
Ara memeluk tubuh suaminya yang jarang mandi, dia ingin menenangkan Zester seperti biasanya.
"Kenapa meninggalkan kami begitu saja?" tanya Ara.
"Aku merasa begitu buruk, Yank," jawab Zester.
Zester menceritakan apa yang didengarnya dari Zein dan dia jadi merasa bersalah.
"Di sini tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar," komentar Ara.
Karena tidak ada komunikasi yang baik membuat hubungan pertemanan itu putus. Jadi, tidak perlu ada yang disalahkan.
Mereka mungkin masih dalam usia labil pada saat itu.
"Ayo kembali, tidak enak kalau Zein dan Farah yang memasak tapi kita justru berduaan di sini," ucap Ara.
"Pergilah duluan, Yank," balas Zester.
Sebelum pergi, Zester ingin mengambil sesuatu di tempat rahasianya.
Kemudian dia kembali ikut memanggang daging bersama Zein.
"Setelah makan, ikutlah denganku!" ajak Zester.
"Ke mana?" tanya Zein. Sepertinya ada hal penting yang harus dibicarakan empat mata.
Jadi, mereka segera memanggang semua daging yang ada kemudian menyusunnya di meja.
Walaupun baru mengenal, Ara dan Farah terlihat sangat akrab, kedua wanita itu yang menghangatkan suasana.
Ketika selesai makan, Zester dan Zein berjalan berdua lalu bersembunyi supaya tidak ketahuan oleh istri-istri mereka.
Ternyata Zester mengajak bernostalgia saat mereka sekolah dulu, Zester mengeluarkan rokok dan sampanye yang telah dia sembunyikan sebelumnya.
"Ini kadar alkoholnya rendah jadi tidak akan sampai membuat mabuk," jelas Zester.
Zein menerima wine pemberian lelaki itu, mereka juga menyalakan rokok dan menyesapnya bersama. Dulu mereka pernah melakukan hal seperti ini saat nakal-nakalnya di sekolah.
"Apa ini tandanya kita berdamai?" tanya Zein.
Mereka menikmati benda bernikotin itu sampai tidak sadar kalau istri mereka sudah berdiri di belakang mereka.
"Ck! Ck! Jadi di sini," decak Ara yang sedari tadi mencari suaminya.
Mendengar suara istrinya, Zester langsung menoleh ke belakang dan membuang rokoknya.
"Zein yang mengajakku, Yank! Sudah aku bilang kalau aku itu tidak merokok tapi dia tetap memaksa," ucap Zester yang mengkambing hitamkan lelaki itu.
Untuk kali ini, Zein tidak berusaha membela diri, anggap saja sebagai tanda damai.
Sebenarnya Ara mau marah tapi karena takut mempengaruhi kondisi bayinya jadi dia memilih diam saja.
"Aku hanya sesekali merokok dan minum, Yank," ucap Zester supaya Ara percaya.
"Tapi, jangan dijadikan kebiasaan," balas Ara.
"Abang ganteng berjanji," Zester kesenangan karena istrinya tidak marah.
"Nanti kita babymoon di villa puncak, okay!"
"Villa?" tanya Ara.
"Tempatnya dingin dan tenang, kau pasti suka, Yank," jelas Zester.
Diam-diam Zester memang merencanakan untuk perjalanan babymoon, sebelum bayi mereka lahir, Zester masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan istrinya.
Perjalanan itu dilakukan ketika usia kandungan Ara memasuki usia tujuh bulan. Perut perempuan itu sudah besar dan bayinya begitu aktif bergerak di dalam sana.
"Jangan menyusahkan mommy, kita harus jadi tim yang solid," Zester berbicara pada bayinya sebelum pergi.
Ara hanya bisa mengusap perut dan merasakan tendangan bayinya. "Semoga suasana puncak bisa membuat baby K tenang!"
Ya, anak mereka berjenis kelamin laki-laki dan Zester sudah menyiapkan nama dengan inisial K.
Kamar bayi sudah dibuat serba warna dan dekorasi superhero. Barang-barang dan perlengkapan bayi pun sudah disediakan oleh opa dan oma baby K yang tidak sabar menunggu cucu pertama mereka launching.