
Keesokan pagi, Rebecca bangun dengan badan sakit semua. Sungguh gila, Mike benar-benar perkasa.
Sepertinya dia harus sering berolahraga lagi supaya mengimbangi lelaki itu.
Sialnya, Rebecca lagi-lagi melupakan anaknya.
"Zee kemarin datang?" tanya Rebecca pada kepala pelayannya.
"Iya Nyonya tapi tuan muda pergi bersama nona Ara," jawab pelayan itu.
Rebecca menghembuskan nafasnya kasar, entah apa yang ada dipikiran Ara mengenai dirinya sekarang.
"Aku akan bersiap-siap ke kantor dan biarkan Mike bangun sendiri," ucap Rebecca kemudian.
Perempuan itu bersiap-siap ke kantor dan membiarkan Mike yang masih tertidur di kamarnya.
Seperti biasa, Rebecca akan berangkat ditemani oleh beberapa pengawalnya.
Ketika Mike terbangun, dia meraba-raba ke arah sampingnya untuk mencari Rebecca tapi perempuan itu ternyata sudah tidak ada.
"Becca..." panggil Mike.
Lelaki itu mengacak rambutnya karena sudah tidur mati, ini karena dia merasa keenakan sampai lupa diri.
Tidak bisa dibiarkan Mike harus menyusul Rebecca supaya tidak terjadi berita baru lagi di kantor.
Mike harus meluruskan bahwa dia yang mengejar Rebecca dan perempuan itu sudah menerima cintanya.
...***...
Karena masih libur, Ara tidak pergi ke kampus. Semalam dia menginap di apartemen Zester dan tidur di kamar yang terpisah.
Hubungannya dengan Zester sudah sejauh ini, dia tidak menyangka kalau gaya pacarannya akan kebarat-baratan.
Walaupun mereka belum melakukan hubungan suami istri, tetap tidak benar menginap di rumah seorang pria.
Jangan sampai pak kades mengetahuinya.
"Sebaiknya Agam pindah saja sekolah di kota supaya bisa jadi tameng kalau Zee macam-macam," gumam Ara. Dia tengah sibuk membuat nasi goreng.
"Tapi, apa Agam mau, ya?"
"Kalau begini terus, aku benar-benar akan nikah muda!"
Ara tidak sadar jika Zester mendengar semuanya, diam-diam lelaki itu berdiri di belakang Ara dan memeluknya.
Terkejut, tentu saja hal itu yang dirasakan Ara tapi dia lebih geli dengan Zester yang menciumnya seperti seorang istri ditambah lelaki itu yang bertelanjang dada.
"Zee..." protes Ara.
"Kenapa? Bukankah kau ingin nikah muda? Abang ganteng sudah siap luar dalam loh," goda Zester.
"Ish, menguping ya," Ara mencoba menjauhkan diri.
"Sepertinya lebih penting pernikahan mommy dan daddy barumu!"
"Ck!" Zester berdecak karena membayangkan respon orang-orang mengenai ini terutama para karyawan dan rekan bisnisnya.
Selama ini Mike selalu bersamanya, dia bahkan suka menyuruh dan membentak asistennya jika merasa emosi.
Apa kata dunia kalau Mike alih fungsi sebagai daddy barunya.
"Sepertinya Clarisa akan naik jabatan sebagai asistenku," ucap Zester.
"Jadi, asisten Mike akan dipecat?" tanya Ara memastikan.
"Rasanya tidak etis kalau daddy ku menjadi asistenku jadi lebih baik seperti itu," jelas Zester.
Ara tidak bisa berkomentar karena pasti memang ada rasa tidak nyaman. "Kita makan nasi goreng dulu!"
Dua piring nasi goreng yang menggugah selera, Zester merindukan masakan kekasihnya itu.
"Bagaimana kalau kau magang di kantorku lagi, Yank?" tanya Zester tiba-tiba.
"Kau bisa banyak belajar di kantorku, praktek langsung tanpa teori," lanjutnya.
Ara jadi bingung, dia ingin magang tapi di posisi sekretariat. Pengalaman seperti itu jauh lebih penting.
"Atau mau di bagian pemasaran?" Zester masih berusaha membujuk supaya Ara bisa bekerja di kantornya supaya mereka bisa bertemu setiap hari.
Dengan begitu, Zester bisa mempublikasikan kalau dia tidak jomblo dan sudah mempunyai calon istri.
Belum sempat Ara menjawab, mereka justru mendapat kabar dari kantor kalau Rebecca dan Mike yang sudah terang-terangan jalan berdua.
"Haish, aku selalu kalah start dengan Mike," kesal Zester.
"Biasakan panggil daddy mulai sekarang," balas Ara dengan tertawa.