
"Gay?" tanya Ara dan Clarisa bersamaan. Mereka tidak percaya dengan jawaban Zester itu.
"Kau pasti bercanda," Ara masih menyangkal.
"Aku pernah beberapa kali memintanya melakukan kencan buta tapi dia tidak mau, saat ada perempuan cantik yang mendekatinya dia juga menolak, mulai dari situ aku menyimpulkan kalau Mike itu gay," jelas Zester sudah yang sudah lama mengenal sang asisten.
"Itu kan baru asumsi sepihak, kita harus membantu asisten Mike mendapatkan cintanya," usul Ara.
"Ck!" Zester berdecak karena Ara mau ikut campur urusan pribadi orang lain. "Itu bukan urusan kita!"
Zester mengibas-ngibaskan tangannya meminta Clarisa pergi.
Sekretaris itu pun langsung undur diri tanpa banyak kata.
"Tapi asisten Mike banyak berjasa, dia yang selama ini membantumu apalagi menjadi pelopor pertemuan kita, anggap saja ini sebagai balas budi," Ara masih memaksa sang kekasih.
Zester menghela nafasnya, bukan gayanya untuk mengurusi urusan orang lain seperti ini walaupun urusan orang terdekatnya.
"Kalau Mike terbukti gay, bagaimana?" tanya Zester kemudian.
"Ya, kita mundur. Aku bukan pendukung kaum pelangi," jawab Ara.
"Maka dari itu, aku tidak tertarik," Zester sama sekali tidak ada niat menjadi mak comblang asistennya itu.
Namun, keesokan harinya Zester mendengar kabar kalau asisten Mike sakit dan izin cuti secara mendadak.
"Apa Mike gila!" kesal Zester karena semua pekerjaan jadi kacau.
Akhirnya Zester terpaksa pergi ke kantor untuk membereskan urusan yang terbengkalai, keadaan sekretariat jadi sibuk karena asisten Mike cuti tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Reschedule semuanya, aku akan melihat keadaan Mike!" Zester berbicara pada Clarisa sebelum pergi.
"Baik, Pak Direktur," jawab Clarisa.
Zester mengendarai mobil sendirian, punggungnya masih nyeri tapi dia masih bisa menahannya.
Lelaki itu pergi ke apartemen Mike yang jarang dia kunjungi.
Tak lama pintu dibuka oleh Mike sendiri dengan wajah kusutnya. Wajah lelaki itu benar-benar berantakan, tidak rapi seperti biasanya.
"Kau sakit apa?" tanya Zester tanpa basa-basi.
Asisten Mike mempersilahkan Zester masuk dulu kemudian dia kembali tengkurap di sofa ruang tamunya.
"Saya tidak bisa bekerja dalam keadaan seperti ini jadi tolong beri saya waktu untuk cuti, saya selama ini jarang mengambil waktu libur," ucap asisten Mike yang tatapan matanya kosong.
Selama mengenal asistennya itu, baru pertama kali ini Zester melihat Mike dalam titik terendahnya seperti itu.
"Apa ini karena patah hati?" tanya Zester kemudian.
"Lebih daripada itu, saya baru saja menyerahkan keperjakaan saja pada orang yang selama ini saya cintai lalu saya dicampakkan," jawab Asisten Mike mendramatisir keadaan.
"Jadi, kau baru saja kehilangan masa perjakamu?" tanya Zester memperjelas.
Asisten Mike menganggukkan kepalanya. Dia mengingat percintaannya dengan Rebecca. Setelah mereka berhubungan intim, perempuan itu mengusirnya.
Hatinya sungguh hancur, dia kira Rebecca akan terpuaskan lalu menerima cintanya ternyata hasilnya tetap nihil. Sekarang Mike harus menerima kenyataan bahwa dia harus melupakan ibu kandung Zester itu.
"Ck! Ck!" Zester sampai geleng kepala dibuatnya. "Ternyata kehilangan perjaka bisa membuat jadi sekarat begini!"
_
Rebecca
Pake Sophia Latjuba, ini umur aslinya 52 tahun ya terus asli orang Jerman juga, pas untuk visual Rebecca.
Asisten Mike, perjaka karatan yang terpotek hatinya!
Ini kaya pak kades dan bu kades versi bule𤣠Tunggu mereka nanti rebutan cucu yakš¤