
Ara melihat pemandangan puncak dari balkon kamar villa yang ditempatinya. Pemandangannya tidak jauh beda seperti di kampung Suka Maju.
Hanya saja di sana lebih berkabut dan dingin karena ada di dataran tinggi.
"Kita bisa berjalan-jalan ke kebun teh, Yank," ucap Zester yang membuyarkan lamunan Ara.
"Aku jadi rindu kampungku, Zee," balas Ara seraya mendekati suaminya.
Zester tampak sibuk membongkar koper karena ingin mencari baju tebal supaya Ara tidak kedinginan.
"Kita bisa ke sana saat bayi kita sudah lahir, Yank," ucap Zester lagi.
Ara merasakan bayinya tidak terlalu menendang seperti sebelumnya, sekarang dia tahu bagaimana rasanya hamil itu.
Ternyata memang tidak mudah seperti yang dibayangkan.
"Apa kau lelah, Yank?" tanya Zester jadi cemas. Inilah alasan kenapa dia tidak membawa istrinya pergi jauh karena Ara tampak kewalahan, dia jadi tidak tega.
Padahal Ara happy hanya saja dia mudah lelah sekarang.
"Bayi kita lebih tenang di sini," Ara mengusap-usap perutnya.
Setiap melihat perut Ara yang membesar, Zester selalu merasa bersalah. Dia sudah merusak tubuh istrinya untuk mengandung anaknya.
"Kenapa? Jangan berpikir macam-macam, aku happy, Zee," ucap Ara yang peka.
Zester pasti selalu overthinking duluan.
Akhirnya mereka berjalan-jalan ke kebun teh dan menikmati suasana puncak selama beberapa hari.
"Apa tidak berat?" tanya Ara. Saat ini dia tengah duduk di paha suaminya.
Keduanya duduk di sebuah kursi ayunan sambil menikmati embun pagi.
"Tentu saja tidak," jawab Zester.
Lelaki itu mengelus rambut Ara yang semakin memanjang, dengan posisi itu wajah mereka begitu dekat.
"I love you," ucap Zester seraya mengecup bibir istrinya.
Setiap hari Zester selalu merasa jatuh cinta pada istrinya.
Ara tidak langsung menjawab tapi membalas ciuman suaminya seraya menggigit bibir atasnya. "Kau ingin jawaban apa dariku?"
Ternyata benar apa yang dikatakan Zester dulu, kalau ingin memulai rumah tangga, mereka harus bahagia dulu.
Sekarang kebahagiaan itu akan terasa lengkap dengan kehadiran bayi diantara mereka.
Ketika menjelang kelahiran, semua keluarga begitu sibuk untuk mempersiapkan keperluan anggota baru keluarga.
Bahkan Rebecca dan Megan sampai menginap karena ingin selalu ada di samping Ara. Mereka tahu tidak mudah untuk melahirkan, apalagi ini pengalaman pertama Ara.
"Kalau terlalu khawatir nanti justru akan susah melahirkan," ucap Ara memberi pengertian kalau dia baik-baik saja.
"Ara tidak takut, 'kan?" tanya Megan cemas.
"Sedikit saja," jawab Ara.
"Nah kan, yang sedikit itu butuh pendampingan," timpal Rebecca.
Berbeda dengan tetangga sebelah, yang hanya berdua saja. Apalagi Zein sering mengurus pekerjaan di luar yang membuat Farah sendirian di rumah.
Taman bunga dan kolam ikan yang dibuat oleh Zein dan Zester sudah jadi, kadang perempuan itu menghibur diri di sana.
Seperti saat ini, Farah tengah memberi makan ikan di kolam.
Namun, perutnya terus saja mulas dari pagi.
"Apa ini kontraksi palsu lagi?" gumam Farah. Dia memegangi pinggangnya dan ingin berjalan masuk rumah.
Rupanya hal itu kepergok oleh Megan.
"Kau kenapa, Nak?" tanya Megan seraya mendekat.
Ketika Megan mendekat, dia melihat air keluar dari sela-sela paha Farah yang memakai daster.
"Ya ampun, sepertinya air ketubannya sudah merembes," Megan jadi panik. Dia segera meminta bantuan pada para pengawal besannya yang siap siaga.
"Ayo cepat!"
Ara jadi ikut panik yang membuat perutnya juga mengalami kontraksi.
"Ibu, sepertinya aku juga mau melahirkan," ucap Ara.
"Astaga, astaga," Megan dan Rebecca jadi semakin panik. Keadaan jadi begitu hektik sekali.