menjalin hubungan dengan bule itu? Kan waktu itu sudah ayah bilang kalau ayah tidak suka," ucap Theo pada putrinya.


"Bukan begitu, Ayah. Kami menjadi dekat karena ada sesuatu hal yang harus kami urus," sahut Ara.


"Apa itu? Coba katakan!" Theo menuntut jawaban pasti.


"Jadi begini..." Zester yang akhirnya bercerita mengenai hubungan mereka. "Tiga belas tahun lalu saya tenggelam dan Ara yang menolong saya tapi ada perempuan yang mengaku-ngaku sebagai penolong, hampir saja saya akan menikahi orang yang salah!"


"Ternyata Ara adalah jodoh saya karena waktu itu saya sudah membuat janji akan menikahinya!"


Pupil mata Theo membesar mendengar hal konyol. Anak gadisnya akan dinikahi karena janji seperti itu.


"Ara berhak menentukan jodohnya sendiri jadi jangan seenaknya mau menikahinya hanya karena didasari oleh janji," Theo memberi peringatan keras.


Megan ikut bergabung dan mencoba membuat suasana tidak tegang.


"Ayah, jangan emosi nanti tekanan darahmu naik lebih baik kita semua makan dulu nanti keburu makanannya dingin," ucap Megan sambil mengelus dada suaminya.


"Kau lihat mereka kan sayang, aku tidak suka anak gadisku berakhir menyedihkan seperti itu," balas Theo yang masih tidak terima.


"Saya pasti akan membahagiakan Ara, saya berjanji," ucap Zester bersungguh-sungguh.


"Apa kau tidak memikirkan masa depan kalian nanti?" tanya Theo.


"Tentu saja sudah, saya bahkan sudah menghitung umur ideal saat menjadi daddy," jawab Zester.


"Astaga, cucuku akan mempunyai nama melilit lidah, aku tidak mau nanti aku seperti orang stroke saat memanggil nama cucuku," Theo masih menolak keras mempunyai menantu bule itu.


Ara lagi-lagi menepuk jidatnya karena keadaan semakin rumit karena Zester yang dimabuk cinta sementara pak kades tidak mau mempunyai menantu bule yang melilit lidah.


Apalagi kalau pak kades tahu apa saja yang telah Zester lakukan selama ini pasti Theo akan semakin menentang hubungan mereka.


"Apa kita backstreet saja?" bisik Zester memberi usul.