Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 54 - Clear Man



Kasus ini pasti akan cepat tercium oleh dewan direksi jadi malam itu juga Zester memerintahkan asisten Mike untuk membuat rapat darurat supaya tidak ada kabar simpang siur.


Kali ini Rebecca selaku presiden direktur juga hadir dalam rapat.


"Zee..." panggil Rebecca ketika melihat putranya.


Zester hanya membalas tatapan sang mommy tanpa mau berkata apa-apa, dia lelah dan menyimpan tenaganya untuk rapat.


Semalaman dia tidak tidur karena harus mengurus segala sesuatunya, walaupun kecewa berat tapi Zester tetap akan melindungi Rebecca supaya skandalnya tidak terbongkar.


"Silahkan masuk, Bu Presdir," Asisten Mike mempersilahkan Rebecca untuk masuk ke ruangan rapat.


Di dalam sana jajaran dewan direksi sudah berkumpul.


Hari ini Zester yang memimpin rapat, lelaki itu mencoba menjelaskan kejadian yang terjadi tanpa menyeret nama Rebecca supaya dewan direksi kembali memihak sang mommy.


Zester yang biasanya bersikap angkuh, hari itu berbesar hati meminta maaf atas masalah yang terjadi. Kedepannya dia akan berusaha sebaik mungkin supaya hal sama tidak terulang.


Rupanya sikap Zester disambut baik oleh para dewan direksi.


Sekali lagi, Rebecca mendapat tamparan keras, anak semata wayang yang selama ini kurang perhatian dan kasih sayang darinya justru melakukan segala cara untuk melindunginya.


"Zee, mommy ingin bicara," ucap Rebecca saat rapat selesai.


Zester yang ingin keluar dari ruangan rapat itu tapi dia urungkan niatnya karena ingin mendengar apa yang ingin disampaikan Rebecca.


"Entah harus bagaimana lagi caraku meminta maaf padamu, mommy benar-benar menyesali semua yang telah terjadi," ucap Rebecca dengan isak tangis.


"Kalau mommy ingin meminta maaf, minta maaflah pada Bu Sutopo dan istrinya Ismail," balas Zester.


Lelaki itu kemudian melanjutkan lagi langkahnya menuju pintu keluar.


"Daddy pasti bangga padamu!"


Zester mendengar kalimat itu sebelum benar-benar keluar, sejenak dia berhenti kemudian berjalan ke ruangannya untuk mengambil kunci mobil.


Dia jadi memikirkan Ara, Zester berniat ingin menjemput gadis itu ke kampus.


"Tuan, pekerjaan masih banyak," asisten Mike mencoba mengingatkan.


"Ini pekerjaan yang tidak bisa diatur ulang," ucap asisten Mike sambil berusaha mengejar Zester yang akan masuk ke dalam lift.


"Biarkan aku mengejar cintaku dulu, Mike. Uangku tidak bisa membeli hal itu," Zester berbicara sambil memencet tombol lift supaya pintunya tertutup.


Zester rela menunda pekerjaan dan tidak istirahat, demi menjemput Ara.


Mungkin ini yang dinamakan gejala malarindu.


Sementara Ara yang baru menyelesaikan beberapa mata kuliahnya tengah makan di kantin kampus bersama teman-temannya.


Tiba-tiba Rendy ikut bergabung dan berniat mengantar Ara pulang.


"Kau sepertinya tadi naik taksi," ucap Rendy.


Memang benar, Ara berniat menerima tawaran Rendy dan memperjelas hubungan mereka supaya lelaki itu tidak berharap hubungan lebih dari teman.


"Aku menggunakan motor hari ini, tidak apa-apa, 'kan?" tanya Rendy saat sampai di parkiran.


"Tidak apa-apa, malah bisa lebih cepat karena bisa nyelip-nyelip saat macet," jawab Ara.


Rendy memberikan satu helm pada Ara tapi saat gadis itu akan memasangnya ke kepala, dari belakang ada yang merebut helm itu.


Otomatis Ara menoleh ke belakang dan mendapati sudah ada Zester yang berdiri dengan tatapan galak.


"Pak direktur," panggil Ara.


Zester mengerutkan keningnya. "Kenapa memanggilku seperti itu? Aku jadi seperti bapak-bapak!" protesnya.


"Zee, kenapa kau kemari?" tanya Ara yang langsung merubah panggilannya.


Zester mendekat seraya menunduk dan berbisik di telinga Ara. "Aku sekarang sudah menjadi laki-laki bersih!"


"Bersih?" tanya Ara bingung.


"Bersih dari perempuan mana pun jadi hanya kau yang paling dekat denganku sekarang," jawab Zester.