Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 122 - Terapi Ala Zester



Zester memandangi wajahnya yang kusam karena jarang mandi, ini tidak bisa dibiarkan. Kalau begini caranya, anaknya nanti bisa bingung siapa yang akan dipanggil opa.


Namun, dia juga dilema. Kalau Zester mandi Ara akan menjauh, kalau tidak mandi jadi kusam.


"Zee..." panggil Ara seraya mengetuk pintu kamar mandi suaminya.


"Di depan ada ayah!"


Memang Theo menyempatkan diri untuk melihat putrinya sebelum kembali ke kampung, lelaki itu membawa buah jeruk yang banyak.


Theo mengingat kehamilan Megan yang selalu suka makan buah jeruk.


"Wah, gawat!" Zester buru-buru keluar dari kamar mandi karena dia harus menyambut mertuanya yang datang.


Ketika itu Theo masih dengan penampilan manggungnya, terlihat seperti berandalan tampan.


"Kalau ayah mertua seperti ini, orang-orang akan berpikir kalau Ara dan Agam adalah adik bukan anak," protes Zester. Dia ingin Theo berpenampilan seperti biasanya.


"Jadi, kau mau aku memakai baju batik di atas panggung?" tanya Theo tak habis pikir.


"Lagi pula sudah banyak orang yang tidak percaya kalau Ara dan Agam adalah anakku. Padahal aku ingin terlihat dewasa tapi kenapa wajahku semakin tua semakin seperti ini?"


Theo merasa frustasi karena wajahnya yang awet muda sementara Zester dengan wajahnya yang boros.


"Apa ayah mertua sekarang sedang pamer?" Zester rasanya ingin melakukan operasi plastik. "Nanti anakku jadi salah memanggil!"


Theo tergelak mendengarnya, siapa sangka dia akan mempunyai cucu, waktu cepat berlalu setelah dia dinodai oleh Megan.


"Mengenai itu, bagaimana saat hamil tua nanti Ara pindah ke kampung untuk sementara? Biar dia melahirkan di sana," Theo memberi usul.


"Mommy juga meminta untuk tinggal di mansion saja supaya banyak menjaga Ara," balas Zester.


"Kalau di kampung, satu kampung bisa menjaga Ara. Kalau perlu aku akan membuat posko darurat persalinan jadi sewaktu-waktu Ara kontraksi banyak yang membantu," jelas Theo. Dia merasa lebih unggul dari pada Rebecca.


"Ayah..." Ara mendekati ayahnya supaya tidak perlu khawatir. "Walaupun banyak yang perhatian padaku tapi aku lebih membutuhkan perhatian suamiku!"


Theo mendengus kasar karena dia memang sudah kalah, kalau begitu dia akan mengubah rencana untuk bergantian mengurus cucu saja.


"Ara tidak bisa jauh-jauh dari ketiakku ini, ayah mertua!" Zester pamer dengan ketiaknya yang bau itu.


"Astaga, suamimu itu bau sekali, Ara!" protes Theo sambil menutup hidung.


"Bau apanya? Aromanya seperti lavender," balas Ara yang membela suaminya.


Ternyata Ara sudah ikut-ikutan gila, lebih baik Theo cepat pergi karena tidak tahan dengan bau Zester yang semakin menyengat.


Sebenarnya Zester merasa gerah jadi dia berinisiatif untuk mengajak Ara berendam di bathub berdua.


"Bagaimana, Yank? Kita bisa main busa dan pijit-pijitan di kamar mandi," bujuk Zester.


"Baiklah!" Ara akhirnya setuju.


Pasangan suami istri itu berendam dengan tubuh Ara yang berada di atas tubuh Zester, menyenderkan punggungnya di badan suami memang menyenangkan.


Tapi, Ara tidak bisa tenang karena kedua tangan Zester sibuk memijit dua benda bulatnya yang sekarang mulai membesar.


"Ini terapi supaya ASI nya nanti lancar, Yank," ucap Zester penuh modus.


Ara hanya bisa melenguh dan tak lama keduanya bergulat di bathub sampai banyak air yang tumpah di lantai.


"Zee..." Ara mengelu-elukan nama suaminya. Entah kenapa dia jadi begitu bergairah, apa mungkin bawaan hamil?


Tapi, bayinya tidak boleh sering-sering dikunjungi.


"Zee, bayinya nanti bisa overdosis vitamin putihmu!"