
Megan dan Theo akan tinggal sementara sampai Zester benar-benar terbangun, dengan begitu mereka bisa kembali ke kampung dalam keadaan tenang.
Memang kesan awal saat bertemu, Rebecca sangat memalukan. Tapi, pertemuan kedua mereka Rebecca sudah bisa menguasai diri.
Apalagi Megan mengajaknya berselfie berdua.
"Nanti saya upload di instagram dan tag nama ibu presdir, ya," ucap Megan setelah selesai berselfie.
Rebecca sampai berkaca-kaca karena terharu.
"Semenjak main film dulu, saya selalu menyempatkan diri beli tiket premiere nya di bioskop," ungkap Rebecca.
"Bahkan chanel youtube terus saya ikuti, makanya saya tahu Ara-Ara Kimochi. Dan kisah cinta dengan pak kades sungguh membuat tersentuh," tambahnya.
"Wah, saya merasa tersanjung loh," balas Megan.
Theo merasa tidak dianggap di sana, padahal dia juga berperan aktif dalam kisah percintaan itu.
"Kalau begitu ibu presdir tahu kan kalau putra dan putri kita mengalami awal cinta yang masih segar. Jadi, saya harap ibu juga mengawasi mereka walaupun anak ibu itu perjaka tua," ucap Theo menimpali.
Megan menyenggol suaminya karena mengatai Zester sebagai perjaka tua.
"Tidak apa-apa, anak saya kan memang perjaka tua. Tenang saja, saya pasti akan menjaga Ara seperti anak saya sendiri," balas Rebecca. Sepertinya dia tidak jadi kembali ke Jerman kalau begini caranya.
"Anak saya itu masih fokus kuliah loh, Bu," tambah Theo supaya Rebecca tidak main-main dengan janjinya.
"Serahkan semua pada saya, lebih baik kita membicarakan calon cucu kita nanti," Rebecca tampak antusias.
"Sebagai pihak perempuan, tentu saja cucu saya akan ikut saya dan yang paling penting saya akan memberinya nama yang pas di lidah," sahut Theo.
"Wajahnya itu kalau bisa jangan terlalu ikut pihak laki-laki," lanjutnya.
"Ya ampun kalau itu kan tergantung hasil cetakannya Zee dan Ara, jadi kita tidak bisa request," timpal Rebecca.
Megan yang mendengar itu, hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. "Kenapa membahas masalah cucu yang bahkan belum dicetak? Daripada itu, calon laki-lakinya masih belum sadarkan diri!"
Mungkin Zester memang berumur panjang, bersamaan dengan itu asisten Mike melapor kalau Zester sudah membuka mata.
Mereka semua langsung menuju ruangan ICU berada, di dalam sana Zester tengah diperiksa oleh dokter. Jadi, tidak ada yang boleh masuk.
Setelah pemeriksaan, Zester dipindah ke ruang rawat inap VVIP.
"Tuh kan, udah cinta mati itu calon menantu kita," ucap Megan.
Theo hanya diam saja, dia tidak merespon karena fokus melihat Zester yang masih linglung. Di alam bawah sadar lelaki itu hanya ada Ara dan Ara.
Sementara Ara sendiri sudah kembali kuliah dengan pengawalan ketat dan hal itu tidak membuatnya nyaman karena teman-temannya jadi merasa takut.
Padahal mereka ingin menanyakan kondisi Ara, mereka ingin berkunjung tapi dilarang oleh gadis itu jadi teman-temannya hanya bisa menunggu Ara kembali ke kampus.
Pada saat masih berbincang dengan teman-temannya, salah satu bodyguard menghampiri Ara dan memberi kabar kalau Zester sudah sadar.
Tanpa babibu lagi, Ara minta diantar ke rumah sakit. Dia ingin melihat Zester, jantungnya berdebar kencang dengan kebahagiaan yang membuncah karena kabar baik itu.
Setelah melewati perjalanan yang panjang, Ara sudah sampai. Gadis itu berlari sambil menghubungi ibunya untuk menanyakan ruangan Zester.
"Di sini," ucap Megan sambil melambaikan tangannya ketika melihat Ara. Dia keluar ruangan supaya anak gadisnya tidak tersesat.
Di lantai VVIP tidak boleh ribut oleh karena itu para bodyguard dari keluarga Zester menunggu di luar.
"Ibu, bagaimana keadaan Zee?" tanya Ara.
"Lihat saja sendiri di dalam," Megan membuka pintu supaya Ara bisa masuk.
Di dalam ruangan itu, Zester sudah tampak mendudukkan diri karena kesadarannya sudah kembali penuh.
"Ara..." panggil Zester yang melihat pujaan hatinya datang. Dia sudah mendengar kabar kalau pak kades sudah merestui mereka.
"Sini peluk abang ganteng!"
Namun, Ara tampak menjaga jarak di antara mereka.
"Kenapa?" tanya Zester bingung.
"Kata ayah Theo jaraknya harus satu meter," jawab Ara sambil menangis.
Zester tidak percaya mendengar hal itu, apalagi Theo benar-benar mengawasi mereka di sana. Direstui malah jadi jaga jarak dan tidak leluasa.
"Aku bukan Covid, jadi tidak perlu jaga jarak. Ayo sini!" bujuk Zester.
"Ehem! Ehem! Ehem!" Theo otomatis berdehem keras.