Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 45 - Akan Bertahan



Karena Ara berhasil membuat Rebecca kalah telak, Riri meminta bicara berdua dengan Zester.


Keduanya berada di ruangan lain karena Riri ingin menunjukkan sesuatu.


"Aku tidak akan menuntutmu asal kau berhenti detik ini juga, kau harus kembali ke daerah asalmu dan jangan pernah mengganggu keluargaku lagi," ucap Zester yang tidak mau memperpanjang masalah.


Riri terkekeh mendengarnya. "Kau lebih percaya pada gadis yang baru kau temui daripada aku yang selama 13 tahun setia padamu!"


"Kau pikir selama ini tidak ada yang mengejarku? Aku menolak mereka semua dan mengorbankan waktuku hanya untukmu. Jadi, ini balasannya Zee?"


Zester menghela nafasnya, dia terpaksa membuka apa yang dia ketahui selama ini sebelum bertemu dengan Ara.


"Aku tahu kau pecandu alkohol dan obat-obatan, aku tahu kau memakai uangku untuk melakukan investasi bodong yang merugi milyaran rupiah, apa aku pernah memarahimu untuk itu?" tanya Zester balik.


"Kalau bicara masalah kesetiaan, banyak kesempatanku untuk dekat dengan perempuan yang jauh lebih baik darimu tapi aku tidak tergoda karena menunggumu berubah!"


"Tapi, kau menyia-nyiakan kesempatan yang aku berikan. Kau bahkan menipuku selama ini, jangan tanya betapa marah dan kecewanya aku sekarang!"


Mendengar itu, Riri merasa tidak bisa berkutik ternyata Zester tidak sebodoh yang dia kira.


Sudah kepalang tanggung, Riri akan menggunakan rencana cadangannya sebaik mungkin. Perempuan itu mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan video Rebecca dan Ismail yang bermain serong.


"Bayangkan jika video ini tersebar, perusahaanmu pasti akan hancur Zee!"


"Jadi, lebih baik pikirkan hal yang menguntungkan bagi kita. Tanda tangani perjanjian pra nikah kita dan aku akan membebaskanmu berselingkuh!"


Riri tidak mau berbasa-basi, dia ingin cepat Zester mengambil keputusan.


Sementara Zester sendiri merasa syok, kepingan puzzle sudah mulai tersusun dan kejadian demi kejadian sungguh menyakiti hatinya.


"Kau memang licik," komentar Zester seraya mengepalkan kedua tangannya.


"Kita harus licik untuk bisa bertahan hidup jadi jangan naif, aku tunggu tanda tanganmu dan kita harus segera menyebarkan undangan pernikahan," Riri merasa kemenangan.


Perempuan itu keluar dari mansion dengan senyuman merekah, tidak ada yang bisa menghalangi langkahnya. Dia tidak mau 13 tahunnya terbuang sia-sia.


Zester masih tampak syok dan belum bisa berpikir jernih, lelaki itu tertunduk seperti ada beban berat yang ditanggungnya.


"Apa yang dikatakan dugong itu padamu?" tanya Ara cemas.


"Bukan apa yang dia katakan tapi dia menunjukkan kebenaran," jawab Zester dengan nada lemah.


Sepertinya hal itu sesuatu yang serius, Ara tidak akan memaksa Zester untuk berbicara sekarang, yang diperlukan lelaki itu pasti sebuah ketenangan.


"Semua akan baik-baik saja, aku di sini," Ara perlahan memeluk Zester dan mengelus punggung lelaki itu.


Sejenak keadaan begitu hening, Ara benar-benar tidak bertanya apapun dan membiarkan Zester tenang dulu.


"Ara..." panggil Zester kemudian.


"Iya? Apa kau sudah tenang sekarang?" Ara masih mencemaskan keadaan Zester.


"Aku melepasmu jadi jangan terlibat lagi," ucap Zester.


Sebenarnya memang itu yang diinginkan Ara tapi entah kenapa gadis itu tidak senang.


"Kenapa?" tanya Ara.


"Aku akan menghadapi masalahku sendiri jadi pergilah," pinta Zester dengan berat hati.


Ara mencoba membesarkan hatinya dan akan memenuhi janjinya sampai tuntas. "Seperti kau yang mempunyai janji, aku juga mempunyai janji sendiri. Jadi, aku akan bertahan apapun yang terjadi!"


Pernyataan Ara itu sungguh hal yang tak terduga, Zester semakin menyukai putri pak kades itu.


"Aku akan menyerahkan hidupku padamu, kau bahkan boleh meminta keperjakaanku," ucap Zester terharu. Dia akan memberi segalanya untuk Ara.


"Bisakah kau tidak bicara cabul sekarang?" tanggap Ara tak habis pikir.