Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 116 - Sindrom Suami



Akhirnya Ara mengikuti arahan dari mertuanya untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan, kebetulan Rebecca mempunyai kenalan dokter obygn jadi Ara diperiksa secara pribadi.


"Lama tidak bertemu, Nyonya," ucap dokter itu ketika melihat Rebecca.


"Aku membawa menantuku kemari, katanya dia telat datang bulan," Rebecca tidak mau berbasa-basi.


"Kalau begitu, langsung diperiksa saja," dokter meminta Ara untuk berbaring di bed pasien.


Dengan gugup Ara membaringkan diri, saat perutnya diolesi gel, dia merasakan dingin sekaligus geli.


Matanya kini tertuju pada layar monitor USG dan melihat bagaimana pemeriksaan atas rahimnya.


"Apa tidak merasa mual sama sekali?" tanya dokter.


Ara menggeleng. "Saya tidak merasa mual dan bisa beraktivitas seperti biasanya!"


"Sepertinya jabang bayinya pengertian pada ibunya," ucap dokter dengan seutas senyuman.


"Maksud, Dokter?" tanya Ara terkejut.


"Selamat anda akan menjadi seorang ibu," jawab dokter itu.


Rebecca sampai menangis mendengarnya, dia mengecup kening Ara dan berterima kasih karena perempuan itu telah mengandung cucunya. Hal sama dirasakan oleh Ara, dia menangis haru.


Tidak sia-sia dia dililit ular Zester setiap hari.


"Mom, jangan memberitahu siapa-siapa dulu, aku ingin memberi surprise Zee dan keluargaku," pinta Ara.


"Kita buat surprise saat pindah rumah nanti, sekarang kau harus menjaga kandunganmu, okay," Rebecca mengelus perut Ara yang masih rata.


Hari itu, Ara merasa bahagia sekali, dia mulai meminum vitamin dan susu hamil. Untuk sementara dia harus merahasiakan kehamilannya.


"Aku harus menyelesaikan kontrak iklan, Zee pasti marah kalau aku bekerja saat hamil begini," gumam Ara.


Pada saat itu, dia sudah kembali ke apartemen dan menunggu suaminya pulang kerja.


Ara tidak memasak tapi hanya memanasi makanan yang sebelumnya dibelikan oleh Rebecca.


"Kenapa Yank?" tanya Zester karena melihat Ara yang menutupi mulut dan hidungnya.


"Kau dari mana saja, Zee? Kenapa bau bawang?" Ara benar-benar mencium aroma bawang yang tidak enak.


"Bau bawang?" Zester sampai menciumi tubuhnya sendiri dan baunya memang parfum yang biasanya dia pakai.


Tidak mau membuat istrinya kebauan, Zester segera mandi tapi setelah lelaki itu keluar dari kamar mandi, Ara masih mencium bau bawang yang menyengat.


"Kau bau!" Ara masih saja protes.


"Suamimu sudah harum mewangi, Yank," Zester jadi kebingungan.


"Apa hidungmu bermasalah?"


Ara menggeleng dan berusaha menjauhi suaminya. "Kalau kau masih bau, aku tidak mau dekat-dekat!"


"Yank..." Zester benar-benar merasa frustasi. "Jatah malam ini bagaimana?"


Dari kantor dia sudah merindukan istrinya dan ingin melilit Ara lagi malam ini tapi Ara justru tidak mau dekat dengannya.


"Aku belikan tas baru ya, mau merk apa? Atau beli perhiasan baru?" Zester berusaha membujuk.


"Buat dirimu tidak bau, Zee!" pinta Ara.


Malam itu, Zester sampai mandi berkali-kali tapi Ara masih saja mencium bau bawang.


"Ada apa denganmu, Yank?" Zester merasa sedih. Dia sampai menghubungi mentornya.


Siapa lagi kalau bukan Mike, Zester menceritakan keluh kesahnya yang membuat Mike tertawa terbahak-bahak.


Tentu saja Mike sudah tahu mengenai kehamilan Ara, memang Ara tidak mengalami morning sickness tapi perempuan itu mengalami sindrom suami.


Penyakit langka yang tidak mau dekat-dekat suaminya sendiri.