
Ara melihat tanda yang dibuat Zester di lehernya, bisa-bisanya lelaki itu membuat tanda sungguhan. Dia sudah berada di kantor Zester dan tengah berada di toilet untuk menghilangkan tanda dari lipstik.
"Satu, dua, tiga," Ara menghitung tanda yang dibuat Zester itu.
"Dasar mesum!"
Tapi, kenapa dia tidak berdaya? Padahal bisa saja Ara menendang ular lelaki itu tapi dia masih memikirkan keadaan ular yang baru sembuh setelah direparasi.
Ternyata menjadi orang tidak enakan itu cukup menyiksa.
Walaupun begitu, hati kecil Ara tersenyum kecil karena dia mulai merasakan debaran itu.
Mungkin karena terlalu banyak melakukan skinship dengan Zester, dia harus memastikan perasaannya dulu.
Pada saat itu, dua karyawan perempuan masuk ke toilet yang sama. Mereka langsung menatap sinis ke arah Ara.
"Baru kali ini aku melihat ada perempuan yang tidak mempunyai urat malu,"
"Iya, itu menandakan seberapa rendah dirinya,"
Tentu saja itu adalah sindiran untuk Ara dan kesempatan itu akan digunakan Ara sebaik mungkin.
Ara membuka dua kancing atas kemejanya supaya jejak merah di lehernya terlihat jelas.
"Aku harus kembali, pak direktur pasti membutuhkan aku lagi," ucap Ara seraya berlalu pergi.
Saat masuk ke dalam lift, Ara memperbaiki penampilannya lagi.
"Setelah semua ini selesai, aku harus pergi dari perusahaan ini dan fokus kuliah," gumam Ara.
Siapa bilang dia tidak malu, justru dia sangat malu. Apalagi ada beberapa karyawan kantor yang mengenal kalau dirinya adalah anak Megan dan Theo.
Dia harus segera menyelesaikan semua ini sebelum orang tuanya tahu. Apalagi Agam dan ayahnya sudah mulai mencemaskan keadaannya.
Ketika sampai di lantai direktur, Ara langsung masuk ke ruangannya.
"Apa ini yang harus aku kerjakan?" tanya Ara pada asisten Mike. Ada beberapa dokumen di mejanya.
"Akhirnya ada yang mengerti posisiku," balas Ara merasa lega karena dia adalah karyawan gadungan.
"Oh iya, aku tadi memancing lambe turah itu," lanjutnya.
"Baiklah, sebenarnya aku sudah menemukan orangnya jadi kita hanya perlu mengawasi gerak-geriknya," ucap asisten Mike.
Sekarang hubungan kedua orang tua itu sudah. tidak formal lagi karena Ara yang memintanya.
"Oh iya, di mana pak direktur?" tanya Ara ingin tahu.
"Tuan Zester ada di ruangannya, dia ingin pekerjaan yang banyak supaya tidak memikirkan hal lain katanya," jawab asisten Mike.
Hal lain itu pasti kejadian pagi ini, Ara sudah menduganya dan dia tidak boleh kecolongan lagi.
Padahal Zester justru sudah memikirkan hubungan mereka kedepannya.
"Kalau dihitung, Ara dua tahun lagi lulus kuliah, saat itu usiaku sudah tiga puluh dua, kalau Ara masih mau menunda pernikahan sampai umurnya dua puluh lima maka tambah tiga tahun lagi aku menunggunya," gumam Zester.
Lelaki itu sudah berusaha fokus pada pekerjaan tapi malah memikirkan hal lain.
"Umur tiga puluh lima menikah, kalau Ara langsung hamil berarti saat anak kita usia sepuluh tahun umurku masih empat puluh lima,"
"Tidak terlalu tua, bukan?"
"Tapi, bagaimana kalau Ara tidak mau mempunyai anak cepat?"
Zester jadi frustasi sendiri memikirkan hal yang belum tentu terjadi.
"Sebelum itu, aku harus meluluhkan hati pak kades, aku harus menunjukkan bahwa mempunyai menantu bule itu tidak buruk," lanjut Zester.
Tapi, jika mengingat jarak umur mereka Zester kembali frustasi.
"Bagaimana kalau pak kades tetap awet muda sementara aku terus menua?"
Sejenak masalahnya dengan Riri tergantikan dengan masalah yang lebih menantang.