Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 133 - Lebih Tenang



Walaupun masih kangen pada anaknya, Ara tidak bisa bersama dengan baby Kaizen sepuasnya karena Theo terus saja ingin bersama cucunya.


"Ayo kita melihat sawah, opa sudah belikan stroller!" Theo meletakkan baby Kaizen di stroller yang baru dia beli.


"Kita pasang payungnya!"


Ternyata Mike dan Rebecca sudah ada di sawah duluan, di sana Mike menunjukkan Rebecca bagaimana susahnya dia dulu menanam beras cinta.


"Jadi suamiku jalan mundur-mundur begitu?" tanya Rebecca.


"Iya sayang, pinggangku sampai encok," jawab Mike.


Rebecca ingin tahu bagaimana rasanya menanam padi tapi kakinya tergelincir saat akan masuk ke sawah, beruntung Mike sigap menangkap istrinya.


Sekilas mereka seperti melakukan adegan di film bollywood.


"Aku selalu jatuh cinta padamu, Becca," Mike mencium istrinya di tengah sawah.


"Iuhhhh..." Theo yang melihat segera menjauhi pematang sawah. Jangan sampai baby Kaizen melihat opa dan oma bulenya yang tidak tahu tempat itu.


Bukan hanya Mike dan Rebecca saja yang bernostalgia. Tapi, Ara dan Zester juga melakukan hal yang sama.


Bedanya mereka bernostalgia di telaga yang ada di hutan.


Di sana keduanya mandi berdua dan menikmati air pegunungan yang dingin.


"Apa kau kedinginan, Yank?" tanya Zester.


"Abang ganteng siap menghangatkan!"


"Ish, modus!" Ara mendekat dan memeluk suaminya.


Lalu mereka berciuman sambil berenang bersama.


"Kau sudah lebih tenang, 'kan?" tanya Zester memastikan.


Ara menganggukkan kepalanya. "Ternyata memang kita memang butuh uluran tangan orang lain karena tidak bisa melakukan semuanya sendiri!"


"Kau sepertinya juga tidak takut air lagi, Zee?"


"Hm, ini semua berkat dirimu, Yank! Kau dan Kai adalah anugerah terindah," ucap Zester.


Setelah kepulangan mereka dari kampung Suka Maju, Rebecca membantu Ara untuk mencari baby sitter dan asisten rumah tangga yang bisa tinggal di rumah.


"Mommy sudah memeriksa profilnya, baby sitter ini sudah profesional dan untuk ART mommy akan meminta beberapa pelayan mansion untuk membantu di sini," jelas Rebecca.


"Mommy memang selalu bisa diandalkan," sahut Ara. Sekali lagi dia harus bersyukur mempunyai mertua yang mengerti dirinya.


"Kau juga harus mempersiapkan diri untuk acara Zee nanti, sekarang kau harus membiasakan diri bertemu dengan orang-orang penting," jelas Rebecca lagi.


"Aku ragu bisa memantaskan diri atau tidak," balas Ara meragu.


"Semua butuh proses dan belajar, Ara-Ara Kimochi pasti bisa melakukannya," Rebecca memberi semangat.


Yah, Ara memang harus belajar untuk masuk ke kehidupan Zester mulai sekarang dan seterusnya.


Karena dibantu mengurus bayi dan pekerjaan rumah, tugas Ara jadi terasa ringan, dia bisa meluangkan waktu untuk perawatan dan pertemuan penting yang harus dia hadiri sebagai nyonya Schweinsteiger.


Baby Kaizen juga semakin pintar, bayi itu sudah bisa duduk dan merangkak sebentar lagi pasti akan belajar berjalan.



"Sini sayang, datangi mommy!" Ara menepuk tangannya supaya baby Kaizen merangkak mendatanginya.


Baby Kaizen yang duduk mulai merangkak dan mendatangi Ara yang siap menggendongnya.


"Pintarnya, dapat ciuman kalau begini," Ara menciumi bayinya yang membuat baby Kaizen tertawa.


Wajah bayi itu semakin hari semakin menggemaskan, dulu dia selalu saja mengatai Zester bule lokal, sekarang Ara justru mempunyai bayi bule lokal itu sendiri.


"Ayo kita bertamu ke rumah Shiren!" ajak Ara.


Mendengar nama Shiren, Kaizen langsung menggoyangkan badannya kesenangan.


_


Anak tetangga lebih menggoda