Pawang Tuan Impoten

Pawang Tuan Impoten
PTI BAB 99 - Agak Memaksa



Ara merasa kebingungan, dia bingung akan dibawa kemana apalagi Clarisa memintanya berganti baju.


Kini gadis itu sudah berganti baju dengan dress selutut tanpa lengan berwarna putih.


"Kenapa harus memakai dress seperti ini?" gumam Ara.


Ternyata mobil yang membawa Ara berhenti di bandara, ada sebuah pesawat jet pribadi yang menunggu gadis itu.


"Apa ini?" Ara kembali bertanya.


Namun, seperti sebelumnya pertanyaan Ara tidak ada yang menjawab.


Ara naik ke pesawat jet pribadi itu yang ternyata membawanya ke Bali.


"Bali?" gumam gadis itu ketika sudah sampai di bandara Pulau Dewata.


Ada mobil jemputan yang menunggu Ara dan membawa gadis itu ke sebuah penginapan, penginapan yang dulu pernah Ara kunjungi saat kecil.


Ternyata diam-diam Zester membeli penginapan itu dan merenovasi serta merawat tempat pertemuannya dengan Ara dulu.


"Zee tidak akan reka ulang untuk tenggelam, 'kan?" gumam Ara yang jadi merasa cemas.


Semua rasa cemas itu sirna ketika Ara berjalan menuju pantai penginapan, pantainya lebih terawat dari pada dulu.


Di sana Zester sudah menunggunya, lelaki itu memakai baju serba putih seperti dirinya.


"Zee..." panggil Ara.


Zester merentangkan kedua tangannya tapi Ara justru memukul dada lelaki itu.


"Kau tidak menghubungiku dan tidak datang ke acara wisudaku tapi justru menculikku kemari," Ara menangis karena saking kesalnya.


"Maafkan aku, Yank," ucap Zester seraya menangkap tangan itu kemudian memeluk Ara.


"Tidak, aku tidak akan memaafkanmu," balas Ara.


Walaupun begitu Ara membalas pelukan Zester dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang lelaki yang menjalin kasih selama dua tahun bersama dirinya itu.


"Apa kau tahu bulan apa ini?" tanya Zester.


"Bulan?" gumam Ara sambil mencoba mengingat. "September?"


"Apa hari ini peringatan hari kematian daddy mu?"


"Harinya sudah lewat dan aku sudah memperingatinya bersama keluarga baruku," jelas Zester.


"Aku sudah membelinya dari tahun lalu tapi aku menunggu waktu yang tepat untuk memberikannya!"


Ara melihat Zester mengeluarkan kotak cincin ketika dibuka ada sepasang cincin dengan sekrup di dalamnya.


"Cincin ini tidak bisa dipakai sendiri, pasangan kita harus memakaikannya satu sama lain," jelas Zester lagi.


Pertama Zester memakaikannya pada jari manis Ara kemudian memutar sekrupnya.


"Sekarang giliranku?" Ara melakukan hal sama seperti yang Zester lakukan sebelumnya.


Ketika cincin itu sudah terpasang di jari masing-masing, Zester membuang alat pengunci sekrupnya ke lautan.


"Kenapa dibuang? Kita akan kesulitan melepas cincinnya nanti," protes Ara.


"Ini artinya belenggu dan cinta abadi," balas Zester.


"Aku melamarmu, Yank!"


"Lamarannya kok seperti pemaksaan begini," Ara kembali protes.


Zester menarik pinggang gadis itu supaya tubuh mereka bisa menempel. "Karena aku tidak mau ditolak dengan alasan apapun, kita menikah September ini!"


"A... apa? Ini terlalu mendadak!" Ara jadi panik.


Bukannya dia tidak mau hanya saja membuat pesta pernikahan membutuhkan waktu yang cukup lama. Kecuali memang Zester sudah mempersiapkan semuanya dari awal.


"Aku ingin memulai September yang bahagia bersamamu," lanjut Zester.


Zester ingin mencium Ara tapi ditahan oleh gadis itu. Tangan Ara menahan bibir Zester yang sudah maju.


"Aku masih terkejut dengan lamaran dan rencana pernikahan mendadak ini," ucap Ara.


"Jadi, kau menolakku, Yank," Zester memasang wajah memelas.


"Bukan begitu," Ara benar-benar bingung.


"Apa aku harus menanam padi dan memproduksi beras cinta supaya kau menerimaku?" Zester berusaha berakting sedih sebaik mungkin.


Ara jadi tidak tega, dia menjauhkan tangannya yang membuat Zester bisa leluasa menciumnya.


"Menikah September ini, okay," ucap Zester yang masih berusaha membujuk Ara setelah melepaskan ciuman.