Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 65 - Modus!!



Seketika wajah Ara jadi merona mendengar pernyataan Zester. Lelaki itu pasti kesambet sesuatu sebelum datang menemuinya karena Zester tidak berkata cabul seperti biasanya.


"Aku ingin memulai hubungan kita dari awal terlepas dari janji yang pernah aku buat," ucap Zester lagi.


Ara semakin berdebar yang membuatnya jadi salah tingkah, lagi-lagi Zester bersimpuh di depannya seperti itu.


"Berdirilah," pinta Ara.


"Aku tidak mau berdiri kalau kau belum memberi jawaban," ucap Zester yang masih dengan posisinya.


"Aku harus menjawab apa?" Ara jadi bingung.


"Bilang saja iya," Zester agak memaksa.


"Iya, iya," Ara langsung menjawab seperti itu karena merasa tidak nyaman dengan laki-laki yang berlutut di depannya.


Mendengar jawaban yang memuaskan, Zester berdiri, dia ingin memeluk dan mencium Ara tapi coba dia tahan.


Sebelumnya Zester begitu gugup, asisten Mike sampai dibuat pusing karena harus mencarikan referensi laki-laki biasa yang normal.


Rupanya sikap baru Zester membuat Ara geli sekaligus tersentuh.


"Besok aku mengosongkan jadwalku jadi aku akan menjemputmu, kita akan pergi ke suatu tempat," ucap Zester mencoba mencairkan suasana.


"Pergi ke mana?" tanya Ara.


"Pokoknya tenang saja, aku tidak akan berbuat cabul lagi," Zester berjanji supaya Ara mau ikut dengannya.


"Jemput aku setelah jam makan siang di kampus," Ara setuju.


Saking senangnya, Zester ingin melompatkan tubuhnya tapi lagi-lagi dia harus menahannya. Baru kali ini dia merasa jatuh cinta sungguhan pada seorang gadis, walaupun masa pubernya sudah lewat tapi Zester merasa kembali muda.


"Mungkin ini yang dirasakan pak kades, puber setiap hari," batin Zester.


Keesokan harinya, Zester benar-benar menjemput Ara setelah jam makan siang.


Seperti semalam, Zester berpakaian casual supaya terlihat santai dan yang paling penting supaya bisa mengimbangi Ara.


"Ayo masuk!" Zester membukakan pintu mobil saat gadis itu menghampirinya.


Ara masuk dan tidak bertanya kemana mereka akan pergi biar menjadi surprise.


Setelah beberapa jam berlalu, ternyata Zester membawa Ara ke tempat pemandian air panas.


"Aku sudah booking tempatnya jadi hanya ada kita berdua," jawab Zester.


"Jadi ini yang kau sebut normal?" tanya Ara lagi.


"Sebenarnya aku ingin membawamu ke pantai tapi aku masih belum bisa mengatasi serangan panik ketika melihat lautan jadi sebagai gantinya aku membawamu kemari," jelas Zester.


Sudah terlanjur, Ara tidak mungkin menolak jadi dia mengikuti saja Zester yang masuk ke pemandian air panas itu.


"Sepertinya kau memang suka melihatku mandi, ya," komentar Ara saat mendapat satu set baju ganti.


"Tidak juga," balas Zester.


"Tidak juga berarti iya," ketus Ara.


Mau tidak mau Ara berganti baju untuk masuk ke kolam pemandian air panas.


Ara memilih kolam yang paling luas supaya Zester tidak bisa macam-macam.


"Rasanya lumayan," ucap Ara seraya menyenderkan kepalanya di pinggiran kolam.


"Jangan sampai tertidur," tegur Zester yang melihat Ara begitu nyaman sampai memejamkan matanya.


Lelaki itu datang dengan hanya memakai celana pendek saja.


Ara sengaja tidak mau membuka mata supaya tidak melihat bentuk tubuh Zester.


"Ara..." panggil Zester.


"Kau tidak tidur, 'kan?"


"Tidak, masuk saja ke kolam dan berendamlah dengan tenang," jawab Ara supaya Zester tidak terus bertanya.


Tak lama Ara mendengar suara seperti ada orang terjebur ke kolam, refleks dia membuka mata dan mendapati Zester seperti mau tenggelam.


"Kalau tidak bisa berenang, kenapa membawaku ke tempat seperti ini. Lagi pula ini airnya dangkal!!" Ara maju dan mencoba membantu Zester untuk menepi ke pinggir kolam.


"Kau menyelamatkan aku untuk kedua kalinya," ucap Zester setelah berhasil menepi.


"Sebagai imbalan, aku akan menyerahkan diriku padamu, kau harus menjagaku dengan baik, Ara!"