
"Yank..." panggil Zester karena istrinya tak kunjung keluar dari kamar mandi.
Tak lama Ara keluar dengan hanya memakai bathrobe saja.
"Sekarang giliranku," Zester buru-buru masuk kamar mandi atau dia akan menerkam Ara begitu saja.
Selagi menunggu suaminya, Ara menyalakan lilin aroma terapi supaya suasana di kamar pengantin itu terasa menenangkan dan tidak tegang.
Siap tidak siap, dia harus melakukan tugasnya malam ini.
Tak lama, Zester keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang melilit pinggangnya. Tubuh telanjangnya bisa Ara lihat jelas di sana.
"Kau lapar? Aku akan memesan beberapa makanan," Ara jadi gugup. Dia meraih gagang telepon di atas nakas.
Namun, tangannya ditahan oleh Zester yang mendekat.
"Aku memang lapar tapi ingin memakan sesuatu yang lain," Zester mengangkat pelan tubuh istrinya untuk naik ke atas ranjang.
Dengan hati-hati Zester membaringkan Ara, malam ini tidak ada pengganggu lagi jadi Zester harus menjadikan malam pertamanya berkesan.
"Ara..." Zester mendekat dan mencium bibir istrinya.
Ciuman itu begitu lembut sampai membuat Ara mengalungkan kedua tangannya ke leher lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.
"Kau takut?" tanya Zester. Dia mendengar suara jantung Ara yang tampak ketakutan.
"Ini pertama kalinya bagiku jadi..." Ara tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena bibirnya kembali dicium oleh Zester.
"Ini juga pertama kalinya untukku, Yank," balas Zester.
"Tapi, aku akan berusaha lembut supaya kau tidak merasa sakit dan..."
"Apa kita perlu menunda memiliki anak?"
Zester harus menanyakan ini, walaupun finansialnya bisa memenuhi kebutuhan anaknya nanti tapi dia harus memikirkan mental ibunya. Tidak mudah bagi wanita untuk mengandung, melahirkan apalagi membesarkan anak yang tanggung jawabnya besar.
"Aku..." Ara masih gamang.
"Jangan memakainya," cegah Ara. Sepertinya dia tidak mau menunda, dia percaya pada Zester.
Ara perlahan membuka tali bathrobe yang dipakainya, setelah tali itu terlepas tubuhnya yang memakai lingerie bisa terlihat di mata suaminya.
Seperti mendapat santapan lezat, gairah Zester langsung naik seketika.
"Kau membuatku gila, Yank," Zester kembali mencium Ara dan tangannya dengan nakal melempar bathrobe kemudian meraba tubuh yang tidak pernah dijamah siapapun itu.
Rasanya sangat aneh tapi Ara harus menahannya.
"Apa kau tahu gunanya lingerie yang kau pakai ini?" Zester menariknya sampai sobek karena kain lingerie yang tipis.
"Kenapa disobek?" Ara berusaha menutupi tubuhnya tapi semua sudah terlambat karena Zester tengah memindai tubuhnya tanpa sehelai benang pun.
Zester menelan ludahnya beberapa kali, dia harus memastikan Ara siap menerima ularnya. Jadi dia berusaha memberikan pemanasan.
"Zee..." Ara berusaha menjauhkan tangan Zester yang menjamah tubuhnya.
"Rileks, Yank," pinta Zester supaya Ara tenang.
Ara menganggukkan kepalanya, dia akan menahan rasa aneh yang menjalar di tubuhnya, satu persatu permukaan kulitnya disentuh oleh bibir Zester.
Gadis itu hanya bisa memejamkan matanya dan meremas seprai tapi saat kakinya dibuka oleh suaminya, dia jadi panik.
"Jangan..." Ara ingin menolak.
Namun, sedetik kemudian tubuhnya seperti terkena serangan listrik karena Zester bermain di bawah sana. Posisi ini membuat Ara begitu malu.
Zester merasa ularnya akan meledak, ketika merasa Ara sudah siap, lelaki itu membuka handuk yang dipakainya.
"Aaaa...." Ara berteriak kaget melihat ular Zester berdiri tegak dengan urat-urat kemarahan yang menghiasi benda panjang itu.
"Keren, 'kan?" tanya Zester pamer. "Ini bentuk yang sudah dimodifikasi, bersertifikat halal!"