
Ketika Zester sampai di rumah baru mereka, ternyata acara sudah selesai jadi hanya sisa keluarga saja yang ada di sana.
"Aku terlambat," gumam Zester buru-buru keluar dari mobil.
Namun, ketika dia membuka pintu rumah tiba-tiba listrik langsung padam.
"Yank..." panggil Zester karena gelap.
Tidak ada suara dan suasana jadi sangat hening, Zester sampai merinding apalagi ada Agam di rumah barunya.
"Kakak ipar, apa yang ada di belakangmu itu?" Agam mendekat dengan membawa senter yang mengarah ke atas wajah.
"Argh! Kau membuatku kaget, adik ipar!" teriak Zester.
"Jangan menakut-nakutiku, ya. Di mana istriku?"
Agam tidak menjawab, dia justru mematikan senter dan berlari menjauh.
"Yank..." Zester kembali memanggil Ara seraya membuka ponselnya.
Pada saat itu, ponselnya berdering dan nomor Theo melakukan panggilan.
"Iya, ayah mertua. Sebenarnya kalian ada di mana?" tanya Zester.
"Berjalanlah ke belakang rumah!" perintah Theo.
Belum sempat Zester bertanya lagi, panggilan sudah terputus. Terpaksa Zester harus berjalan ke belakang rumahnya dengan bantuan cahaya dari ponsel.
"Sebenarnya surprise apa?" gumam Zester.
Ketika lelaki itu sampai di belakang rumah, lampu langsung menyala dan semua yang ada di sana meniup terompet.
"Ada apa ini? Aku kan tidak sedang ulang tahun," ucap Zester yang merasa bingung.
Ara mendekat dan memberikan suaminya sebuah kotak hadiah. "Semuanya akan terjawab di sini!"
Tidak mau bertanya lagi, Zester segera membuka kotak hadiah pemberian istrinya.
Ada foto USG dan alat tes kehamilan dengan dua garis merah.
"Ini?" Zester dengan ragu mengambil foto USG dan mencoba menerawangnya. "Kenapa fotonya buram?"
"Memang seperti itu," Ara mendekat dan memeluk suaminya. Dia sangat merindukan Zester karena untuk beberapa waktu yang lalu mereka harus menjaga jarak.
Sebenarnya Ara masih mencium bau bawang tapi kali ini dia akan mencoba menahannya.
Theo sampai menggelengkan kepalanya. "Dia selalu membuatku emosi!"
"Untuk hari ini, jangan memarahi menantumu. Kita sebaiknya pergi biar hari ini menjadi momen mereka berdua," ucap Megan.
Keduanya pergi yang diikuti oleh Mike dan Rebecca.
Sebelum pergi, Mike memberikan kode dengan mengacungkan jempolnya.
"Apa maksudnya? Kalian semua jadi aneh," komentar Zester.
Sepertinya surprise yang Ara susun tidak berjalan sesuai rencana, Zester tidak mengerti tentang foto USG yang dia tunjukkan.
"Itu hasil jerih payahmu setiap malam melilitku," jelas Ara.
Perlahan Zester mulai mengerti yang dimaksud istrinya.
"Apa ini maksudnya bentuk zigot dari semburan ularku?" tanya Zester.
Ara menganggukkan kepalanya. "Sebelumnya aku minta maaf karena tidak memberitahumu dari awal, aku masih terikat kontrak iklan jadi aku harus menyelesaikannya!"
"Dan untuk bau bawang yang aku cium darimu, itu karena bawaan bayi!"
Lidah Zester seperti kelu, dia membalas pelukan istrinya. Perasaannya sudah campur aduk, sebelumnya dia sudah memikirkan hal-hal tidak penting.
Ternyata istrinya tengah hamil.
"Aku marah," ucap Zester. Kalimat pertama setelah yang dia ucapkan pada istrinya. "Semua keluarga sudah tahu tapi aku justru yang paling terakhir!"
"Aku harus menyelesaikan semua urusanku dan sekarang aku akan fokus padamu dan calon bayi kita," Ara berusaha membela diri.
Walaupun terlambat, malam itu Zester berteriak sekencang-kencangnya dan memberitahu dunia kalau dia akan menjadi seorang daddy.
"Istriku hamil!"
"Aku memang keren!"
Teriakan Zester sampai terdengar di rumah Zein, lelaki itu membuka pintu belakang rumahnya.
"Apa jodoh anakku sudah ada, Zee?" tanya Zein.
"Jodoh Ndasmu!" balas Zester.