
Malam itu, Zester tidak bisa tidur karena jantungnya terus berdebar apalagi suara musik di rumah pak kades sayup-sayup terdengar di telinganya.
Ini bukan mimpi, dia akan segera menikah.
"Ara..." gumamnya seraya melihat cincin di jemarinya. Dia sangat merindukan calon istrinya itu.
"Setelah semua ini selesai, aku akan membawamu kabur dan kita bisa menghabiskan waktu berdua!"
Membayangkan saja sudah membuat Zester senang bukan main.
Sama halnya dengan Ara yang juga tidak bisa tidur, malam ini adalah malam terakhirnya menjadi seorang gadis, besok dia sudah menjadi seorang istri.
"Aku harus tidur karena besok pasti melelahkan," gumam Ara.
Benar saja dari pagi make up artist sudah datang untuk memoles wajah pengantin dan anggota keluarga lainnya.
Sesuai permintaan Ara, wajahnya di make up dengan sentuhan flowless supaya tidak menor seperti pengantin kebanyakan.
"Sangat cantik," komentar make up artist itu.
Jantung Ara semakin berdegup kencang karena waktu terus berlalu dan para tamu undangan sudah mulai berdatangan.
Di sisi lain, Rebecca dan Mike sudah sampai dari beberapa jam yang lalu. Dari pihak pengantin pria juga tengah mempersiapkan diri.
"Kalau bisa acaranya jangan lama-lama, Mom," ucap Zester yang tidak mau acaranya sampai malam.
"Kita harus mengikuti pak kades jadi mommy tidak bisa berbuat banyak," balas Rebecca.
"Aku dengar beberapa biduan dangdut akan memeriahkan pesta," timpal Mike.
"Jadi kau akan ikut menyawer?" Rebecca tidak suka mendengarnya.
"Tentu saja tidak tapi aku sudah menyiapkan uang cash untuk para pengawal, biar mereka bersenang-senang hari ini," jawab Mike.
Kapan lagi mereka akan bisa menyawer biduan dangdut, tentu saja para pengawal menerimanya dengan suka cita.
Ketika acara janji suci akan dimulai, Zester mendatangi kediaman keluarga pak kades dengan banyak membawa barang untuk Ara.
Semua sudah tidak sabar menanti pengantin sah menjadi suami istri.
Theo dan Megan menyambut kedatangan keluarga mempelai pria.
Mata Zester tidak lepas sedari tadi memandangi Ara yang kecantikannya bertambah berkali lipat hari ini.
Saat mereka sudah sah menjadi suami istri, Zester mengecup kening Ara yang kini statusnya sudah menjadi istrinya.
"Akhirnya," bisik Zester.
"Rasanya aku ingin menculikmu, Yank!"
Ara tidak menjawab apapun karena malu, dia hanya bisa mengulum senyumnya.
Setelah acara janji suci diteruskan dengan acara resepsi yang membuat Ara dan Zester harus menyalami semua tamu undangan yang datang.
"Dari tadi tamunya kok tidak habis-habis," Zester kembali protes.
"Namanya ayahku kades, selain satu kampung, kampung sebelah juga diundang," jelas Ara.
"Belum teman-teman artis ayah, mungkin itu saat pesta di kota nanti!"
"Kalau tahu begini, aku mau pesta pernikahan yang sederhana saja," gerutu Zester yang ingin semua cepat selesai.
"Tapi kan pesta seperti ini akan terjadi sekali seumur hidup," balas Ara.
Bukan masalah itu, Zester sudah tidak sabar berduaan dengan istrinya.
"Kalau begitu nanti malam, kau harus mempersiapkan diri, Yank," goda Zester.
"Jadi, mulai malam ini kita tidur bersama, ya?" Ara jadi malu. Membayangkan saja membuatnya salah tingkah.
"Iya tidur bersama dan melakukan kegiatan lainnya," Zester mendekat dan berbisik di telinga Ara. "Kau tidak penasaran dibalik celanaku yang suka menyembul?"
"Astaga, ular yang pemilih," batin Ara semakin malu. Akhirnya dia akan melihat benda panjang itu.
_
Kalo udah ngikutin othor lama pasti tahu kalo setiap adegan wedding pasti othor skip, pokoknya sah ajaš¤
Othor tetap mau buat ceritanya universal ya, hehe