
Selama masa pemulihan, Zester melakukan pekerjaannya di apartemen. Dokter yang merawatnya juga datang ke hunian lelaki itu.
Asisten Mike yang dibuat kewalahan karena harus bolak balik seperti gasing.
"Antar ini ke apartemen tuan Zester, sementara aku akan pergi ke mansion nyonya Rebecca," ucap asisten Mike pada sekretaris yang membantunya.
"Baiklah," balas sekretaris yang bernama Clarisa itu.
"Aku sudah berbicara pada tuan Zester, nanti kau pencet bel saja dan taruh berkasnya di depan pintu," tambah asisten Mike.
"Kenapa harus begitu?" tanya Clarisa bingung.
"Tuan Zester itu tipe laki-laki setia jadi dia tidak mau membuat kekasihnya salah paham," jelas asisten Mike supaya Clarisa mengerti.
"Ternyata pak direktur memang tipe setia, jadi rumor selingkuh itu memang tidak benar, 'kan?" Clarisa yang tidak terlalu mengikuti gosip jadi tidak tahu perkembangan.
"Kau masih percaya rumor itu setelah melihat berita tentang Riri?" tanya asisten Mike tak habis pikir.
Clarisa menggaruk kepalanya tidak gatal, perempuan itu kemudian mendekati asisten Mike sambil mengambil berkas yang harus dia bawa.
"Kalau asisten Mike tipe laki-laki yang bagaimana?" tanyanya.
"Aku tipe laki-laki yang hanya jatuh cinta sekali seumur hidup," jawab lelaki itu.
"Wah, beruntung sekali perempuan itu. Apa sudah ada yang menempati posisi itu?" tanya Clarisa semakin penasaran.
"Tentu saja sudah ada, aku menunggunya sampai mau menerimaku," Asisten Mike jadi curhat.
"Apa dia bodoh? Kenapa tidak mau menerima laki-laki seperti asisten Mike?" cecar Clarisa yang ingin tahu lebih dalam.
"Dilarang kepo!" Asisten Mike berlalu pergi meninggalkan Clarisa sendirian.
Lelaki berusia empat puluh tahunan itu menuju mansion Schweinsteiger untuk menemui Rebecca.
Pada saat itu, Rebecca tengah merangkai bunga dengan tenang di taman mansion.
"Suruh dia kemari," tanggap Rebecca.
Asisten Mike langsung menuju taman dan berdiri di hadapan perempuan itu yang di halangi sebuah meja.
"Bagaimana keadaan Zee?" tanya Rebecca tanpa memandang lelaki itu.
"Keadaan tuan Zester berangsur membaik, hanya butuh waktu untuk benar-benar pulih," jawab asisten Mike. Dia memberikan dokumen yang dibawanya dan meletakkan di meja. "Saya membawa dokumen penting yang harus diperiksa!"
"Nanti aku akan mengeceknya, kau boleh pergi," Rebecca setengah mengusir.
"Bisakah anda memandang wajah saya?" pinta asisten Mike.
"Tidak mau!" tolak Rebecca yang masih fokus pada bunganya. "Lain kali, biar salah satu pengawalku yang mengambil dokumen jadi kau tidak perlu kemari!"
"Tapi, aku merindukanmu, Becca. Apa kau benar-benar tidak mau memandangku?" Asisten Mike menghilangkan sopan santunnya karena kehabisan kesabaran.
Rebecca menghentikan pekerjaannya dan memandangi lelaki yang selama ini menyukainya itu.
"Kenapa kau selalu bersikap seperti ini? Kau itu seharusnya sudah menikah dan punya anak tapi malah mengharapkan cintaku,"
"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, aku menolakmu jadi lebih baik kau melupakan aku,"
Rebecca menolak asisten anaknya itu dengan tegas, sebenarnya ini sudah untuk kesekian kalinya.
"Kalau begitu, tolong ambil perjakaku, setelah itu aku akan pergi dan melupakanmu," pinta Asisten Mike yang terdengar putus asa.
"Apa aku tidak salah dengar? Permintaanmu sungguh gila," Rebecca masih menolak.
"Hanya sekali saja, aku selama ini selalu menunggumu, anggap ini sebagai balasannya," Asisten Mike memelas.
"Baiklah, kalau itu yang kau mau tapi setelah itu kau harus benar-benar melupakan aku," Rebecca akhirnya setuju.