
Rendy merasa tidak suka dengan sikap Zester yang tiba-tiba bertindak sesuka hatinya, seolah lelaki itu adalah kekasih Ara.
"Maaf Tuan, tapi saya akan mengantar Ara pulang," ucap Rendy seraya mengambil helmnya kembali.
Dia mencoba membantu Ara memakai helm itu tapi Zester lagi-lagi menghentikan dirinya.
"Ara akan pulang bersamaku dan jangan panggil aku tuan, aku bukan tuanmu," Zester kembali merebut helm yang akan dipakai Ara.
"Anda datang tiba-tiba padahal saya duluan yang akan mengantar Ara," protes Rendy.
Ara jadi bingung sendiri dengan dua lelaki yang berebutan dirinya, apalagi sekarang mereka satu-satu memegang tangannya dan menariknya seperti tarik tambang.
Badan Ara terhuyung kesana kemari, akhirnya kesabaran gadis itu sudah habis.
"Stop!" teriak Ara.
Zester dan Rendy melepas tangan Ara secara bersamaan tapi masih tidak ada yang mau mengalah satu sama lain.
"Ara, kau tidak pacaran dengan om-om, 'kan?" tanya Rendy.
"Enak saja om-om, aku itu masih muda. Kau tidak lihat wajahku ini," timpal Zester yang tidak mau dibilang tua.
"Tapi, Ara pasti suka yang lokal," Rendy tidak mau kalah.
"Aku juga lokal, aku suka ikan kurang gizi yang dimasak ibu mertua," balas Zester lagi.
"Ibu mertua?" tanya Rendy semakin tidak mengerti karena Zester yang seolah sudah menjadi menantu pak kades.
Ara jadi malu sendiri karena mereka jadi pusat perhatian di parkiran.
"Lebih baik aku pulang sendiri saja," ucap Ara buru-buru pergi meninggalkan dua lelaki itu.
"Ara!!" Rendy dan Zester bersamaan memanggil gadis itu.
Namun, Ara sudah berlari menjauh kalau mereka kejar pasti mengalahkan drama ikan terbang.
"Mereka membuatku malu," gerutu Ara yang sudah masuk ke dalam mobil. Dia memesan taksi online yang kebetulan titiknya dekat dengan kampusnya.
Di dalam perjalanan Ara menghubungi asisten Mike dan bertanya mengenai masalah yang terjadi.
Dia harus menuntut Zester untuk membersihkan namanya sekarang.
Saat Ara sampai apartemen, gadis itu dibuat terkejut karena keluarganya datang.
"Surprise!" pekik Megan.
"Ibu?" Ara terlihat senang dan langsung berlari memeluk ibunya. "Kapan datang?"
"Dari tadi, ibu ada pekerjaan di kota," jelas Megan.
"Ayah dan Agam?" tanya Ara.
"Mereka sedang memasang TV baru, ayahmu beli yang lebih besar supaya bisa nonton film bareng katanya," jawab Megan.
Ara pikir keluarganya datang karena mendengar gosip tentang dirinya, ternyata dia salah.
"Kalau begitu, ayo kita masak bareng setelah itu nonton film bersama," ajak Ara.
Theo dan Agam sudah tertidur di ruang tamu setelah memasang TV baru, mereka lelah dan mengantuk karena perjalanan yang jauh.
Mereka terbangun ketika Megan membangunkan mereka untuk makan malam.
"Mandi dulu setelah itu kita makan," ucap Megan.
Agam mengucek matanya. "Aku mandi di kamar mbak Ara saja!"
"Ayah nanti menyusul," balas Theo.
Pada saat itu bel apartemen berbunyi, Theo berjalan membuka pintu karena Ara dan Megan masih mempersiapkan makan malam.
Ketika pintu terbuka, Theo melihat Zester datang dengan penampilan rapi karena ingin mengajak Ara makan malam di luar.
"Ayah mertua," panggil Zester. Dia tidak percaya akan melihat Theo lagi dalam waktu dekat.
Seolah semesta tengah membuka jalannya melamar Ara.
"Ayah mertua raimu," balas Theo.