
Sadar jika kondisi indera penciumannya berubah, Ara memakai masker sampai tiga lapis sekaligus supaya tidak mencium bau bawang dari suaminya.
"Mungkin dengan begini akan mengurangi baunya," ucap Ara seraya menepuk sisi ranjang kosong di sampingnya.
Zester yang menjauh, perlahan mendekat tapi percuma saja kalau dia tidak bisa mencium Ara.
Malam ini, lelaki itu hanya bisa memeluk istrinya.
Namun, Zester belum bisa memejamkan matanya karena merasa Ara tidak nyaman dengan tidurnya yang memakai masker.
Jadi dia harus mengalah, Zester perlahan melepas masker istrinya kemudian keluar kamar untuk tidur di sofa luar.
Sebelum tidur, Zester menyempatkan diri untuk menghubungi Megan.
"Apa ada masalah?" tanya Megan. Tidak biasanya menantunya menghubunginya selarut itu.
"Tidak ada, ibu mertua. Hanya bertanya saja, apa Ara pernah mempunyai masalah dengan indera penciumannya?" Zester menanyakan hal yang sangat mengganggunya.
"Memangnya apa yang terjadi pada Ara? Kenapa bertanya seperti itu?" Megan jadi cemas. Dia takut ada sesuatu yang terjadi pada putrinya.
"Begini, hari ini Ara sangat aneh karena katanya aku bau bawang padahal parfumku kan harganya mahal, limited edition lagi. Aku juga sudah mandi berkali-kali dan menggosok tubuhku tapi tetap saja katanya bau bawang..."
"Maafkan aku, ibu mertua. Malam ini aku tidak bisa membuat cucu!"
Zester bercerita dan mengungkapkan rasa penyesalannya yang mendalam.
Mendengar itu, Megan tertawa dalam hatinya, dia sudah terbiasa dengan menantunya yang suka gila. Zester pasti frustasi karena tidak bisa menyentuh Ara.
"Iya tidak apa-apa, tunggu kami datang dan menginap di rumah baru kalian," ucap Megan. Dia berusaha menahan tawa dan langsung menutup panggilan.
"Hahaha..."
Megan tertawa terbahak-bahak setelah panggilan terputus.
"Kenapa sayang?" tanya Theo. Dia yang baru masuk kamar jadi bingung melihat istrinya yang tertawa sampai seperti itu.
"Apa dia membuat ulah lagi?" tanya Theo ingin tahu.
"Masak dia absen tidak buat cucu harus minta maaf padaku," ungkap Megan.
Theo berdecak sebal. "Memang gila, awas saja kalau bertemu nanti!"
"Sudahlah," Megan mendekati suaminya kemudian memeluk Theo. "Sepertinya akan ada anggota baru di keluarga kita!"
"Anggota baru?" tanya Theo.
"Ara sepertinya hamil, kita akan menjadi nenek dan kakek," ucap Megan.
Mata Theo membulat mendengarnya, anak lato-latonya hamil bibit bule?
Dia sampai tidak bisa berkata-kata, Theo membalas pelukan istrinya dengan erat.
"Orang-orang pasti nanti akan berfikir kalau anak Ara adalah anak kita," ucap Megan.
"Kenapa berbicara seperti itu sayang?" Theo tidak suka mendengarnya.
"Kau kan masih muda, saat menggendong cucu mana ada orang yang akan percaya, apalagi saat berkumpul dengan menantu dan besanmu. Kau terlihat lebih muda dari mereka," jawab Megan jujur. Memang wajah baby face Theo mampu mengalahkan ketampanan Zester dan Mike.
"Jadi, kau merasa tua lagi?" Theo menarik kesimpulan. "Walaupun istriku dilahirkan sepuluh tahun lebih awal dariku tapi aku selalu berharap kita akan menghembuskan nafas terakhir bersama!"
"Kau sampai membuat permohonan seperti itu?" Megan selalu merasa dicintai dan jatuh cinta pada suaminya setiap hari.
"Hanya itu yang aku minta," Theo mengecup bibir istrinya. "Jadi, apa kita harus mempercepat pergi ke kota?"
"Aku takut cucu kita kenapa-kenapa!"
Theo masih tidak percaya dengan ular Zester yang baperan dan tidak tahu waktu itu.