
Zester pada saat itu, baru saja keluar dari ruangan rapat dengan perasaan tidak enak.
"Pak direktur," panggil Clarisa seraya berlari mendekati lelaki itu. "Istri anda..."
"Kenapa dengan istriku?" tanya Zester gusar.
"Nona Ara mau melahirkan!" jawab Clarisa.
Tanpa babibu lagi, Zester meninggalkan perusahaan begitu saja. Terjawab sudah perasaan tidak enak yang melandanya sedari tadi.
Padahal perkiraan masih seminggu lagi tapi ternyata anaknya ingin keluar lebih cepat.
Ketika Zester sampai bersamaan dengan Zein yang baru datang.
"Ternyata anak kita memang berjodoh, Zee! Buktinya minta keluar bersama," celetuk Zein.
Sempat-sempatnya lelaki itu masih memikirkan hal seperti itu disituasi genting.
"Buang pikiran itu sekarang juga!" kesal Zester.
Pada saat itu, semua keluarga sudah berkumpul di depan ruangan bersalin.
Di dalam, Ara merasakan sakit luar biasa, dia ingin Zester ada di sampingnya.
"Aku ingin suamiku," pinta Ara.
"Saya akan keluar untuk mencari suami anda," ucap salah satu perawat. Dipikiran perawat itu pasti suami Ara yang paling terlihat muda.
Di depan ruang bersalin, perawat itu melihat ada Mike dan Zester, pasti bukan mereka. Jadi, sang perawat memanggil Theo yang sedari tadi mondar-mandir.
"Tuan, istri anda butuh dukungan dari anda," ucap perawat itu.
"Maksudnya pasien atas nama Namira?" tanya Theo.
"Benar," jawab perawat itu seraya mempersilahkan masuk.
Tiba-tiba Zester menyela keduanya dengan kesal.
"Suaminya itu saya," ucap Zester.
Perawat itu tampak terkejut karena ternyata selera Ara adalah om-om.
"Yang ini mertua saya," Zester menunjuk ke arah Theo.
"Silsilah keluarganya sangat unik, ya," komentar perawat itu.
Karena sudah berpengalaman mendampingi bu Ismail waktu itu, Zester sudah kuat mental. Hanya saja dia menyempatkan diri untuk memakai pomade ke rambutnya supaya dia tidak acak-acakan saat dijambak Ara nanti.
"Jangan sampai orang salah lagi, aku ini suaminya Ara," gumam Zester di depan kaca.
"Zee..." panggil Ara karena suaminya begitu lama.
"Iya, Yank..." Zester segera mendekati istrinya. "Sudah siap, mau dijambak, silahkan!"
"Siapa yang mau jambak!" Ara jadi kesal karena suaminya banyak tingkah disaat dia kesakitan. Sasarannya bukan rambut tapi tangan Zester yang terkena gigitan Ara ketika mengejan.
"Terus, Yank! Terus..." Zester menahan nyeri di tangannya. Dia rela tangannya jadi sasaran asal bisa mengurangi rasa sakit.
Tak lama gigitan Ara melemah sepertinya perempuan itu kehabisan tenaga.
"Yank..." Zester jadi panik sambil mengusap wajah istrinya supaya tetap sadar.
"Zee, sepertinya aku tidak kuat lagi, bayinya tidak mau keluar!" keluh Ara.
Bukan tidak mau keluar hanya saja berat bayi bisa dikategorikan besar, Ara jadi kewalahan melahirkannya.
Dokter membantu dengan memasang alat vacum dan Ara kembali mengumpulkan tenaganya.
Pasti karena kebanyakan vitamin dari sang daddy, baby K jadi gembul dalam kandungan.
"Sebentar lagi!"
Ara mengeluarkan sisa-sisa tenaganya dan langsung terdengar tangis bayi di sana.
Sekarang perawat yang membantu proses melahirkan percaya kalau bayi itu anak Zester, karena wajahnya yang bule dengan mata hazel.
"Beratnya 4kg pantas saja ibunya sampai hampir pingsan," dokter memberikan bayi itu pada Zester.
Zester menerima bayinya dengan mata berkaca-kaca, ternyata hasil lilitan ularnya sungguh menakjubkan.
"Selamat datang anak daddy, Kaizen Schweinsteiger!"
_
100℅ gen daddy bule