
Badan Ara bergetar karena Zester mencium punggungnya yang terbuka apalagi mendengar kata-kata rayuan maut dari lelaki itu.
"Apa saat ini kau cosplay menjadi vampire?" tanya Ara sambil memperbaiki rambutnya lagi.
"Kenapa kau suka menciumku, hubungan kita kan belum resmi. Kalau pun sudah resmi pacaran, aku tidak mau pacaran dengan gaya barat!"
Zester yang lama tinggal di luar negeri pasti paham dengan apa yang dia bicarakan.
"Tubuhku bergerak sendiri, apalagi bibirku ini," ucap Zester memberi alasan.
"Apa kau merasa risih?"
"Aku merasa tidak nyaman kalau kau terus menciumku tanpa permisi," jawab Ara.
Zester melepas jas yang dia pakai kemudian memakaikannya ke tubuh Ara. "Maafkan aku, aku tidak bisa menahan diri. Lain kali, aku akan permisi dulu!"
"Oh iya, bagaimana keadaan bayi Bu Ismail?" tanya Ara mengalihkan pembicaraan.
"Keadaannya baik, aku membelikan rumah baru di kota. Semua fasilitas sudah disiapkan oleh mommy ku," jelas Zester.
"Jadi, hubunganmu dengan mommy mu sudah membaik? Baguslah," tanggap Ara jadi ikut senang.
"Kasus Riri juga sudah naik ke persidangan, aku mungkin akan sibuk bolak balik ke pengadilan karena harus menjadi saksi," ucap Zester memberitahu.
"Bagiku waktu berdua denganmu seperti ini sangatlah berharga!"
"Kalau aku ada waktu, aku pasti akan ikut melihat persidangan," balas Ara.
"Apa aku boleh memelukmu sekarang?" tanya Zester yang ingin mendekap tubuh Ara. "Udaranya semakin dingin!"
"Dasar modus, kemarilah," Ara melingkarkan tangan Zester ke perutnya.
Dan lelaki itu mendekap Ara dari belakang.
"Jangan dekat dengan pria lain apalagi dia jauh lebih muda dariku!"
Ara hanya tersenyum kecil mendengarnya, Zester sudah memperlakukannya seperti kekasih sungguhan.
"Tentang magang, kau boleh melanjutkannya kalau kau mau," tambah Zester.
"Akan aku pikirkan. Aku merasa tidak nyaman karena seperti mempunyai hak istimewa," balas Ara yang tidak mau dipandang sebelah mata.
"Masalah itu, aku sudah membalas sapaan para karyawanku. Mereka juga tidak terlalu menggunjingku dari belakang lagi," ucap Zester curhat. Dia merasa jadi dirinya sendiri jika bersama Ara.
"Setidaknya impoten yang kau derita tidak seburuk itu, bukan?" Ara juga merasa Zester banyak perubahan dari pada dulu saat awal bertemu.
"Yang paling aku syukuri adalah bisa bertemu denganmu," Zester menggigit telinga Ara dan mulai bergerilya di sekitar leher gadis itu. "Ini bukan tanpa permisi tapi bibirku seperti bergerak sendiri!"
"Kalau begitu, sebaiknya kita pulang karena sepertinya bibir itu semakin tidak bisa dikondisikan," ucap Ara menahan geli.
Dari pada khilaf Zester mengakhiri semuanya, dia mengantar Ara pulang ke apartemen gadis itu tapi dia tidak ikut turun karena dia akan pulang ke apartemen lamanya.
"Banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan, kalau aku tidur di gedung sama denganmu, aku takut akan mengganggumu," ucap Zester.
"Itu jauh lebih baik karena aku juga banyak tugas, sampai bertemu lagi, Zee," Ara ingin membuka pintu mobil tapi ditahan oleh lelaki itu.
"Ada apa lagi?"
"Berjanjilah untuk tidak melepas gelang pasangan kita," pinta Zester.
"Aku tidak akan melepasnya," balas Ara.
"Dan salam perpisahan..." Zester mengusap bibir gadis itu. "Tok, tok, tok! Permisi..."
"Apa aku boleh menciumnya?"